Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #27

RENCANA AWAL

Cahaya matahari menerobos masuk lewat ventilasi dan celah gorden yang terbuka, sorot cahaya itu merayap perlahan hingga akhirnya berhenti tepat di wajah Bintang yang masih terlelap.

Perlahan, jemarinya bergerak. Alisnya berkerut sesaat, seolah mimpi sedang berusaha mempertahankannya agar tetap tinggal. Lalu dengan berat yang tak kuasa, kelopak matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Sorot mata yang baru terbangun itu tampak kosong selama beberapa detik, seperti seseorang yang masih mencari potongan jiwanya yang tertinggal di alam bawah sadar.

Bintang bangkit dari tidurnya, mengelus pelupuk matanya. Pandangannya mengitari sekitar, nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. Dia meregangkan kedua tangannya dengan dada yang membusung, mengerang, menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri, sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu.

Tiba-tiba Bintang terdiam, membeku di tempat begitu melihat Gina sedang menyapu di ruang keluarga. Gadis itu mendongak ketika mendengar suara pintu kamar Bintang terbuka. Mereka saling bertatapan, tubuh mereka langsung tegang. Tidak ada pergerakan, tidak ada sapaan.

“Lo ngapain di sini?!” Nada dinginnya akhirnya memecah keheningan yang tercipta beberapa menit lalu.

Gina terlihat kaget tapi berusaha tenang, membiarkan dirinya menjadi puncak pelampiasan emosi yang sudah Bintang pendam.

“KELUAR!” Bintang menghampiri Gina, menarik kasar tangannya untuk pergi. “Gua udah kasih peringatan sama lo berkali-kali dan lo masih bebal?! Apa kurang jelas yang udah gua bilang kemarin-kemarin?! Hah?!”

Gina terdiam, masih tetap dalam posisinya. Kini jarak mereka dekat. Gadis itu berusaha tenang meski pergelangan tangan kanannya terasa sakit dan panas karena cengkeraman tangan Bintang yang sangat keras, sampai buku-buku jari laki-laki itu memutih. Gina hanya menatap Bintang, dalam satu orbit lurus, sampai akhirnya meluruhkan seluruh emosi dari dalam diri Bintang.

“Lo tahu nggak, kalau tsunami nggak lahir dari ombak yang terlihat di permukaan, tapi lahir dari gelombang di dasar laut yang saling bertubrukan, mereka saling berkumpul dan ketika dilepaskan, dia datang bukan lagi sebagai riak tapi sebagai gelombang raksasa yang menghancurkan semua. Begitu juga dengan lo, amarah lo terlalu lama di pendam di dasar hati lo, sampai mereka bertubrukan dan saat lo meluapkan semuanya—kata-kata yang lo ucapin, perlakuan lo, berubah jadi puing-puing yang melukai dan tanpa lo sadari, banyak orang yang terluka.”

Jawaban Gina kontan membuat Bintang berubah bisu dalam sedetik. Hingga melenyapkan keduanya dalam keheningan. Tangan yang semula mencengkeram kuat, perlahan melonggar dan terlepas.

“Gitu? Lo tahu, kan, gua pernah mukulin kakak kelas karena udah ganggu Abang gua?”

Gina mengangguk. “Iya, gue tahu. Gue tahu lo bakalan ngelakuin apa pun demi keluarga lo dan gue juga tahu, lo nggak bakalan pernah berani lakuin hal itu sama gue, bahkan sama perempuan mana pun.”

Tangan Bintang mengepal kuat di samping tubuhnya.

“Loh, Bintang sudah bangun, Nak?” beruntungnya Tante Heni muncul sebelum terjadinya pertengkaran. “Eh—iya, kenalin ini Regina—dia bakalan kerja di sini, bantuin Tante beres-beres rumah. Kan, Tante Minggu depan juga sudah mulai kerja, jadi pekerjaan rumah sekarang yang urus Regina,” Tante Heni berpaling menatap Gina. “Regina, kenalin, ini Bintang. Keponakan saya.”

Gina menyungging senyum ramah. “Iya, Bu.”

“Tante, kenapa, sih, harus dia?” Bintang buka suara. Tidak terima.

“Emang kenapa? Regina ini dikirim dari yayasan. Om Deni sebelumnya sudah telepon ke Yayasan Bina Mandiri dan Regina yang ditugaskan di sini. Rumahnya juga nggak jauh dari sini, hanya terhalang tiga rumah aja. Jadi Regina nggak nginep, kerjanya sampai jam lima sore.”

“Kenapa nggak yang lain aja? Emangnya Om Deni nggak bisa request?”

Tante Heni cekikikan geli. “Kayak apa aja request. Kamu pikir beli sesuatu bisa request?”

Bintang tidak menjawab. Tatapannya sinis tertuju ke Gina. Sebelum Tante Heni banyak bertanya, Bintang berbalik dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Diikuti tatapan tanda tanya Tante Heni menatap punggungnya tapi tidak melakukan apa-apa.

Tante Heni berpaling menatap Gina. “Ya udah, jangan diambil hati, ya, perkataan Bintang. Dia emang begitu, tapi anaknya baik banget kok.”

Gina tersenyum kikuk, mengangguk ramah. “Iya, Bu.”

***

“Gimana progresnya hari ini? Apa yang kamu kerjain?” Fuji di balkon apartemennya sambil menatap jalanan di bawah yang terlihat padat merayap oleh kendaraan. Semilir angin malam menyapu lembut rambutnya dengan deretan gedung di hadapannya berdiri angkuh, memamerkan jendela-jendela bercahaya yang berkedip laksana kunang-kunang yang kehilangan arah. Tangan kanannya bertumpu pada pagar balkon yang mulai dingin digigit embun, sementara tangan kirinya menggenggam ponsel yang menempel di telinganya. Tatapannya melayang jauh, menembus lautan cahaya kota yang tak pernah benar-benar tertidur.

Fuji menarik napas panjang, ponsel itu sudah menempel di telinganya sejak lima menit yang lalu dengan seseorang di balik telepon sana yang terus menjawab pertanyaan yang dilempar Fuji untuk segera dijawab.

“Ini baru hari pertama aku kerja, Kak. Hari ini aku cuma bersih-bersih rumah, kayak nyapu, pel, belum ke yang lainnya, apalagi masuk kamar. Hari ini baru perkenalan doang.”

Fuji menyugar rambutnya, berbalik dan menyandarkan punggungnya di pagar balkon. Satu tangannya berkacak pinggang. “Kakak nggak mau tahu, besok pokoknya kamu harus udah jalanin misi. Kamu tahu sendiri, kan, kalau waktu kamu itu mepet. Kecuali, kalau kamu mau tambah waktu jadi dua Minggu buat kerja di rumah itu.”

“Ih! Ogah banget! Satu hari aja serasa mau mati. Kakak tahu, kan, di rumah itu ada Bintang? Otomatis aku ketemu sama dia.”

“Ya ... bagus, dong.”

Terdengar helaan napas panjang di balik telepon sana. “Nggak ada bagusnya, ya, Kak! Yang ada tadi aku hampir di usir sama dia. Judes banget, nggak suka!”

“Ya udah, pokoknya kamu nggak usah peduliin Bintang, deh! Fokus kerja aja udah. Mau Bintang judes kek, tengil kek, nggak usah kamu peduliin.”

“Iya.”

“Ya udah kalau gitu, Kakak tunggu progres selanjutnya besok. Pokoknya dalam waktu satu Minggu, kamu harus udah bisa bongkar seisi rumah buat cari barang itu.”

“Ih! Iya, Kak.”

“Ya udah, sekarang kamu istirahat. Siapin tenaga buat besok kerja lagi. Nanti besok Kakak pulang, mau dibawain apa?”

Lihat selengkapnya