Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #28

ANTIPODA SEGALA HARAPAN

Seorang pengamen naik ke dalam bus sambil membawa ukulele dan menyanyikan lagu dari Tulus berjudul hati-hati di jalan, dengan suara teriakan yang berhasil memecah gendang telinga, belum lagi suara petikannya tidak selaras dengan lirik yang dinyanyikan.

Lintang mengusap telinganya. Harusnya dia bisa naik bus yang lebih bagus, sayangnya hari ini semuanya penuh. Tersisa hanya bus ekonomi saja yang kualitasnya sebanding dengan harga. Hari ini Lintang memutuskan untuk segera pulang ke Jakarta karena sudah waktunya libur kenaikan kelas dan ada kabar gembira sekaligus bersejarah dalam hidupnya, kalau Lintang berhasil lolos masuk ke klub Timnas U-16. Sebuah kehormatan besar untuk Lintang bisa melangkah lebih maju menggapai cita-citanya menjadi pemain sepak bola.

Hingga akhirnya bus berhenti di terminal Jakarta. Dia turun dari bus, sambil menggendong tas ransel yang cukup besar bertumpu di punggungnya. Dia naik taksi dan tujuan pertamanya adalah sebuah pemakaman umum. Tiap kali Lintang pulang ke Jakarta, tempat yang pertama kali dia kunjungi adalah pemakaman—tempat di mana kedua orang tuanya dan Neneknya di semayamkan, sebelum benar-benar pulang bertemu dengan adik-adiknya.

Meski rasa lelah, penat dan mengantuk menjalar, tapi Lintang tetap paksakan karena itulah satu-satunya cara mengobati rasa rindu yang tertahan lama. Sampai akhirnya taksi berhenti di sebuah pemakaman umum di Jakarta Timur. Lintang turun dari mobil. Pandangannya menyapu sekitar, ada sakit yang menjalar ke dalam rongga-rongga perasaan. Sulit untuk dilupakan, sulit untuk dihilangkan.

Dia melangkah masuk ke area pemakaman, mengucapkan salam. Tempat yang pertama dia kunjungi adalah makam Ayah. Dia duduk di samping gundukan tanah yang dipenuhi rumput hijau di atasnya, tangannya menyentuh ukiran nama di batu nisan yang terasa sangat dingin.

“Ayah ... Lintang pulang. Lintang ... Lintang kangen sama Ayah. Ayah lagi apa di sana?” setetes air mata jatuh membasahi pipinya, suaranya terdengar parau. “Lintang ada kabar baik buat Ayah, kalau Lintang sekarang udah berhasil masuk ke Timnas, Yah. Sebentar lagi Lintang bakal buktiin kalau Lintang bisa jadi pemain sepak bola, sama seperti yang Ayah minta.”

Lintang menunduk, air matanya jatuh dan langsung diseka dengan kasar. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan Ayah, tapi dia juga tidak bisa membohongi perasaannya kalau dia benar-benar sangat kehilangan.

Berbagai cerita mengalir, diiringi air mata dan sesekali tawa. Dulu, tiap kali Lintang cerita tentang berbagai hal, pasti orang pertama yang menanggapi cerita Lintang adalah Ayah, ketika Mama sibuk memasak sementara Lintang menunggu bersama Bintang, bercerita tentang masa-masa yang sudah dilewati. Ayah selalu antusias mendengar cerita anak-anaknya, bahkan Ayah selalu saja bertanya, ada cerita apa hari ini?

Ayah, bagaikan tempat pulang kedua setelah Mama dari lelahnya realita kehidupan yang tidak akan pernah mencela bahkan menghakimi. Pelukannya yang hangat dengan rasa aman, menjadi satu-satunya tameng besar sebagai pelindung dari segala ancaman.

Namun sekarang, tameng itu sudah hancur, dikubur bersama raga yang tidak akan pernah lagi bisa jumpa meski di belahan dunia mana pun.

Sudah hampir tiga puluh menit Lintang mencurahkan seluruh isi hati dan segala emosi. Dia menaburkan bunga dan sebotol air di gundukan makam Beni. Mengusap batu nisan dengan lembut. “Ayah ... Lintang bener-bener minta maaf. Tolong maafin Lintang, Ayah. Lintang pamit.”

Dia mengusap air mata dengan lengan jaketnya, beranjak dan menatap lekat makam itu beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah pergi.

Langkah demi langkah mengantarkan Lintang menyusuri nisan demi nisan yang dibalut keheningan mengungkung kuat perasaan. Dari arah berlawanan, seorang perempuan melangkah pelan, membiarkan angin memainkan helaian rambutnya yang menari lembut di balutan kain yang menutupi sebagian kepalanya.

Mereka berpapasan, hingga kedua pasang mata itu saling bertaut.

Tatapan itu tidak menyimpan kebencian, juga bukan keakraban. Namun, ada perasaan ganjil yang merambat perlahan di dada. Mereka hanya saling memandang selama beberapa detik, tidak satu pun dari mereka mengucap sepatah kata.

Sebelum akhirnya sama-sama memalingkan wajah, membiarkan langkah kembali bergerak seakan pertemuan itu hanyalah kebetulan yang tak memiliki arti.

Namun, hati sering kali lebih keras kepala daripada akal.

Baru beberapa langkah menjauh, perempuan itu menghentikan desir ragu yang sejak tadi berlarian di dalam dadanya. Perlahan dia menoleh ke belakang. Pandangannya jatuh pada punggung Lintang yang terus melangkah menjauh, diselimuti cahaya senja yang membuat siluetnya tampak begitu sendu.

Entah mengapa, punggung itu terasa begitu akrab. Sebelum akhirnya dia mengembuskan napas lirih dan kembali menghadap ke depan, berusaha menepis segala pertanyaan yang bercokol di relung kepalanya.

Pada detik yang nyaris bersamaan, ketika perempuan itu telah kembali meluruskan pandangannya, Lintang justru menghentikan langkahnya sejenak. Perlahan dia memutar badan, sorot matanya menemukan perempuan itu bersimpuh di pusara Beni.

Rasa penasaran itu menjelma seperti ombak yang diam-diam mengikis karang; tak gaduh, tetapi tak pernah berhenti. Lintang mengernyit heran. “Itu siapa? Kok ... kenapa ziarah ke makam Ayah?”

***

Seisi rumah disibukkan dengan berbagai aktivitas, salah satunya Tante Heni dan Gina yang sibuk menata makanan di atas meja.

“Kok, Bang Lintang belum datang, Bu?”

“Palingan ke makam dulu. Biasanya Lintang selalu ke makam dulu sebelum ke sini.”

Gina mengangguk-angguk. “Jadi, Bang Lintang berhasil masuk klub Timnas, ya, Bu?”

“Iya, alhamdulillah. Mana dia itu nggak pernah bilang lagi. Kayak waktu itu, dia juara piala gubernur dan nggak bilang sama sekali. Tahu-tahu dia telepon, kabarin kalau dia juara. Terus dia kirim makanan juga—banyak banget. Dikirim juga ke Ayahnya waktu masih di lapas.”

“Keren, ya, Bang Lintang. Diam-diam bisa buktiin kalau dia bisa.”

“Iya, tapi, kan, harusnya bilang, kan? Jadi kita bisa support gitu, atau lihat pertandingannya supaya tambah semangat.”

Gina menyungging senyum. “Mungkin nggak mau ngerepotin kali, Bu.”

“Iya, sih, kayaknya.”

Gina menengadah, melongokkan kepalanya ke arah ruang keluarga, tidak ada Bintang di sana, hanya ada Gemilang yang sibuk meniup balon ditemani Om Deni sibuk menyiapkan party popper.

Sementara Bintang memilih berdiam diri di kamar, mengurung diri dengan berbagai ingatan kelam yang mendadak menerobos masuk ke dalam celah perasaan.

Dia ingat betul, dulu, kejadian itu tepat sebelum menyambut kedatangan Lintang dan sekarang Bintang takut kejadian itu kembali terulang.

Lihat selengkapnya