Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #29

SENJATA MAKAN TUAN

GINA sudah berada di depan rumah Oma Sarni. Hari ini adalah jadwal hari libur Gina tepatnya hari Minggu, dia sengaja ke sana karena sesuai perjanjiannya dengan Fuji kalau dirinya hanya bekerja selama satu Minggu. Tidak kurang dan tidak lebih. Tepat hari kemarin adalah hari terakhir dia bekerja. Jadi hari ini, Gina akan mengundurkan diri sebagai asisten rumah tangga.

Ada mobil Om Deni terparkir di pelataran, tapi dia tidak melihat motor Bintang di sana.

“Halooo, Kak Regina!” Gemilang baru tiba bersama Tante Heni dan langsung memeluk Gina.

“Loh ... Regina, kan, hari ini jadwal kamu libur,” Tante Heni bingung. “Kamu lupa?”

“Nggak, Bu, saya ke sini ada sesuatu yang mau saya sampaikan ke Ibu sama Bapak.”

“Ya udah, ayo masuk,” Tante Heni menggiring Gina masuk ke dalam. “Yuk, duduk,” Tante Heni mempersilakan Gina duduk di seberangnya. “Ada apa? Apa yang mau kamu sampaikan? Eh ... sebentar—Gemi, Tante minta tolong, panggilin Om Deni dong ke sini.”

“Ok, Tante.” Gemilang berlari ke dalam rumah, menghampiri Om Deni yang sedang berada di halaman belakang. “Om, dipanggil Tante Heni.”

Om Deni yang sedang memotong tanaman, berbalik. “Di mana?”

“Di ruang depan.”

Om Deni mencuci tangan di kran dekat kolam kecil, dikibaskan di samping tubuhnya dan melangkah memenuhi panggilan Tante Heni. Seraut wajahnya kebingungan ketika melihat ada Regina di sana. “Eh ... loh ... Regina bukannya libur, ya?”

Gina mengangguk ramah, tersenyum. “Iya, Pak. Tapi ada yang mau saya sampaikan ke Bapak dan Ibu.”

Om Deni duduk di samping Tante Heni. “Apa itu?”

Gina menelan ludah, memandang Om Deni dan Tante Heni bergantian, memainkan jari-jemarinya, menandakan kalau dia gugup bukan kepalang. “Jadi gini, Pak, Bu ... sebelumnya saya berterima kasih karena Ibu dan Bapak udah bersedia menerima saya bekerja di sini dan saya juga sangat senang karena Ibu dan Bapak sangat baik kepada saya. Tapi saya minta maaf, kalau hari ini saya akan mengundurkan diri.”

Kontan tante Heni dan Om Deni terkejut. Keduanya saling bertatapan sekejap, sebelum akhirnya kembali menatap Gina. “Loh ... kenapa, kok, mendadak? Apa ada yang salah dari kita, atau bagaimana?”

“Atau saya terlalu keras, ya?” Tante Heni terlihat kebingungan. “Atau ada yang nggak sesuai sama perjanjian kita di awal?”

Gina menggeleng. “Nggak, Pak, Bu. Tujuan saya mengundurkan diri karena mau ikut Kakak saya kerja ke luar kota, karena katanya Kakak saya lagi butuh teman lagi buat bantu-bantu di sana. Maaf kalau saya lancang kasih kabar ini mendadak, soalnya baru semalam Kakak saya telepon.”

Tante Heni mengesah panjang, sementara Om Deni mengernyitkan dahi.

“Tapi, kok, pihak yayasan nggak ada kabarin saya kalau kamu mau resign?”

Gina gelagapan mendengar pertanyaan Om Deni yang sama sekali tidak ada dalam skenario yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh Mutia. Dia bingung dengan jawabannya dan dia takut, kalau kebohongannya selama ini terbongkar.

Dia terdiam sejenak, menyusun jawaban dengan sangat hati-hati di dalam kepalanya. Dia menghela napas. “M—mungkin nanti ada kabarin Bapak. Saya sudah kasih kabar juga ke pihak yayasan tadi sebelum ke sini dan mereka setuju. Katanya, nanti besok kabarin Bapak soalnya hari ini, kan, hari libur.”

Om Deni mengernyit. Pandangannya berhasil membuat Gina ciut. Sorot mata penuh selidik itu menusuk tajam ke arah Gina, seolah menyadari kalau ada yang Gina tutupi.

Sementara Tante Heni menghela napas pasrah, dia tidak bisa menahan, tidak bisa juga memaksa. “Ya udah kalau gitu. Kalau emang itu keputusan kamu, nggak apa-apa.” Om Deni mengernyit menatap Tante Heni. “Padahal kalau kamu kasih tahu minimal H-2, pasti kita langsung hubungi pihak yayasan buat segera cari pengganti kamu. Soalnya, kan, posisi saya sekarang kerja juga dan pasti nggak bakalan semudah itu untuk cari pengganti kamu. Tapi nggak apa-apa, saya nggak bisa paksain juga.”

Gina menundukkan kepalanya. Sebenarnya ada perasaan bersalah mengikat kuat dadanya, dia merasa bersalah karena sudah membohongi keluarga Bintang padahal mereka sudah sangat baik memperlakukan Gina selama dia bekerja di sana. Gina merasa bersalah karena seharusnya dia tidak semena-mena mengambil keputusan sebelah pihak seperti ini.

“Ya sudah, terima kasih banyak, ya, Regina, atas kontribusi kamu selama bekerja di sini. Maaf kalau kami—terutama saya—ada salah sama kamu.”

Gina menggeleng. “Nggak ada salah sama sekali, Bu. Ibu sama Bapak sangat baik, justru saya yang minta maaf sudah mengundurkan diri secara mendadak seperti ini. Saya berterima kasih sekali untuk kebaikan Ibu dan Bapak selama ini.”

“Nggak apa-apa, Regina. Nanti besok kamu ke sini dulu, ya? Untuk soal gaji kamu, saya diskusi dulu sama suami—”

Gina menggeleng cepat. “Nggak, usah, Bu. Nggak apa-apa. Lagian saya nggak berhak dapat itu karena saya bekerja hanya satu Minggu.”

“Loh, nggak bisa begitu. Ini hak kamu.”

Gina menggeleng dengan seulas senyum tulus. “Nggak apa-apa, Bu, saya ikhlas bekerja di sini.”

Sementara Om Deni tidak berkomentar sama sekali. Sedari tadi tatapannya menyelidiki gerak-gerik Gina, cara dia berbicara dan berhasil membuat Gina semakin menciut.

“Kalau gitu, saya pamit, ya, Bu, Pak. Sekali lagi terima kasih banyak dan saya mohon maaf sebesar-besarnya.”

“Nanti saya hubungi pihak yayasannya,” sahut Om Deni dengan tatapan masih sama. Suaranya terdengar dingin namun menusuk.

“I—iya, Pak,” Gina kikuk. Dia beranjak, membungkuk sopan. “Kalau begitu, saya permisi. Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.” Tante Heni beranjak. Mengantar Gina sampai di ambang pintu, menatap punggung gadis itu yang berjalan menjauh.

Bertepatan Gina keluar pagar, dia berpapasan dengan Lintang yang baru saja tiba dengan motornya. Mereka saling bertatapan sekejap, sebelum akhirnya Gina melempar senyum dan anggukan ramah. “Mari, Bang.”

Lintang membalas senyuman Gina. “Mari.” Dia menghentikan motornya di pelataran, membuka helm dan turun dari motor. Pandangannya bertemu dengan Tante Heni yang masih berdiri di ambang pintu menatap kepergian Gina. “Lagi ngapain, Tan?”

“Itu, lagi lihatin Regina. Dia baru aja ngundurin diri.”

Lintang mengernyit heran, menyalami tangan Tante Heni. “Ngundurin diri? Kenapa?”

Tante Heni mengangguk. “Katanya mau ikut sama Kakaknya kerja. Nggak tahu, deh, ngedadak banget.”

Mereka masuk ke dalam rumah dan melihat Om Deni masih duduk, dengan tatapan kosong namun terlihat kebingungan bahkan tidak menyadari adanya Lintang di sana.

“Om!” Om Deni tersentak kaget, ketika Lintang menepuk bahunya. Lintang mengernyit heran, ujung bibirnya menarik senyum menyeringai. “Kenapa, sih, ngelamun gitu?”

“Ah! Kamu ini, kagetin Om aja.”

Lintang cekikikan. “Lagian ngelamun gitu. Ngelamunin apa?”

“Nggak. Itu ... apa ... soal Regina,” Om Deni menatap tante Heni yang duduk di seberangnya. “Kok kayaknya ada yang aneh, ya, sama dia?”

Tante Heni mengernyit heran. “Aneh gimana?”

“Gerak-gerik dia aneh aja dilihat-lihat. Masa dia resign sesuka hati. Kita, kan, ambil dia dari yayasan, pasti ada prosedurnya juga dong?”

Lintang ikut bergabung, duduk di samping Om Deni. “Yayasan?”

Pandangan Om Deni dan Tante Heni tertuju ke Lintang, mereka mengangguk.

“Om sama Tante tahu, nggak? Kalau Regina itu adik kelas Lintang di SMP dan satu kelas sama Bintang.”

Tante Heni dan Om Deni tersentak. “Loh ... serius? Nggak ada Regina atau Bintang bilang sama Om.”

“Tapi, Tante pernah lihat Bintang sama Regina itu kayak berantem, waktu pertama Regina kerja di sini. Tante nggak banyak tanya ke mereka, karena tante kira Bintang cuma nggak suka aja ada orang asing yang kerja di sini.”

“Kalau nggak salah mereka tuh satu bangku juga. Coba tanya aja sama Bintang. Mana dia?” Lintang menengadah.

“Tadi pagi keluar, belum pulang,” jawab Tante Heni. “Katanya mau temuin Aris sama Teguh, buat nanya-nanya sekolah.”

“Oh.” Lintang mengangguk-angguk.

Sementara Om Deni memalingkan wajah. Perasaan janggalnya semakin kuat menerobos masuk ke dalam kepala dan hatinya. Jari telunjuk kanannya mengetuk armrest. Suasana mendadak hening, tidak ada suara selain detik jarum jam yang bergerak. Lintang dan Tante Heni saling bertatapan dengan sorot mata penuh tanda tanya, mereka berpaling menatap Om Deni yang menampakkan seraut wajah serius, sebelum akhirnya Om Deni buka suara.

“Gini, deh ... Ma, tolong ambilin hp Papa di kamar. Sekarang Papa mau telepon pihak yayasan.”

“Loh, kata Gina libur, Mas?”

“Ah, nggak ada liburnya kalau cuma angkat telepon.”

Lihat selengkapnya