LINTANG memandang langit segelap jelaga yang dipenuhi bintang-bintang kecil yang berkilauan mengelilingi bulan purnama yang bulat sempurna. Duduk sendirian di teras rumah, ditemani satu cangkir kopi dan sepiring gorengan hangat adalah perpaduan yang sangat nikmat.
Lintang menyeruput perlahan cangkir kopinya, menikmati malam dengan alunan musik lawas yang diputar di radio. Melakukan sesuatu yang biasa Beni lakukan dulu—menyendiri dengan tenang tanpa gangguan, hanya melamun dan menikmati suasana sekitar tanpa pergerakan. Setelah menghabiskan waktu melamun, biasanya dia akan masuk rumah dengan wajah kembali sumringah.
Namun, suasana tenang itu digoyahkan dengan seseorang yang berdiri di depan pagar. Perawakannya tinggi besar, memakai pakaian tertutup serba hitam. Bahkan, wajahnya sama sekali tidak terlihat. Lintang yang sedang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, refleks terduduk tegak. Memicingkan matanya dengan tubuh condong ke depan, menatap lebih jelas seseorang yang tiba-tiba berdiri di sana.
“Woi! Siapa itu? Cari siapa?” teriaknya, namun tidak ada pergerakan sama sekali dari orang itu. Dia hanya diam mematung, menatap Lintang. Hingga akhirnya, Lintang beranjak, bergegas menghampiri orang itu. “Woi! Maling lu, ya?!” Namun, tanpa disangka, orang itu justru berlari pergi. Lintang sempat mengejar hingga keluar pagar, tapi dia kehilangan jejak.
“Siapa, sih, itu? Mau ngapain juga?” pandangannya menengadah sekitar, barangkali ada yang mencurigakan. Namun tidak ada apa-apa di sana, selain suasana sepi, sunyi dan senyap.
Alhasil, Lintang kembali masuk ke dalam, mengunci pagar dan merapikan piring gorengan serta cangkir kopinya dibawa masuk ke dalam. Terpaksa dia harus menyudahi aktivitasnya menatap langit indah dan memilih menonton televisi di dalam rumah.
Televisi menyala dan menampilkan acara talk show. Pandangan Lintang menatap layar televisi, tapi pikirannya tidak ada di sana. Melanglang buana ke tempat lain. Dia masih penasaran dengan orang asing yang berdiri di depan rumahnya tadi.
***
Mutia baru saja keluar dari toilet yang berada di kamarnya. Berjalan menuju meja rias dan mengoleskan krim perawatan wajah, sambil bersenandung pelan. Setelah selesai, dia beranjak, menekan sakelar lampu yang ada di sebelah pintu hingga ruangan berubah temaram yang dihasilkan dari lampu tidur.
Mutia naik ke atas kasur, menarik selimut dan bersiap untuk tidur. Namun, baru saja memejamkan mata, suara notifikasi ponselnya bunyi. Dia menyambar ponsel itu di atas nakas dan mendapat pesan dari seseorang mengirim sebuah foto.

Mutia menyungging senyum lebar. Memperbesar foto Lintang hingga memperlihatkan wajahnya yang tidak terlihat jelas, karena foto itu diambil dari jarak jauh.
Dia membalas pesan itu.
“Ok, good job.”
Jari-jemarinya menggulir layar, mengirim pesan ke Fuji.
“First piece of evidence, gue yakin rencana kali ini nggak bakalan gagal.” Lalu Mutia mengirim foto yang sebelumnya dikirim dari nomor misterius itu.
Setelah mengirim foto itu ke Fuji, dia menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Menghela napas sebelum akhirnya menutup mata, dengan seringai senyuman terukir di bibirnya.
***
“Kak, beneran aku di sini dulu?”
Fuji memutar bola matanya malas karena mendengar pertanyaan yang sama dari Gina berkali-kali. Dia sedang duduk di depan meja rias, memakai krim wajah dan lotion ke kedua tangannya.
“Berapa kali kamu tanya itu, sih, Dek? Capek tahu nggak, Kakak jawabnya.”
Gina duduk di atas kasur, memandangi Fuji yang sibuk mengoleskan lotion. “Aku, kan, cuma mau pastiin doang. Lagian aku khawatir Ibu sendiri di rumah. Emang Kakak nggak khawatir?”
“Nanti Kakak bawa Ibu ke sini juga. Kamu nggak usah bawel, deh. Emang kamu mau didatangin terus sama Pak Deni?”
Gina menggeleng. “Nggak mau, takut.”
“Ya makanya, nanti kamu tinggal di sini sama Kakak sama Ibu juga. Lagian sekolah kamu, kan, deket sama kantor Kakak. Kalau kamu pulang pergi dari sekolah ke rumah, bisa-bisa telat tiap hari.”
Gina cemberut.
Fuji beranjak ketika selesai dengan aktivitasnya, dia menghampiri Gina, duduk di sampingnya. Ponselnya yang di atas nakas bergetar. Tangannya mengulur mengambil ponsel itu dan ada pesan masuk dari Mutia.
Mengirim foto.
“First piece of evidence, gue yakin rencana kali ini nggak bakalan gagal.”
Fuji menyungging senyum lebar. Tangannya menari lihai di atas layar.
“Good job. Pokoknya gua serahin semuanya sama lo.”
Fuji kembali menyimpan ponselnya di atas nakas, menarik selimut lalu berbaring membelakangi Gina. “Udah, kamu tidur. Tadi, kan, Kakak udah telepon Ibu juga buat tinggal bareng di sini dan Ibu mau.”
“Tapi—”
“Nggak usah banyak tapi-tapi, udah buruan tidur!”
Wajah Gina semakin menekuk dengan bibir manyun, mau tidak mau dia berbaring, menarik selimut sampai menutupi hampir seluruh tubuhnya. Dia tidak langsung tidur, tetapi melamun karena rasa takut dan gelisah mengikat kuat perasaannya malam ini. Dia berusaha memejamkan mata, berharap segala pikiran dan ketakutannya ikut terlelap dimakan alam bawah sadar.
***
Pagi ini langit terlihat cerah, kicau burung saling beradu sahut-menyahut terdengar indah. Lintang sedang merapikan rambut serta bajunya di pantulan cermin di kamarnya, menyemprotkan parfum ke bajunya. Hari ini dia sudah rapi, memakai kemeja berwarna hijau army berpadu dengan celana hitam dan akan berangkat menuju Malang.
Setelah sudah siap, dia menarik tas ranselnya yang penuh dengan pakaian, mengaitkan tas itu bertumpu di punggungnya. Dia keluar kamar, berhenti sejenak di ruang tengah, pandangannya menengadah sekitar dengan seulas senyum rikuh.
“Mama ... Ayah, Lintang pamit pulang ke Malang, ya?” dia menundukkan kepala, tanpa sadar, setetes air mata turun membasahi pipinya. Dia langsung menyeka kasar air mata itu. Kembali dia melangkah menuju pintu utama, mengunci pintu rumah.
Sementara dari kejauhan, ada seseorang yang mengintip di balik pohon di luar pagar. Seseorang dengan perawakan besar dan memakai pakaian serba hitam, sama persis seperti seseorang yang malam itu ada di depan rumah Lintang. Seseorang itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya, meng-klik ikon kamera dan memotret Lintang dari kejauhan.
Dia menatap hasilnya, jari-jemarinya dengan lihai menari di atas layar, mengirim foto itu ke seseorang yang dia beri nama Nona Bos. Pandangannya kembali menatap Lintang yang bergerak berbalik badan, refleks seseorang itu menarik tubuhnya bersembunyi di balik pohon besar.
Sementara Lintang sudah duduk di atas motornya, mengenakan helm dan menyalakan mesin. Sebelum akhirnya melaju pergi setelah sebelumnya kembali turun untuk mengunci pagar.
Seseorang itu meringsak keluar dari balik pohon, menatap punggung Lintang yang menjauh, hanya menyisakan jejak asap dari motornya yang membumbung di udara.
***
Sebuah ruangan meja makan pagi itu terlihat berisik oleh suara musik dari pengeras suara di dalam ruangan apartemen Fuji. Gina sibuk menata makanan di atas meja. Fuji sibuk mondar-mandir dengan handuk melilit rambutnya. Sementara Mutia sibuk makan goreng pisang di meja makan dengan kaki di angkat satu sambil bermain ponsel.
Ponsel Mutia berdering, menampakkan nomor yang diberi nama Baron mengirim sebuah pesan.

Mutia segera membuka pesan Baron, seringai senyuman tertarik di bibirnya yang sedang mengunyah. Disimpan pisang goreng yang sedang dia makan, mengutak-atik ponselnya untuk membalas.