Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #31

KEADILAN PORAK-PORANDA

Dunia itu bukan tempat keadilan, dunia hanya tempat pengkhianatan. Kita hidup di dunia hanya sebentar, yang kekal hanya di akhirat dan di sanalah tempatnya keadilan.

***

Sehari setelah penemuan kotak kayu di rumah Beni yang selama ini Fuji cari dengan segala perjuangan dan berbagai macam drama, akhirnya dia dan Mutia memilih menemui Mbah Darmo untuk meminta penjelasan, karena dia tidak mau banyak waktu terbuang. Fuji dan Mutia duduk di ruang tamu, menunggu Mbah Darmo yang kata Mbok Ijah sedang ke kampung sebelah menghadiri acara.

Mutia melirik Fuji yang sejak awal hanya terdiam dengan seraut wajah tegang dan tidak lepas memegang kotak kayu dengan tangan gemetar. Hampir setengah jam berlalu, akhirnya Mbah Darmo muncul dengan mengenakan kemeja batik dan celana bahan hitam. Mutia dan Fuji berdiri, menyalami tangan Mbah Darmo dan Mbah Darmo duduk di seberang Fuji.

“Sudah lama kalian di sini?” Mbah Darmo melirik kotak kayu di tangan Fuji. “Udah ketemu kotak kayu itu?”

Fuji gelagapan, dia menyimpan kotak itu di atas meja. “Iya, Mbah. Baru semalam saya temuin di rumah Almarhum Mas Beni.”

Tangan Mbah Darmo terulur, mengambil kotak kayu itu. “Sudah lihat dalamnya?” Mbah Darmo meneliti ukiran aksara Jawa yang terukir memenuhi kotak, mengelus perlahan dengan jari-jemarinya, lalu membuka kotaknya. “Benar, kan, apa saya bilang?” Mbah Darmo melirik Fuji dan Mutia.

Fuji dan Mutia mengangguk.

“Mbah ... pelakunya anaknya Mas Beni, kan, Mbah? Anak sulungnya?” Tanpa aba-aba Fuji langsung menembak pertanyaan, membuat Mutia refleks mencubit pahanya.

“Sabar! Jangan langsung bilang begitu!” bisiknya.

Fuji menatap tajam Mutia. “Gue yakin kalau—”

“Iya—” Mbah Darmo memotong—mengangguk-angguk. “Sebenarnya sewaktu saya bilang cari kotak kayu ini, sudah ada gambaran kalau yang melakukannya adalah anaknya sendiri. Ya—tapi saya tidak mau jadi fitnah kalau tidak ada bukti. Sepenglihatan saya, anaknya pendiam bahkan seolah-olah tidak peduli tapi justru menyimpan dendam yang sangat mematikan.”

“Pembunuh berdarah dingin,” celetuk Fuji. Mutia melirik, melihat ekspresi Fuji yang menahan emosi.

Mbah Darmo mengangguk. “Bisa dibilang begitu. Diliputi dendam memang bisa membunuh akal sehat.”

“Maaf, Mbah, kalau boleh tahu, dengan cara apa, ya, Lintang mengirim santet itu?” Mutia bertanya hati-hati. “Padahal, kan, Pak Beni ada di penjara dan setahu kami, Lintang nggak pernah jenguk sama sekali.”

“Biasanya Segoro Teluh itu bisa dikirim dari makanan, foto, bahkan pakaian yang biasa korban pakai. Tapi paling umum itu lewat media makanan karena langsung ke inti yaitu dimakan korban dan langsung bereaksi. Setelah berhasil makanan itu masuk ke dalam tubuhnya, yang dirasakan korban pasti seperti sakit biasa, tapi setelah diperiksa ternyata tidak terdeteksi adanya penyakit medis.”

Jawaban itu tentu saja membuat Fuji dan Mutia tercengang, karena sama sekali tidak menyangka kalau yang dikatakan Mbah Darmo sama seperti yang diderita Beni.

Fuji mengertakkan giginya, tangannya mengepal kuat. “Pantesan adik saya pernah cerita katanya Lintang pernah kirim makanan ke Ayahnya di lapas. Ternyata udah diguna-guna.” Suara Fuji terdengar emosional.

“Eh, iya, ya? Gue baru ingat cerita Rere yang itu.”

“Sialan!” Fuji tanpa sadar mengumpat.

Mbah Darmo menarik seringai senyuman di ujung bibirnya. “Sekarang sudah terlanjur, korban sudah tidak ada, kan?”

Mutia mengangguk, sementara Fuji masih terdiam. Enggan bersuara dan enggan bereaksi apa-apa. Pikirannya kalut, perasaannya dipenuhi amarah yang menggebu kuat naik ke ubun-ubun, seperti gunung berapi yang siap menyemburkan lava panas.

“Memang kalau korban masih ada, bisa diselamatkan, Mbah?”

“Bisa saja, kalau Tuhan menghendaki. Tapi kita sebagai manusia hanya bisa berusaha ikhtiar dan Tuhan yang menentukan. Jalan satu-satunya, kita harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan meminta perlindungan. Pesan saya hanya satu—” Mbah Darmo menatap Fuji. “Terutama sama kamu, Fuji—” Fuji tersentak, menatap Mbah Darmo. “Jangan pernah menyimpan dendam. Biarkan Tuhan yang membalas. Dunia itu bukan tempat keadilan, dunia hanya tempat pengkhianatan. Kita hidup di dunia hanya sebentar, yang kekal hanya di akhirat dan di sanalah tempatnya keadilan.”

***

Hampir dua hari Mutia tidak bisa menghubungi Fuji, nomornya tidak aktif dan selama itu pula Fuji tidak masuk kerja karena mengambil cuti mendadak. Alhasil karena khawatir, Mutia segera ke apartemen Fuji dan seperti biasa, disambut oleh Gina. “Kakak kamu ke mana, sih? Kok nomornya nggak aktif sampai dua hari? Nggak punya paket kuota atau gimana?”

Gina mempersilakan Mutia masuk, lalu duduk di sofa.

“Emangnya Kak Fuji nggak kasih tahu Kak Mutia?”

“Kasih tahu apa?”

Gina celingukan, memastikan Ibunya yang sedang di kamar mandi belum keluar. Lalu dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Mutia, sorot matanya lekat dengan sangat hati-hati dia berkata. “Kak Fuji ke Malang, katanya mau temuin Bang Lintang.”

Mutia tercengang. “Loh, kapan?”

“Kemarin.”

“Naik apa dia?”

Gina mengedikkan bahu. “Kereta mungkin.”

Mutia mengempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Dia mengesah panjang, menyugar rambutnya frustrasi.

Mutia kembali menarik tubuhnya duduk tegak. “Ya udah kalau gitu, makasih, ya, Re,” Mutia celingukan. “Mana ibu?”

“Lagi mandi.”

“Ya udah kalau gitu, Kakak pamit, ya? Kabarin Kakak kalau ada kabar soal Kak Fuji.”

Gina mengangguk. “Iya, Kak.”

Mutia beranjak, diikuti Gina. Berjalan menuju pintu. “Ya udah, titip salam buat Ibu, ya?”

“Ok, siap, Kak. Hati-hati.”

***

Hampir dua belas jam perjalanan menuju Malang, akhirnya kereta berhenti. Pintu terbuka perlahan, mengembuskan hawa dingin dari dalam gerbong yang segera ditelan hangatnya peron.

Fuji melangkah turun.

Sepasang sepatunya menyentuh lantai stasiun dengan ragu, di sekelilingnya, orang-orang bergegas saling mendahului. Roda koper berderak, suara pengumuman menggantung di langit-langit. Langkah Fuji mengalir seperti air sungai—ikut bergerak, dengan tujuan yang memantapkan hatinya untuk berkunjung ke Malang.

Lihat selengkapnya