Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #32

TABIR YANG TERSINGKAP

Kau hancurkan kami, maka aku yang mengakhirimu.

***

Tujuan utama Fuji saat menemui Lintang di Malang adalah untuk mendesak Lintang mengaku dan mempertanggungjawabkan perbuatannya, namun semua itu hanya sia-sia. Melihat reaksi Lintang yang justru kontradiksi dengan harapan, membuat Fuji semakin frustrasi dan hampir gila.

Jadi, hal pertama yang dia lakukan ketika sampai di Jakarta adalah mengunjungi kelab malam dengan gemerlap lampu warna-warni memancar, aroma parfum bercampur dengan alkohol dan rokok menguar di udara. Musik terus mengalun, dunia tetap berpesta, tetapi waktu seperti memilih berjalan lebih lambat, seolah Fuji tertinggal di sebuah malam yang tak kunjung selesai.

Dia butuh sesuatu untuk mendistraksi pikirannya dari segala macam kerumitan duniawi yang sedang dia hadapi.

Mutia hanya bisa diam melihat beberapa gelas sudah habis diteguk Fuji. Seperti seseorang yang dehidrasi.

“Lo minum juga dong, Mut. Cupu banget lo cuma minum air lemon.” Fuji menudingnya sambil terkekeh geli.

Mutia mengesah panjang. Dia sengaja tidak minum karena ingin menjaga Fuji. “Udah dong, Ji. Lo tuh, ya, coba jangan kalap kayak begini. Minum alkohol kayak minum es ceket aja,” Mutia berpaling menatap Bartender yang terus saja memberi minuman tanpa henti. “Lo lagi, berhenti kasih minuman ke temen gue!”

“Loh, kan, teman Mbak yang minta.”

“Ya jangan dikasih lagi. Udah, nggak! Entar gue yang repot bawanya!”

Bartender itu cengengesan, melirik sekilas, lalu menggeser gelas kosong itu menjauh. Tidak ada perlawanan dari Fuji karena dia sudah benar-benar tidak sanggup mengangkat wajah. Sementara Mutia sudah sangat putus asa, dia merogoh tasnya untuk mengeluarkan ponsel, mengutak-atik benda itu dan menempelkan di telinga.

“Halo, Baron, kamu ke sini, deh, ke kelab Senopati.”

“Sekarang, Non? Ok siap.”

“Cepetan, ya?!”

Sambungan terputus. Sepuluh menit menunggu, akhirnya Baron tiba. Celingukan menengadah sekitar, mencari sosok Mutia di lautan manusia dan akhirnya ketemu juga.

“Ada apa, Non?”

“Saya minta tolong, bawa temen saya ke mobil. Saya nggak kuat bawanya.”

Baron menatap Fuji yang sedang terkapar di meja Bartender, dengan wajah terbenam di atas lipatan lengan yang dijadikan bantalan. Rambutnya menjuntai menutupi sebagian wajah. Bibirnya menggumam lirih, tidak ada kalimat yang utuh, hanya serpihan nama yang tenggelam. Baron segera menarik tangan Fuji dan meletakkan di bahunya, sementara satu tangannya dengan mudah menahan pinggang gadis itu agar tidak terjatuh.

Baron segera membawanya keluar, bersama Mutia yang mengekor di belakang.

***

Sudah hampir tiga jam Mutia setia duduk di samping Fuji, di ranjang kamarnya. Memastikan sahabatnya itu tertidur lelap, mendengarkan napasnya yang tenang. Mutia sengaja tidak membawa Fuji pulang ke apartemennya dengan keadaan mabuk berat seperti ini. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, bahkan Mutia sudah menguap berkali-kali. Akhirnya rasa kantuk mengalahkan tembok pertahanannya dan dia memilih berbaring di sebelah Fuji.

Fuji bergerak, kelopak mata itu perlahan bergetar dan akhirnya terbuka. “Mut...”

Mutia berbalik, menatap Fuji. Dia kembali duduk. “Ji?”

Fuji memegangi kepalanya yang terasa pusing, dia menarik dirinya untuk duduk. Tatapannya menengadah sekitar dengan kelopak mata yang tidak sepenuhnya terbuka. “Gue di mana, Mut?” suaranya terdengar parau. “Kok gue di sini?”

“Udah lo tidur lagi aja. Yakali gue bawa lo pulang dalam keadaan tepar begitu?”

Fuji meringis, memijat kepalanya. Tangan Mutia terulur mengambil gelas air mineral di atas nakas samping ranjangnya, menyodorkan ke Fuji. “Minum dulu.”

Fuji langsung mengambil gelas itu, meneguknya sedikit dan kembali memberikannya ke Mutia. “Thanks.”

“Udah, lanjut tidur aja, Ji.”

Fuji terdiam, jemarinya sibuk memainkan ujung selimut. “Mut ... Lintang kenapa jahat gitu?” Napasnya terdengar berat. Jemarinya mencengkeram selimut hingga kusut di dalam genggaman. Kelopak matanya berkedip berkali-kali, berusaha menahan bendungan yang telah lama retak.

Tangan kanan Mutia terulur mengelus lembut punggung Fuji. “Udah, ya? Mungkin jalannya memang harus kayak gini, Ji. Gue akui perjuangan lo bener-bener hebat banget dan semuanya nggak sia-sia. Dengan tekad lo—lo bisa ungkap semua kejanggalan yang selama ini bahkan orang-orang nggak ada yang peduli.”

Bendungan itu akhirnya roboh juga. Satu tetes terjatuh. Dua tetes. Hingga tetesan itu terus mengalir deras membasahi pipinya. Fuji menunduk dalam-dalam, cengkeramannya semakin erat. Isak tangis yang semula lirih, kini pecah memenuhi kamar dan memantul di dinding-dinding yang bisu.

Mutia mendekat, menarik tubuh Fuji ke dalam dekapannya. Memberi ruang agar Fuji bisa menumpahkan segalanya. Meskipun harus membasahi baju tidurnya.

“Tapi ... tapi gue nggak mau perjuangan gue berakhir sampai sini, Mut. Gue yakin gue masih bisa rebut keadilan buat Mas Beni.”

“Lo mau ngapain lagi?”

“Gue nggak tahu. Pokoknya dia harus ngerasain apa yang Mas Beni rasain.”

“Gue nggak bisa bantu lagi, Ji. Ide gue udah buntu.”

“Nggak apa-apa, Mut, lo udah banyak banget ngebantu gue,” Fuji melepaskan pelukan Mutia. Dia merapikan rambut yang menempel di wajahnya karena air mata. “Makasih banyak, Mut. Makasih banyak lo udah banyak bantuin gue, makasih lo udah mau luangin banyak waktu lo ke buang sia-sia cuma buat—”

Mutia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Fuji, menginterupsi untuk berhenti bicara. Mutia menggeleng. “Hei!! Nggak apa-apa. Malah gue seneng bantu lo. Jangan bilang kayak gitu lagi, ah. Kayak ke siapa aja lo.”

Lihat selengkapnya