Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #33

JALAN BUNTU

Ruangan itu tetap sunyi. Namun bagi Lintang, kesunyian telah berubah menjadi ruang pengadilan, sementara gema suara Bintang terus memantul di setiap sudut, mengetuk-ngetuk dinding pertahanannya yang perlahan runtuh, hingga tak lagi menyisakan tempat untuk bersembunyi.

Bang! Jawab!”

“M—maksud lo, apaan sih, Tang? Tiba-tiba telepon gua tuduh nggak jelas.” Suaranya bergetar, seakan lidahnya ikut memikul beban rahasia yang selama ini dia sembunyikan.

“Ada nomor asing yang chat gua, dia kasih foto ... bentar, gua kirim ke lo.”

Lintang menjauhkan ponselnya dari telinga ketika benda itu bergetar. Sebuah foto Bintang kirim lewat pesan.

*Foto kotak kayu yang ditemukan Fuji.

“Bang...”

Lintang kembali menempelkan benda tipis itu di telinga. “Apa?”

“Jelasin maksud foto itu apa?”

Tenggorokan Lintang terasa kering, sementara peluh mulai merayap di pelipis meski udara di sekelilingnya begitu sejuk. Dia menarik tubuhnya terduduk tegak, wajahnya sudah mulai memucat.

Pikirannya berhamburan seperti kepingan kaca yang dilempar ke lantai. Satu demi satu wajah, peristiwa, dan kebohongan berkelebat tanpa urutan, saling bertabrakan hingga tak lagi mampu dibedakan mana kenangan dan mana ketakutan.

Hingga akhirnya, dia menghela napas panjang, berusaha mengendalikan diri.

“Ok, gua ngaku. Apa yang ada dalam foto itu emang benar dan seseorang yang kirim lo pesan, gua yakin itu selingkuhan Ayah yang pernah datang ke sini, temuin gua.”

Hening mencuat. Tidak ada sahutan dari Bintang, hanya suara detik jarum jam di kamar Lintang yang menyelundup masuk ke dalam indera pendengaran. Hingga beberapa menit kemudian, suara Bintang terdengar di balik telepon sana.

“Kenapa bisa lo lakuin itu, Bang?” suara adiknya itu terdengar bergetar. “Kenapa pikiran lo sampai ke sana? Kenapa lo malah terjun ke ilmu hitam?”

“Tang ... gua lakuin ini bukan semata-mata karena keegoisan gua, tapi demi lo dan Gemilang. Asal lo tahu, ya, waktu lo pilih mau akhiri hidup lo di jembatan Ciliwung, gua ngerasa gua gagal jagain lu. Dan gua nggak mau kehilangan keluarga gua lagi! Dari dulu lo yang selalu jagain gua dan sekarang biar gua yang jagain lo!”

“Tapi kenapa harus pakai cara itu?”

“Terus pakai cara apalagi? Hah?! Emang ada cara selain cara yang gua lakuin untuk meminta keadilan? Nggak ada, kan?” Lintang terdiam sejenak, mengambil napas. “Coba lo pikir, Tang, seandainya gua nggak lakuin hal itu ke bokap dan nanti waktunya bokap bebas dari penjara—siapa yang bakalan dia cari? Bukan kita, Tang. Bukan Gemilang juga—tapi selingkuhannya!”

Dada Lintang menggebu, seolah ada air panas yang bergejolak meletup-letup. “Mereka bisa senang-senang di atas penderitaan kita. Bokap nggak pernah mikirin gimana mental kita ke depannya. Tanpa dia sadar, dia udah bunuh kita secara perlahan kalau dia masih tetap ada di dunia. Jadi jalan satu-satunya yang gua ambil adalah mengakhiri hidupnya tanpa gua ikut turun tangan.”

Tapi gua takut lo malah kenapa-kenapa, Bang,” suara Bintang terdengar bergetar—sepertinya dia menangis. “Gua takut konsekuensi yang lo dapat malah lebih berat dari yang lo lakuin. Apalagi selingkuhan Ayah malah datangin lo. Dia kok bisa tahu posisi lo sekarang?”

“Kalau soal itu gua nggak tahu dan nggak peduli. Gua bisa urusin dia kalau emang dia mau macam-macam. Percaya sama gua. Tujuan gua cuma hilangin sumber trauma kita. Kalau dibiarin gitu aja, yang mati justru bukan dia, tapi kita. Karena darah dibayar darah ... nyawa dibayar nyawa.”

“Terus kenapa setiap lo pulang selalu ke makam Ayah? Kenapa selalu tidur di rumah itu?”

Lintang menelan ludah, dia menundukkan wajah. Tenggorokannya tercekat, seolah ada bongkahan batu besar yang tersendat di kerongkongannya hingga sulit untuk merangkai kata. “Karena ada penyesalan kuat dalam diri gua, Tang. Gua ... gua denial. Setelah apa yang udah gua lakuin, gua baru sadar, kalau gua nggak ada bedanya sama Ayah. Gua penjahat. Gua pembunuh. Gua bener-bener ... nyesel.”

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar samar isak tangis di balik telepon sana. Mendengar tangisan Bintang, hati Lintang seolah tersayat benda tajam sampai terasa sangat sakit dan perih. Dia tidak mau melihat adiknya tenggelam dalam bayang trauma dan tidak mau melihat adiknya terbunuh oleh mentalnya sendiri.

“Udah, nggak usah nangis. Doain gua baik-baik aja di sini. Lo di sana jaga diri baik-baik. Gua titip Gemilang, ya? Karena satu-satunya yang Gemilang punya di sampingnya sekarang cuma lo.”

“Lo juga—”

“Iya, tapi gua jauh, lo yang deket. Jadi gua minta sama lo, jagain Gemilang. Kita harus saling jaga, sama seperti yang Mama minta.”

Di dalam kamar itu, angin menggoyangkan tirai dengan lembut, seolah sedang mengusap luka yang tak tampak. Keheningan mengungkung kuat mereka tanpa sepatah kata yang terucap, seperti hujan yang turun tanpa suara, membasahi luka yang bahkan air mata pun telah lelah menjangkaunya.

***

Fuji menghela napas panjang, kepalanya mendongak dengan tatapan tertuju tepat ke bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya—kantor polisi. Tangannya menggenggam map cokelat dan dengan ragu, kakinya melangkah masuk ke dalam.

Pintu kaca kantor polisi bergeser pelan, mengembuskan hawa dingin yang langsung menyergap kulit. Langkah Fuji terhenti sesaat di ambang pintu. Pandangannya menengadah sekitar dan tertuju ke meja pelayanan. Di balik meja pelayanan, suara ketikan komputer bersahut-sahutan, beradu dengan suara dering telepon memecah keheningan.

Seorang petugas mengangkat wajah. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”

“S—saya ingin membuat laporan, Pak.”

“Baik, mari duduk.”

Petugas mempersilakannya duduk. Kursi plastik itu berderit pelan ketika Fuji menjatuhkan tubuhnya. Tangannya mencengkeram map cokelat yang sedari tadi dia genggam dengan tangan gemetar hingga ujung mapnya kusut.

“Laporan apa?”

Bibirnya bergerak pelan, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan. Fuji meletakkan map itu di atas meja, menggeserkan lebih dekat dengan petugas.

Petugas itu mengernyit, mengambil berkas itu.

“Saya ingin melaporkan perihal kematian Beni Santoso.”

Petugas itu melirik Fuji, tangannya yang sebelumnya sibuk membuka map kini terhenti. “Beni Santoso?”

Fuji mengangguk ragu.

“Narapidana kasus pembunuhan?”

Fuji kembali mengangguk. Kini jemarinya saling bertautan, berharap mempertahankan energi yang sudah mulai terkuras, meski hanya diam tetapi seolah atmosfer di dalam ruangan itu menekan lebih dalam.

“Apa yang ingin Anda laporkan?” petugas itu membuka map. Membuka berkas satu per satu.

Lihat selengkapnya