Suara detik jarum jam memenuhi setiap sudut kamar, bunyi yang nyaris setiap hari tidak pernah terdengar dan sekarang seolah menjelma seperti ketukan di balik pintu yang sangat mengganggu. Lintang duduk di tepi ranjang, kedua telapak tangannya saling mengusap tanpa henti. Sesekali jemarinya bergerak cepat, perasaan gelisah menempel dalam dirinya yang sulit untuk disingkirkan.
Tatapannya tertuju ke arah gagang pintu yang tetap diam. Tak ada suara langkah. Tak ada bayangan di bawah celah pintu. Namun napasnya telanjur memburu. Lintang menjambak rambutnya keras—frustrasi mengungkung dirinya kuat-kuat. Dia benci dengan takdir yang sekarang justru berbalik menghantam dirinya bertubi-tubi tanpa henti. Awalnya, niat Lintang terjun ke dalam ilmu hitam hanya demi menghilangkan rasa trauma dan frustrasi yang hampir saja mencoba membunuhnya setiap hari.
Namun, jalan yang sudah dia ambil ternyata salah besar. Justru menjadi bumerang yang menjerat seluruh perasaannya hingga sesak.
“AARRGHHH!!” dia memekik keras sambil menjambak rambutnya kuat, hingga tercabut di sela-sela jemarinya. Wajahnya merah padam dan terasa sangat panas.
Dia beranjak, menuju pintu. Tangannya bergerak mengunci pintu itu, menyisakan dirinya di dalam kamar sendirian dengan segala kecamuk bayang-bayang kelam yang menghantam ingatan serta perasaannya bergantian.
Lintang berbalik, matanya langsung menangkap dirinya di pantulan cermin. Dia terdiam, perlahan melangkah lebih dekat. Wajahnya tampak lebih pucat, lingkar hitam mengurung matanya, sementara bibirnya kehilangan warna.
Dia hanya menatap bayangan itu, seolah sedang berhadapan dengan seseorang yang membawa seluruh rahasia yang selama ini berusaha dikuburnya, namun justru digali paksa oleh seseorang yang menjadi sumber kehancuran keluarganya. Bibirnya mengerucut, dengan kasar tangannya membuka pintu lemari, mengeluarkan baju-bajunya, memasukkan baju itu ke tas ransel.
Dia berjalan ke depan jendela, perlahan membuka tirai, bola matanya menengadah sekitar, menatap beberapa detik lebih lama, seolah memastikan bahwa tak ada siapa pun yang sedang berjaga di area asrama. Tirai itu kembali ditutup, dengan tergesa Lintang berjalan keluar kamar sambil memakai tas ranselnya di punggung.
Pandangannya menengadah sekitar, langkahnya cepat. Tidak ada siapa pun di sana. Sepi. Senyap. Dia bergegas lari menuruni anak tangga, tanpa menghiraukan apa pun di sekitarnya. Langkahnya lebar, dengan tenaga yang sudah dia keluarkan maksimal hingga akhirnya langkahnya berhasil mengantarkannya ke luar gerbang.
Lintang berdiri di bawah pohon besar yang rimbun dan gelap jauh dari gerbang asrama. Sengaja dia berdiri di sana untuk sekadar bersembunyi dari orang yang barangkali ada yang mengenali Lintang dan penasaran apa yang sedang dia lakukan.
Tangannya merogoh saku jaketnya, mengambil ponsel dan mengutak-atik benda itu. Mengirim sebuah pesan ke Bobi.
“Bob, aku pulang ke Jakarta, ya? Ada sepupuku yang meninggal. Nanti kalau guru atau pihak asrama nanyain, tolong bilangin, ya! Makasih.”
Lalu jemarinya menggulir layar, meng-klik nomor Bintang, mengetik sesuatu di permukaan layar itu.
“Kalau ada yang nanyain gua, bilang aja nggak tahu. Jaga diri lo baik-baik di sana, jagain juga Gemilang. Lo jangan bilang siapa-siapa, gua lagi butuh waktu buat nenangin diri. Nanti gua hubungi lo lagi.”
Setelah mengirim pesan itu, dia mematikan ponselnya. Berharap meninggalkan segala jejak yang mengungkung dirinya—jejak yang tak mengeluarkan suara, tetapi terus mengikuti setiap tarikan napasnya, membuat kesunyian berubah menjadi ruang sidang dan dirinya sendiri menjadi tersangka yang tak pernah berhasil membebaskan hati dari vonisnya.
***
Suara ayam berkokok terdengar memekik seolah tepat di depan telinga. Bintang mengernyit, perlahan kelopak matanya terbuka dengan kernyitan di dahi. Dia mengerjapkan matanya perlahan-lahan, hingga gradasi yang semula buram kini terlihat jelas. Dia terdiam sejenak dengan tatapan kosong menatap langit-langit kamar. Berusaha mengumpulkan sebagian nyawa yang masih tertinggal.
Bintang duduk di atas kasur, mengusap matanya dan menguap, meregangkan tubuhnya. Perhatiannya teralih ketika ponselnya di atas nakas layarnya menyala. Dia menyambar ponsel itu, melihat ada pesan dari Lintang. Jemarinya bergerak membaca pesan itu sambil sesekali menguap.
“Kalau ada yang nanyain gua, bilang aja nggak tahu. Jaga diri lo baik-baik di sana, jagain juga Gemilang. Lo jangan bilang siapa-siapa, gua lagi butuh waktu buat nenangin diri. Nanti gua hubungi lo lagi.”
Kelopak mata Bintang melebar. Dia mengerjap berkali-kali, berharap salah membaca karena efek kesadarannya belum terkumpul penuh. Kembali ditatapnya pesan itu dan benar, tidak ada perubahan. Kakinya refleks menjejak lantai yang dingin, dia duduk di tepi ranjang dengan jemarinya lihai menari di atas layar.
“Bang, maksud lo apa?”
Tidak terkirim.
Bintang mengernyit. Kembali dia mengirim pesan.
“Bang Lintang, jangan main-main!”
Tidak terkirim.
Bintang menyugar rambutnya frustrasi. Dia menekan tombol telepon, menempelkan benda tipis itu di telinga. Tidak ada suara dering tersambung, yang terdengar hanya; Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.
“Ck! Bang Lintang kenapa, sih?!”
Bintang beranjak, bergegas keluar kamar. Dia menemukan Angga dan Gemilang sedang menonton televisi. “Om Deni mana?”
Angga dan Gemilang menoleh berbarengan. “Lagi keluar.”
“Kapan balik?”
Angga dan Gemilang mengedikkan bahu, tidak tahu. Gemilang kembali berpaling menonton televisi yang menayangkan acara kartun.
“Kenapa, sih? Kayak panik gitu?” tanya Angga penasaran.
Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Coba deh, lo telepon Bang Lintang, nyambung, nggak?”
Angga merogoh sakunya, mengutak-atik benda itu dan menempelkan di telinga. Beberapa detik berikutnya, Angga menjauhkan ponselnya dari telinga. “Nggak aktif, di luar jangkauan.”
“Ck!” Bintang berkacak pinggang, menatap ke arah lain dengan seraut cemas.
“Mungkin lagi mati hpnya, atau emang lagi nggak ada sinyal aja kali.”
Bintang melirik Angga. Dia hanya terdiam, tanpa sepatah kata. Tubuhnya berbalik, kembali melangkah masuk ke dalam kamar dengan perasaan gelisah.
***
“BOBIII! BOB!!” Perhatian Bobi tertuju ke salah satu siswa laki-laki yang ngos-ngosan seperti habis berlari, berdiri di samping lapangan sambil menggerakkan tangannya seolah memanggil. Bobi berlari kecil menghampiri.
“Opo?”
“Mau aku teko ngarep, ketemu karo Pak Satpam.”
“Terus?”
“Ada yang mau ketemu kamu.”