Sudah sekitar dua puluh menit Fuji duduk di balkon apartemen dengan sepoi-sepoi angin menyapu lembut rambut panjangnya yang terurai, bahkan sesekali menutupi sebagian wajahnya yang tampak serius. Gedung-gedung menjulang berdiri gagah tepat di hadapannya, sementara lalu lintas di bawah mengalir seperti urat nadi kota yang tak pernah benar-benar beristirahat.
Fuji menggigit bibirnya dengan cemas, kedua alisnya menekuk. Seluruh atensinya tertuju ke ponsel yang sekarang sedang dia genggam, jemarinya sedari tadi menari lihai di atas permukaan layar, seolah apa pun di sekitarnya tidak menarik perhatian. Sorot matanya bergerak perlahan mengikuti setiap baris kalimat.
Semakin lama, semakin kaku.
Hampir setiap waktu Fuji menanyakan kabar Lintang ke Bobi dan untuk kali ini Fuji tergugu ketika mengetahui kalau Lintang sama sekali tidak ada kabar selama empat hari. Nomornya tidak aktif dan pihak sekolah sudah menelepon keluarga tapi tidak ada yang tahu keberadaan Lintang.
Fuji berdecak kesal. “Ah! Ini dia sengaja banget ngilang supaya nggak gue teror mulu, nih, kayaknya!” Fuji menyesap cangkir teh yang sedari tadi ada di genggamannya. Cangkir itu turun ke meja, dengan tatapan Fuji menengadah sekitar, tanpa benar-benar melihat apa pun, seperti seseorang yang sedang mencari pegangan di tengah kabut.
Perempuan itu berdiri begitu cepat, dia masuk ke dalam dan menuju kamarnya. Berganti pakaian dan sedikit merias wajahnya agar tidak terlihat pucat dan sedikit berwarna.
Tangannya bergerak cepat menyambar tas yang tergeletak di kursi. Jemarinya beberapa kali salah memasukkan ponsel ke dalamnya sebelum akhirnya berhasil. Kartu akses apartemen, nyaris terjatuh karena tangannya tak lagi setenang beberapa menit sebelumnya.
***
Tujuan utama Fuji saat ini adalah kantor polisi. Dengan tekad dan rasa dendam yang masih bergemuruh dalam hatinya membuat Fuji memberanikan diri untuk melaporkan kehilangan Lintang ke pihak berwajib. Meminta bantuan sekaligus berharap pihak berwajib bisa membantu Fuji menjalankan aksinya untuk membuat hidup Lintang menderita karena seluruh orang pasti akan mencarinya.
Tidak menjadi buronan, tetapi menjadi daftar orang hilang mungkin tidak terlalu buruk ketimbang tidak ada hasil sama sekali.
Dia duduk di meja laporan. Petugas yang menjaga, mengangkat wajah.
“Ada yang bisa kami bantu?”
“Saya ingin melaporkan kalau—” Fuji terdiam sejenak, dia bingung untuk mencari alasan keterikatan keluarga dengan Lintang. “Saya mau melaporkan kalau sepupu saya menghilang, Pak.”
Petugas segera menyiapkan formulir. “Sejak kapan?”
“Sejak empat hari yang lalu.”
Pena petugas bergerak lihai di atas kertas. “Lalu, kapan terakhir kali Anda bertemu dengannya?”
Fuji terdiam dengan tatapan kosong ke arah kertas. Dia berusaha mengingat terakhir kali bertemu dengan Lintang. Tapi dia tidak ingat sama sekali. Beberapa kali dia meringis, menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan telunjuk. “Duh ... saya lupa, Pak.”
Petugas melirik Fuji. “Kalau pakaian terakhirnya yang dikenakan?”
Kelopak mata Fuji berkedip cepat. Bibirnya terbuka, lalu kembali tertutup. Bahkan dia tidak tahu pakaian terakhir yang dipakai Lintang, karena Bobi juga tidak tahu. “Aduh ... saya nggak tahu, Pak, soalnya pergi dari asrama malam-malam.”
Petugas mengernyit. “Asrama?”
Fuji mengangguk. “Dia sekolah di Malang, Pak.”
“Baik, sekarang tolong sebutkan ciri-ciri korban.”
Fuji menyebutkan ciri-ciri fisik Lintang yang dia ingat, sementara petugas mendengarkan dengan saksama sembari jemarinya menari cepat di atas permukaan kertas.
***
Sudah lima hari Lintang menghilang tanpa jejak.
Om Deni memutuskan untuk pergi ke Malang sendirian—ke sekolah Lintang untuk mendapatkan kepastian, karena sebelumnya Om Deni bertanya ke Bintang tetapi jawaban Bintang tidak membuahkan hasil apa-apa. Bintang bilang tidak tahu dan sama sekali tidak memberi tahu pesan yang sebelumnya Lintang kirim.
Alhasil, Om Deni turun tangan langsung.
Mobil Om Deni berhenti di depan pagar Ganesha Internasional Football Academy yang tertutup rapat. Seorang satpam menghampiri dan Om Deni melapor, setelah berbincang sedikit, akhirnya gerbang di buka. Mobil masuk ke dalam dan terparkir di pelataran.
Tangan Om Deni terulur membuka seatbelt dan membuka pintu. Melangkahkan kaki kanannya keluar dari mobil. Ditatapnya bangunan megah di hadapannya itu dengan sebaris kernyitan di dahi. Segala harapan bercokol menguasai perasaan Om Deni, hingga akhirnya kakinya melangkah masuk ke dalam area sekolah.
Perbedaan atmosfer terasa begitu mencolok ketika Om Deni melewati setiap koridor dengan siswa berlarian hilir mudik. Kelas-kelas yang terlihat ramai. Teriakan serta tawa membumbung di udara. Berbanding terbalik dengan perasaan Om Deni yang penuh kecamuk gelisah, cemas dan bertanya-tanya.
Hingga langkahnya berhenti di depan ruang guru dan langsung disambut Pak Jamal—Wali kelas Lintang—Pak Jamal mempersilakan Om Deni masuk dan duduk tepat di seberangnya—terhalang oleh meja guru dengan setumpuk buku di hadapannya.
“Terima kasih banyak, Pak, sudah meluangkan waktunya untuk berkunjung ke sini,” Pak Jamal menghela napas sebelum melanjutkan. “Saya hanya ingin tahu, apakah sudah ada kabar dari Lintang, Pak?”
Om Deni menggeleng. “Belum, Pak. Nomornya masih belum aktif. Saya sudah tanyakan ke teman-temannya yang ada di Jakarta dan mereka sama sekali tidak tahu.”
Pak Jamal mengangguk-angguk. “Kami juga di sini sudah berusaha menghubungi Lintang dan tanya ke semua temannya, termasuk Bobi—teman satu kamar di asramanya. Terakhir kali Lintang mengirim pesan pada Bobi, katanya izin pulang karena ada sepupunya yang meninggal.”
Om Deni mengernyit, kepalanya menggeleng ragu. “Nggak ada, Pak.”
“Atau ... apakah Lintang punya masalah di rumah, Pak?”
Om Deni menghela napas panjang, menatap lekat Pak Jamal. “Semenjak Lintang kehilangan orang tuanya, dia lebih tertutup—memang anaknya tidak terbuka dan sangat pendiam—tapi tidak separah sekarang, Pak. Bahkan sewaktu dia juara pertandingan, masuk Timnas juga, nggak pernah dia kasih tahu keluarga. Tahu-tahu kasih kabar kalau dia berhasil.”
“Mungkin ada trauma atau sesuatu yang dia pendam? Saya takutnya ada masalah dengan keluarga sampai Lintang memilih kabur seperti ini.”
Om Deni menggeleng. “Tidak ada, Pak. Terkadang kita susah menebak-nebak apa yang sedang dialami Lintang karena anaknya benar-benar sangat tertutup kalau masalah pribadinya.”
Hampir dua jam Om Deni dan Pak Jamal berbincang masalah Lintang, berusaha mencari jalan keluar dan memikirkan cara bagaimana menemukan Lintang. Sampai akhirnya Om Deni berkata;
“Baik, saya akan memilih untuk melaporkan ke pihak berwajib soal kehilangan Lintang, karena sudah mau satu Minggu keponakan saya menghilang.”