Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #36

AKHIR SEGALA PERJUANGAN

Hari demi hari bergulir bersama suara sirene, deru kendaraan patroli dan langkah para penyelidik yang hilir mudik membawa harapan. Foto Lintang berpindah dari tangan ke tangan, ditempel di papan pengumuman, diperlihatkan ke setiap orang, pedagang, pengemudi, hingga orang-orang yang melintas.

Setiap jawaban terdengar serupa.

Gelengan kepala.

Tatapan bingung.

Kalimat pendek yang perlahan menggugurkan angan.

“Maaf ... saya tidak pernah melihat.”

Jejak yang mereka cari seolah ditelan bumi. Tidak ada rekaman yang cukup jelas. Tidak ada saksi yang benar-benar melihat ke mana Lintang pergi. Tidak ada barang yang tertinggal untuk dijadikan penunjuk arah. Tidak ada hanya sekadar kabar angin yang memberi sebuah petunjuk demi asa yang sulit untuk menjadi kenyataan.

Seakan seseorang telah menghapus keberadaannya dengan begitu rapi, hingga yang tersisa hanyalah nama dan wajah di atas selembar foto.

Fuji datang hampir setiap hari ke kantor polisi, untuk memastikan setiap kabar dengan secercah harapan yang mungkin masih berpihak padanya.

Setiap kali seorang petugas keluar membawa map, tubuhnya spontan berdiri. Namun setiap kali pula, harapan yang sempat terangkat perlahan kembali jatuh ketika kepala petugas itu menggeleng pelan. Fuji hampir frustrasi dibuatnya, tidak tahu harus melakukan apa dan tidak tahu apa ada harapan atas segala perjuangannya?

Sampai dia menginjakkan kaki di apartemennya. Tubuhnya lunglai, jalannya sempoyongan, bahkan sekarang Fuji terlihat begitu kurus dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang menandakan sinyal tubuhnya tidak baik-baik saja. Tiap kali tertidur, matanya memang terpejam, tetapi otaknya terus berputar sampai di alam bawah sadar dan ketika di pagi hari saat membuka mata, bukan energi yang kembali terisi ulang, tetapi justru seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal. Kepalanya pusing dan tidak jarang terasa mual.

Pikirannya kalut. Perasaannya campur-aduk. Berbagai asumsi berkelebat masuk seperti embusan angin yang berusaha menerpa setiap perjuangan. Fuji belum mau menyerah, masih ada keyakinan dalam dirinya bahwa semua perjuangannya tidak sebatas angan belaka. Meski tiap kali dia meminta kepastian, selalu mendapat jawaban yang sama.

Sama-sama tidak memberi jawaban.

***

Pencarian kembali dilakukan dan sekarang rumah Oma Sarni yang menjadi target penyelidikan. Mobil kepolisian berhenti tepat di depan pagar rumah Oma Sarni yang sunyi dan sepi. Salah satu penyidik menatap jam di pergelangan tangannya, yang menunjukkan pukul satu siang.

Kedua penyidik turun dari mobil, memandang rumah Oma Sarni cukup lama, dengan pohon mangga di halaman bergoyang pelan diterpa angin, menjatuhkan beberapa helai daun kering yang berputar sebelum akhirnya diam di atas paving yang basah oleh sisa hujan.

Kedua penyidik itu saling bertatapan, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam. Membuka pagar perlahan dan mengetuk pintu utama. Satu ketukan. Dua ketukan. Tidak ada jawaban ataupun seseorang. Ketiga ketukan, terdengar suara sahutan dari dalam. Tidak lama, daun pintu terkuak dan menampakkan Tante Heni di sana.

Senyum yang sempat terukir di wajahnya memudar begitu matanya menangkap lambang kepolisian di dada kedua tamu tersebut. Mendadak degup jantung Tante Heni berdebar tak terkendali, dia menelan ludah. Ditatapnya wajah kedua penyidik itu sebelum akhirnya membuka suara. “Maaf, ada yang bisa saya bantu, Pak?”

Penyidik memperlihatkan kartu identitasnya, lalu membuka map yang sedari tadi di genggam, dia mengeluarkan foto Lintang dan menyerahkan ke Tante Heni. “Apa Ibu kenal dengan anak ini?”

Tatapan Tante Heni jatuh pada foto itu. Tante Heni mengangguk, mengambil alih foto Lintang. “Iya, ini keponakan saya.”

Dari dalam terdengar suara langkah kaki mendekat dan tiba-tiba menampakkan Om Deni yang berjalan menghampiri. “Ada siapa, Ma?” pandangan Om Deni berpaling menatap kedua penyidik itu. Kedua alisnya menekuk. “Ada apa, ya, ini?”

Tante Heni menyerahkan lembaran foto Lintang yang sedang dia genggam, pandangan Om Deni tertuju ke foto itu.

“Ini keponakan saya,” Om Deni kembali menatap kedua penyidik itu. “Ada apa, ya, Pak?”

“Kami sedang menyelidiki laporan orang hilang,” suara penyidik itu terdengar hati-hati. “Kami ingin mengetahui kapan terakhir kali Ibu atau Bapak bertemu dengannya?”

“Kurang lebih empat bulan lalu,” Om Deni berpaling menatap Tante Heni. “Iya, kan, Ma?”

Tante Heni mengangguk. “Iya.”

“Mari masuk, Pak. Kita bicarakan di dalam.” Om Deni mempersilakan kedua penyidik itu masuk ke dalam, duduk di sofa ruang tamu. “Kalau boleh tahu, kenapa Bapak mencari Lintang? Kebetulan saya memang mau melapor, tetapi belum sempat karena saya belum ada waktu. Jadi saya masih mencari manual sendiri, tanya-tanya ke teman terdekat Lintang.”

Penyidik itu menganggukkan kepala. “Iya, satu Minggu yang lalu ada yang melapor pada kami. Namanya Fuji—beliau bilang ada keterikatan saudara dengan Lintang.”

Om Deni mengernyit heran. Lagi dan lagi, dia dibuat kebingungan dengan penuturan polisi soal sosok Fuji. Belum juga terpecahkan yang dikatakan Bobi, ditambah dengan keterangan dari polisi bahwa Fuji mengaku sepupunya dan justru turun tangan mencari keberadaan Lintang. “Maaf, Pak ... kebetulan kami tidak punya sepupu yang bernama Fuji. Sebenarnya saya pernah mendengar nama Fuji dari teman Lintang sewaktu Minggu lalu saya ke Malang—ke sekolahnya. Saya tidak terlalu memikirkan soal Fuji ini karena tujuan saya sekarang mencari keponakan saya. Tapi setelah saya mendengar dari Bapak kalau yang melapor itu seorang perempuan yang namanya Fuji, saya jadi semakin penasaran. Takutnya ada hubungannya dengan Lintang.”

“Mohon maaf, Pak, kalau soal itu kami kurang tahu. Di sini kami hanya menjalankan prosedur untuk mencari keberadaan Lintang dan mengumpulkan bukti-bukti.”

“Iya, Pak, saya mengerti.” Om Deni memilih tidak banyak bertanya, tetapi sebenarnya pikirannya di penuhi tanda tanya besar tentang sosok Fuji yang mengaku sebagai sepupu Lintang.

Bahkan, selama pihak penyidik bertanya beberapa hal, pikiran Om Deni tidak sepenuhnya ada di sana, seolah terpecah belah. Mengingat nama-nama seluruh keluarganya, mengabsen satu per satu dan tetap saja tidak ada nama Fuji. Bahkan Om Deni mengingat-ingat seluruh keluarga Mirna sepertinya tidak ada juga yang bernama Fuji.

Lihat selengkapnya