Di Balik Kisah AYAH

Linda Fadilah
Chapter #37

EPILOG

Kehilangan adalah hal terberat dalam hidup, bukan soal perasaan setelah ditinggalkan, tetapi perpisahan yang tidak menyediakan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.

***

Perbedaan atmosfer begitu mencolok sewaktu Fuji dan Mutia melangkah masuk ke area pemakaman. Deretan batu nisan berdiri dalam diam, memanjang hingga sejauh mata memandang, sementara pohon kamboja menggugurkan bunganya satu per satu. Kelopaknya jatuh ke atas tanah, seolah waktu sedang menaburkan kenangan yang tak pernah layu.

Langkah Fuji melambat, kerikil-kerikil saling berderak di bawah permukaan sepatunya, memecah kesunyian yang sudah lama bersemayam dalam diam. Jemarinya menggenggam buket bunga lili dan mawar merah dengan erat, sampai tangkainya sedikit menekuk.

Langkahnya berhenti di depan sebuah pusara. Pandangannya tertuju lekat. Tidak ada nama yang perlu dipastikan lagi, bahkan tanpa membaca nama yang terukir di batu nisan, kakinya selalu tahu di mana dia harus berhenti.

Fuji berjongkok perlahan, sementara Mutia hanya berdiri di samping Fuji.

Jemarinya bergerak menyapu dedaunan kering, mencabut rumput liar yang menutupi sebagian permukaan makam. Gerakannya pelan, nyaris seperti belaian kenangan yang tidak pernah bisa dia gapai. Lalu sebuket bunga itu disimpan di depan batu nisan, Fuji mengelus nisan itu—nisan yang dingin. Dengan seseorang yang terkubur di dalam, bersama kenangan yang tidak pernah bisa lagi diulang.

Angin berembus lembut, menyapu daun hanjuang yang tertanam di atas makam Beni. Suasana begitu sunyi, dingin, pekat tanpa suara. Hanya suara burung beterbangan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, seolah berusaha mengintip dalam diam. Kelopak mata Fuji mulai menghangat, dia menundukkan kepala. Setetes air mata jatuh tanpa suara.

“Mas ....” Fuji merasakan bibirnya bergetar, dia menangis. Menangiskan seluruh penyesalan yang memuncak. Banyak kata-kata yang belum sempat terucap, tersimpan dalam hati, namun kini semuanya terasa kehilangan jalan untuk sampai kepada orang yang sudah tidak tergapai. “Mas ... aku minta maaf ... maaf aku udah gagal perjuangin keadilan buat kamu, Mas. Maaf aku nggak bisa tepati janji aku.”

Rasa sesak sedemikian pilu menghantam dadanya. Ada desakan dalam hatinya yang selama ini bersemayam di sana, yang semakin di tahan justru semakin sakit rasanya. Rasa perih seolah mengoyak tanpa ampun. Air mata Fuji kembali menetes membasahi pipinya, entah untuk ke berapa kali tetesan itu mengalir untuk hari ini. Hingga tidak terhitung.

Lihat selengkapnya