Di Balik Kursi Roda Sang Raja Bayangan

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Perisai Hidup untuk Sang Raja yang Terperangkap

Brakkk!

Pintu kayu tua bengkel motor itu hancur berantakan, serpihannya beterbangan ke segala arah. Empat pria berbadan besar melangkah masuk tanpa permisi, lengan mereka berotot dihiasi tato ular naga yang melingkar mengerikan. Di tangan masing-masing, tongkat bisbol besi berkilat memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip seolah ikut gemetar ketakutan. Udara malam yang sejuk mendadak berubah mencekam, dipenuhi bau oli, bensin, dan aura ancaman yang kental menyesakkan.

"Mana pria tua bangka itu?! Keluar, Sujatno! Jangan sembunyi di balik ketakutanmu!" teriak pria paling depan.

Bertubuh gempal, luka parut vertikal membelah pipi kirinya — membuatnya tampak semakin bengis. Ia Benny, rentenir kelas kakap yang namanya sendirian sudah cukup membuat warga pinggiran kota Jakarta gemetar.

Dari balik tumpukan ban bekas di sudut ruangan, seorang pria paruh baya melangkah keluar dengan tubuh bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi, matanya menyiratkan keputusasaan yang tak terlukiskan.

"B-Bang Benny... beri saya waktu seminggu lagi, saya mohon! Usaha sedang sepi, pelanggan pindah, dan uangnya—"

"Cukup! Alasan basi!" Benny tidak membiarkan kalimat itu selesai. Dengan kasar ia mengayunkan tongkat besi ke samping, menghantam mesin bubut tua hingga dentang logam bergaung memekakkan telinga.

"Utangmu sudah menumpuk jadi lima ratus juta rupiah beserta bunganya! Dan malam ini adalah batas akhir! Kalau tak lunas detik ini juga, sertifikat tanah bengkel dan rumah reyot di belakangnya akan menjadi milik kami!"

"Jangan, Bang! Saya mohon... ini satu-satunya peninggalan untuk anak-anak saya..."

Pak Sujatno jatuh berlutut di lantai semen yang berminyak, air mata mulai menetes saat ia mencoba meraih ujung celana pria kejam itu.

Benny mendengus jijik. Ia mengangkat sepatu botnya, bersiap menendang dada pria ringkih itu. Namun sebelum sepatu kotor itu sempat mendarat — sebuah bayangan melesat kilat dari kegelapan sudut bengkel. Sebuah kunci inggris berukuran besar melayang berputar presisi layaknya bumerang, dan—

PLAKKK!

Kunci inggris besi itu menghantam telak pergelangan tangan Benny yang memegang tongkat.

"AAAAARGH!" Benny menjerit kesakitan, refleks melepaskan tongkat besi yang berdenting keras jatuh ke lantai.

"Siapa pun yang berani menyentuh seujung rambut saja dari ayahku... akan kupastikan pulangnya merangkak tanpa membawa tangan!"

Sebuah suara perempuan bergaung lantang, tegas, tak sedikit pun goyah, membelah ketegangan malam itu.

Dari balik bayang-bayang mesin tua, muncullah Titah Kesumawardani. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu berdiri tegak, rahang mengeras penuh tekad. Rambut hitam panjangnya diikat kuda asal-asalan, menyisakan helai yang membingkai wajah cantiknya yang kini tercoreng noda oli hitam. Ia mengenakan celana jeans robek di lutut, kaos hitam sederhana, dan jaket kulit yang sudah mulai mengelupas di siku. Di tangan kanannya, sebatang balok kayu tebal dipukul-pukulkan pelan ke telapak tangan kiri — ritme yang menegangkan.

"Titah! Masuk ke dalam, Nak! Ini urusan orang dewasa! Bahaya!" seru Pak Sujatno panik, berusaha bangkit melindungi putri semata wayangnya.

Titah tak bergeming. Ia justru melangkah maju, berdiri tepat di depan ayahnya — menjadi perisai hidup yang kokoh. Matanya menatap tajam keempat preman itu tanpa kilat ketakutan sedikit pun. Sebaliknya, ada binar menantang yang berkobar liar di dalamnya.

"Gadis sialan! Berani-beraninya kau cari mati!" Benny mengerang, memegangi pergelangan tangannya yang mulai membiru dan bengkak.

"Kau bertiga! Hajar dia! Hancurkan tempat ini sampai rata dengan tanah!" perintahnya geram.

Tiga pria kekar itu langsung merangsek maju. Yang di kiri melayangkan pukulan mentah ke wajah Titah.

Dengan refleks luar biasa yang ditempa bertahun-tahun hidup di jalanan keras, Titah merunduk serendah mungkin. Balok kayunya melesat dari bawah ke atas — menghantam telak rahang pria itu hingga terdengar bunyi tulang berderak. Pria itu tumbang bak pohon ditebang, tak sadarkan diri.

Melihat temannya jatuh begitu mudah, pria kedua berang dan menyergap dari belakang. Namun pendengaran Titah setajam elang — ia seolah bermata di punggung. Tubuhnya berputar cepat, tumitnya memutar momentum, lalu meluncurkan tendangan melingkar keras tepat ke ulu hati lawan. Pria itu tersedak hebat, terbatuk, lalu tersungkur memeluk perutnya yang terasa diremas dari dalam.

Pria ketiga maju ragu-ragu, namun Titah tak memberinya celah — satu ayunan balok kayu tepat ke pelipis membuatnya ambruk tanpa suara.

Kurang dari lima menit, tiga pria berbadan besar ambruk tak berdaya di tangan seorang gadis ramping.

Titah kembali berdiri tegak, memutar balok kayu di tangannya dengan santai, lalu menatap Benny yang wajah garangnya kini pucat pasi — seakan melihat malaikat pencabut nyawa.

"Jadi, Bang Benny..." Titah melangkah pelan mendekat, membuat rentenir kejam itu mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur tiang beton.

Ketukan balok kayu ke lantai berirama — tak... tak... tak... — menghantam mental Benny lebih keras daripada pukulan apa pun.

"Tadi Abang bilang batasnya malam ini, kan? Dan utang Ayah lima ratus juta, lunas besok siang?"

"K-Kau... monster perempuan sinting!" gagap Benny, keringat dingin mengalir deras.

"Aku beri pilihan," senyum Titah manis — namun justru membuat bulu kuduk berdiri. "Angkat ketiga anak buahmu yang tak berguna ini... dan pergi. Atau aku akan mematahkan tanganmu yang satunya agar terlihat simetris."

Ia melangkah setapak lagi.

"Mengenai uang lima ratus juta itu — dengar baik-baik. Besok siang, sebelum jam dua belas, uang itu akan ditransfer lunas ke rekeningmu. Tak sepeser pun kurang. Tapi... jika kau berani menginjakkan kaki di sini lagi sebelum jam itu...."

Ujung balok kayu diarahkan tepat satu sentimeter dari hidung Benny.

"Kupastikan kau pulang terbungkus kantong mayat."

Benny menelan ludah susah payah. Tanpa berani membalas sepatah kata pun, ia memapah anak buahnya yang masih mengerang kesakitan. Mereka lari tunggang-langgang, menghilang ditelan gelap malam.

Begitu suara langkah mereka lenyap, kekuatan di tubuh Titah seolah luruh seketika. Balok kayu jatuh berdentang ke lantai. Ia menghela napas panjang, berbalik, dan langsung memeluk ayahnya yang masih terdiam syok.

"Ayah tidak apa-apa? Ada yang sakit? Mereka menyakiti Ayah?" Nada tajamnya hilang, berganti lembut dan penuh kekhawatiran.

"Ayah tidak apa-apa, Titah. Tapi..." Pak Sujatno menunduk, air mata jatuh kembali. "Dari mana kita dapat lima ratus juta besok siang? Bengkel sepi bertahun-tahun, tabungan habis untuk pengobatan Ibumu... Kita tak punya apa-apa lagi untuk dijual. Kita akan kehilangan rumah ini, Nak."

Hati Titah terasa diiris ribuan silet melihat ayahnya — pria yang selalu kuat — hancur seperti ini. Ia menangkup wajah keriput itu, menghapus air mata dengan ibu jarinya yang kasar.

"Ayah... jangan menangis," ucapnya tegas, matanya memancarkan keyakinan baja. "Serahkan semuanya pada Titah. Aku berjanji — besok siang uang itu lunas. Bengkel dan rumah ini aman. Ini milik Ayah dan Ibu... dan aku pertahankan dengan nyawaku kalau perlu."

Meski bicara penuh keyakinan, di dalam hati Titah sendiri bingung luar biasa. Lima ratus juta dalam waktu kurang dari dua belas jam bukanlah angka yang bisa dicari dengan cara biasa. Ia butuh keajaiban... atau pekerjaan gila.

Malam itu juga Titah tak tidur sedikit pun. Ia mencuci wajah, berganti pakaian, lalu menaiki motor bebek tuanya. Mesin menderu membelah gelapnya jalanan Jakarta.

Tujuannya hanya satu: Distrik Perkantoran Elite — Kantor Agensi "Mitra Sejahtera".

Kantor itu milik Pak Guntur, kenalan lama almarhumah ibunya. Orang yang dikenal menyalurkan tenaga kerja — asisten pribadi, pendamping, pengurus rumah — dengan bayaran yang fantastis, khusus untuk kalangan paling berkuasa di negeri ini. Dan malam itu, Titah Kesumawardani siap menerima pekerjaan apa pun.


**


Keesokan paginya, tepat pukul tujuh saat matahari baru mengintip dari ufuk timur, Titah sudah duduk menyilangkan kaki di ruang kerja ber-AC dingin milik Pak Guntur. Sifatnya yang lugu tanpa tata krama membuat pria paruh baya itu berkali-kali mengusap kening yang basah kuyup keringat sejak gadis itu menerobos masuk.

"Bapak BERCANDA?! Lima ratus juta sebulan?! Hanya untuk jadi perawat sekaligus asisten pribadi?! Dan aku bisa mengambil kasbon lima ratus juta itu — HARI PERTAMA KERJA?!"

Lihat selengkapnya