Uap panas mengepul dari aspal luar Stasiun Gambir, mengaburkan bayangan deretan gedung tinggi di kejauhan. Bunyi peluit petugas stasiun melengking, bersahut-sahutan dengan deru mesin bus Transjakarta yang mengerem di halte seberang. Ratusan pasang kaki bergerak cepat, saling mendahului, menyeret koper, atau memanggul kardus yang dililit lakban cokelat.
Juna berdiri di dekat tiang beton pintu keluar. Tangan kanannya mencengkeram erat map plastik biru berisi ijazah S1 Manajemen, sertifikat pelatihan, dan surat kontrak kerja. Tas hitam tersampir di pundak kirinya. Butiran keringat menetes dari pelipisnya.
Dia menurunkan ransel ke atas ubin, lalu merogoh saku celana kainnya. Matanya menatap alamat kantor di area Jakarta Selatan dari layar ponselnya
Seorang pengemudi ojek online berhenti dua meter di depannya, menatap Juna sambil menaikkan dagu. "Ojol, Mas? Mau ke mana?"
Juna menggeleng pelan, tersenyum kaku. "Enggak, Bang. Makasih."
Dia memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu mengangkat ranselnya ke bahu. Juna menarik napas dalam, menghirup aroma campuran solar, asap knalpot, dan gorengan dari gerobak pinggir jalan.
"Oke, Juna. Cari kos dulu," suaranya hampir tenggelam di antara klakson mikrolet yang saling bersahutan. "Besok baru mikirin yang lain."
Langkah kakinya berjalan menuju jembatan penyeberangan, meninggalkan area stasiun, kepalanya terangkat tegak.
Pintu pagar besi tempa berwarna hitam terbuka perlahan, Juna melewati halaman parkir yang dilapisi paving block bersih. Bangunan di hadapannya berdiri kokoh, arsitektur minimalis modern. Cat dindingnya putih bersih, kombinasi aksen kayu bergaris vertikal. Di sudut teras, beberapa tanaman monstera tumbuh subur di dalam pot semen ekspos.
Juna melangkah masuk, memandangi deretan jendela kaca besar yang memantulkan langit siang. Lantai lobi dilapisi granit abu-abu yang dingin di bawah sol sepatunya.
Seorang wanita paruh baya bangkit dari balik meja resepsioanis, rambut disanggul rapi. Jari telunjuknya membetulkan letak kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya. Wangi parfum melati memenuhi udara lobi.
"Mau cari kamar kosong, Mas?" tanya wanita itu.
"Iya, Ibu. Yang fasilitasnya kamar mandi dalam sama AC masih ada?" Juna menurunkan map birunya, memegangnya dengan kedua tangan di depan perut.
"Ada. Sisa dua kamar di lantai dua. Sudah free wifi, ada dapur bersama di tiap lantai, sama pembersihan kamar seminggu sekali," wanita itu tersenyum, jemarinya yang dihiasi cincin batu giok menunjuk ke arah tangga.
Juna mengangguk, matanya berbinar. "Kalau boleh tahu, harganya berapa ya, Bu per bulannya?"
"Satu juta delapan ratus," jawab wanita itu santai.
Juna meraba dompet di saku belakangnya. "Oh, satu delapan... Masih masuk budget UMR saya sih, Bu. Boleh saya lihat kamarnya dulu?"
Wanita itu tertawa kecil. "Masnya baru di Jakarta ya?"
Juna berkedip. "Iya, Bu. Kenapa ya?"
"Satu juta delapan ratus itu per minggu, Mas. Bukan per bulan. Kalau per bulan ya tinggal dikali empat saja." Wanita itu mengambil brosur kecil dari laci, menyodorkannya ke arah Juna.
Juna terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, lalu tertutup lagi. Matanya terpaku pada deretan angka di brosur yang tergeletak di atas meja granit. Sinar matahari menembus kaca lobi membakar tengkuknya.
Aroma bakaran sate padang bercampur busuknya air parit bercampur di udara. Juna berdiri di depan bangunan berlantai dua.
"Kamar mandi luar ya, Mas. Airnya pakai pompa, gantian sama anak-anak bawah," kata seorang pria berkaos sambil meludah ke selokan.
Juna melirik ke dalam lorong kos yang gelap dan pengap. Matanya menatap pakaian dalam basah digantung di tali jemuran yang melintang di atas kepala. "Harganya berapa, Pak?"
"Sembilan ratus ribu. Pas."
Juna menelan ludah, melihat kecoak mati telentang di dekat pintu masuk lorong, lalu mundur satu langkah. "Saya... saya keliling lagi deh, Pak. Makasih."
Satu jam kemudian, Juna berdiri di depan pagar kos bertingkat tiga, jaraknya hanya lima menit berjalan kaki dari gedung calon kantornya. Kamarnya luas, kasur springbed, dan jendela besar menghadap langsung ke jalan raya.
"Dua juta seratus ribu per bulan," ucap penjaga kos, i mengenakan seragam safari hitam.
Juna mengangguk. "Bisa bayar bulanan, Pak?"
Pria berseragam itu menggeleng. "Di sini minimal kontrak langsung satu tahun di muka, Mas. Ditambah uang jaminan satu bulan sewa. Jadi totalnya dua puluh tujuh juta tiga ratus."
Juna perlahan memundurkan langkahnya, tumit sepatunya membentur ambang pintu. Matanya bergerak memandangi aspal jalan raya yang padat kendaraan. Di bawah terik matahari pukul dua siang, kepalanya mulai berdenyut.