Baling-baling kipas angin besi berputar di langit-langit, Juna telentang. Kedua lengannya tertekuk ke belakang, menjadi bantalan kepala. Cahaya lampu neon di atas kepalanya terpantul di pupil matanya.
Dari balik jendela kaca nako yang terbuka setengah, suara knalpot motor matic menderu pendek, disusul gesekan standar samping. Dua orang laki-laki berbicara di bawah, lalu tertawa. Langkah kaki menaiki tangga besi luar kos.
Juna membalikkan tubuhnya menghadap dinding. Matanya menatap gumpalan semen pelapis yang tidak rata. "Jakarta nggak pernah tidur apa?" Suaranya serak, tertahan di tenggorokan.
Klek.
Suara anak kunci diputar dari sebelah. Disusul gesekan daun pintu yang beradu dengan lantai keramik yang tidak rata.
"Hahaha, jangan di situ, ih! Geli!"
Suara lengkingan tawa seorang perempuan menembus dinding. Juna tersentak, kelopak matanya terbuka lebar. Pandangannya lurus menatap jeruji besi ventilasi di atas pintu kamarnya.
"Lagian kamu jalan cepet banget tadi," sebuah suara laki-laki menyahut, disusul bunyi pelat gesper sabuk yang dilemparkan ke atas lantai keramik.
Juna mematung.
Bunyi tarikan kain yang bergesek terdengar dari balik tembok, diikuti detak pegas kasur yang tertekan beban berat. Kasur di kamar sebelah bergeser beberapa sentimeter, menyenggol permukaan dinding pembatas.
"Bentar, bentar... pintunya belum dikunci," bisik si perempuan, disusul napas yang memburu pendek.
"Udah, biarin aja."
Suara tawa berubah menjadi deretan lenguhan pendek yang tertahan. Suara kain robek terdengar samar, berganti dengan bunyi gesekan kulit yang beradu dengan kain sprei. Suara pegas kasur di sebelah bergerak teratur. Kecepatannya bertambah setiap beberapa detik. Dinding kamar Juna bergetar terkena hantaman tubuh di kamar sebelah, poster kalender di kamar Juna bergoyang.
Juna menarik bantal tipis di bawah kepalanya, melipatnya jadi dua, lalu menekan kuat ke kedua telinganya. "Ya Allah, ngapain mereka..." Ia memejamkan mata, dahinya berkerut.
Suara hentakkan kulit bertemu kulit di kamar sebelah makin cepat, bersahutan dengan derit kipas angin di langit-langit kamarnya berputar menyesuaikan ritme dari kamar sebelah. DIsusul suara pria melenguh panjang, lalu sepi kembali.
Juna melonggarkan tekanan bantal di telinganya, suara benturan keras dari koridor luar ujung lorong dekat tangga terdengar keras.
"Gue udah transfer, ya! Lu cek HP lu!"
Suara melengking seorang pria memecah keheningan pukul dua pagi. Nada bicaranya tinggi.
"Terus kurang apalagi?! Lu pikir cari duit di sini segampang lu minta?!" sahut suara perempuan, serak, diiringi bunyi langkah kaki yang menghentak lantai koridor.
Juna menurunkan bantalnya, duduk tegak di atas kasur. Matanya menatap daun pintu kamarnya yang bergetar setiap kali angin malam berembus keras.
"Jangan teriak-teriak, bangsatt! Malu sama anak-anak!" pria itu mengumpat, suaranya mengecil.
"Lu yang mulai duluan! Kalau nggak niat, nggak usah datang sekalian!"
Brakk!
Suara pintu dibanting keras, gumpalan debu putih jatuh dari celah ventilasi kamar Juna, mendarat di atas map plastik birunya yang tergeletak di lantai.
Koridor kembali senyap. Suara mesin pompa air di lantai bawah menyala otomatis, melengking membelah malam.
Juna kembali merebahkan badannya. Dia menatap langit-langit. "Orang Jakarta ributnya jam segini?" matanya berkedip lambat di dalam kegelapan.
Sinar matahari pagi menembus celah nako, garis-garis kuning menerangi kamar. Mata Juna terbuka, lalu bergeser menatap layar ponselnya. Angak 07.12 memantul di matanya yang memerah.
"Anjir, telat," Juna melompat dari kasur, menyambar handuk yang tergantung di paku.
Langkahnya tertahan di depan pintu kamarnya. Kepalanya bergerak ke pintu kamar nomor 202 di sebelah kamarnya. Seorang pria keluar dari dalam kamar. Pria itu merapikan kerah bajunya sambil menyemprotkan parfum dari botol kecil ke dadanya. Aroma wangi maskuli mengusir bau apek koridor.
Pria itu menoleh, matanya menatap juna. "Baru mas?" Ia memasukkan botol parfum ke dalam tas selempangnya.
Juna mengangguk. "Iya mas. Baru semalem masuk."