DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #3

3. WAJAH DI BALIK JAKARTA

Suara kayuhan mesin jahit elektrik dari ruko konveksi di seberang gang sudah menderu sejak pukul enam pagi, bersahutan dengan bunyi sutil besi yang menghantam wajan tukang nasi uduk. Juna melangkah menuruni tangga besi luar kos.

Nara berdiri menghadap dispenser di atas meja kayu. Ia mengaduk kopi sachet di dalam gelas kertas. Rambutnya basah, diikat kuda.

"Hari ini udah dilepas?" tanya Nara tanpa menoleh. Ujung sendoknya mengetuk pinggiran gelas tiga kali.

Juna berhenti di dekat tiang beton, membetulkan posisi ranselnya. "Iya. Disuruh nyari prospek sendiri. Keliling lapangan."

Nara mengangkat gelasnya, meniup permukaan kopi yang mengepulkan uap panas, lalu menatap Juna. "Berarti hari ini lo bakal ketemu Jakarta."

Juna mengernyitkan dahi, matanya melirik ke arah jalanan gang yang mulai dipadati punggung-punggung pekerja pabrik. "Kemarin gue ketemu apa?"

"Versi trial," jawab Nara pendek. Dia berbalik, menuju kamarnya.

Juna menarik napas panjang, melangkah keluar kos, ikut melebur ke dalam arus manusia yang mengalir keluar dari gang menuju jalan raya.

Dari dalam angkot yang melaju pelan, mata Juna terpaku pada barisan ruko yang berderet di sepanjang pinggir aspal. Ia turun di kawasan niaga padat, berjalan kaki menyusuri trotoar. Langkahnya terhenti aroma menyengat cairan pengencer cat dari ruko berukuran empat kali enam meter.

"Ini mesinnya ada empat, Mas. Biasanya kalau musim pemilu atau pendaftaran sekolah, bisa jalan dua puluh empat jam," seorang pria menunjuk ke arah deretan meja panjang di dalam ruko. Bau menyengat cairan pengencer cat memenuhi ruangan.

Juna berdiri di samping meja, memegang lembaran brosur Company Profile Nexus Web Solution. "Nah, kalau pakai website, Mas... nanti portofolio sablonnya bisa dipajang di internet. Jadi orang dari luar Jakarta juga bisa pesan langsung."

Pria itu menerima brosur dari tangan Juna, membolak-baliknya dengan ujung jari. Matanya membaca deretan angka paket. Jari telunjuknya berhenti di angka tujuh juta lima ratus ribu.

Dia menghela napas, lalu meletakkan kembali brosur itu ke atas meja potong kain. "Bagus sih, Mas. Menarik sebenarnya. Tapi..." Pria itu menyengir, menggaruk kepalanya. "Jujur aja, saya masih fokus buat bayar sisa kontrakan ruko ini dulu bulan depan. Masih megap-megap."

Juna menelan ludah. "Oh... iya, Mas. Nggak apa-apa." ia mengeluarkan kartu nama dari saku kemejanya, lalu menyodorkan kartu namanya. "Kalau nanti mas butuh website compro, kontak saya aja ya mas." menyodorkan

Pria itu menepuk pundak Juna dua kali sambil tersenyum ramah. "Siap, Mas. Maaf ya, Semoga laris di tempat lain."

Juna mengangguk, melangkah keluar ke bawah terik matahari, mengantongi kembali brosur lalu berjalan menyusuri jalur angkot menuju arah Glodok.

Suara deru kipas angin bekas dan lengkingan musik dangdut dari speaker rakitan saling bertubrukan di sepanjang lorong pasar Glodok.

Juna berhenti di depan toko yang dipenuhi tumpukan komponen trafo dan kabel-kabel tembaga. Seorang pria paruh baya berkacamata tebal duduk di balik meja kaca, jemarinya memutar obeng, membongkar bagian dalam amplifier tua.

"Permisi, Pak. Siang. Saya Juna dari Nexus Web Solution, mau menawarkan-"

"Nggak butuh." Pria itu memotong kalimat Juna tanpa mengangkat kepala. Ujung obengnya bergesek kasar dengan pelat besi.

Juna tersentak, tubuhnya mundur sedikit, lalu tersenyum tipis. "Ini untuk sistem inventaris barang toko Bapak, biar..."

"Nggak butuh, Mas. Makasih," pria itu mengulang kalimatnya. Dia mengibaskan tangan kirinya di udara.

Juna terpaku beberapa detik di tengah lorong, memandangi kepala pria itu, lalu melangkah mundur.

Ia meninggalkan Glodok, menumpang bus kota menuju kawasan bisnis Kuningan. Dari halte, dia melangkah masuk ke dalam lobi gedung bertingkat yang dingin. Sol sepatunya berdecit di atas lantai granit mengkilap saat dia mendekati meja resepsionis marmer hitam.

"Siang mba, saya Juna dari Nexus Solution. Saya bisa bertemu dengan bagian Puchasing mba?"

"Ada appointment, Mas?"

Seorang wanita dengan riasan wajah tebal dan rambut disanggul tinggi menatap Juna dari balik meja resepsionist marmer hitam. Tangan kanannya memegang gagang telepon, jemari tangan kirinya mengetuk permukaan meja.

Juna merapatkan map birunya ke perut. "Belum ada, Mba. Jika berkenan, siapa tau saya bisa diskusi untuk kebutuhan sistem integrasi vendor."

"Nggak bisa," wanita itu menjawab cepat, matanya beralih ke layar komputer di hadapannya. "Kalau belum ada appointment nggak bisa masuk. Semua jadwal harus lewat email dulu."

"Kalau boleh tahu alamat email purchasing-nya apa ya, Mba?"

"Ada di website perusahaan kita. Cek aja sendiri di sana," wanita itu membetulkan letak mikrofon kecil di telinganya, lalu kembali berbicara dengan suara manis ke dalam telepon, mengabaikan Juna yang masih berdiri di depan meja marmer.

Lihat selengkapnya