DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #4

4. JAKARTA TENGAH MALAM

Di dalam bus Transjakarta yang berguncang melintasi jalur khusus Mampang, Juna berdiri tanpa berpegangan hand strap, kedua kakinya melebar beberapa sentimeter. Di luar jendela, lampu nenon di papan nama warteg berkedip dia kali. Ia menarik tali ranselnya di bahu lebih erat. Pintu geser bus terbuka, Juna melangkah keluar, berbelok di sela pembatas beton tanpa menengok papan penunjuk rute.

Suara mesin kasir di minimarket dua puluh empat jam dekat mulut gang bersahutan dengan desis mesin pembuat sosis bakar. Juna melewatinya tanpa menoleh. Jarum jam analog di atas meja kasir ruko konveksi seberang gang menunjuk ke angka sepuluh lewat tiga puluh menit malam ketika Juna melintasi gerbang luar. Riuh sutil besi dan deru mesin jahit elektrik di depan gang sudah tidak terdengar.

Lampu-lampu jalan sebagian besar padam, sebagian berkedip, satu bohlam di sudut kelokan bergoyang pelan ditiup angin, bayangan tiang listrik memanjang di atas jalanan semen. Dari kejauhan, gonggongan anjing liar menyalak pendek dua kali, lalu hilang ditelan deru knalpot motor yang melintas cepat di jalan raya luar.

Langkah kaki Juna tertahan di anak tangga besi ketiga. Sol sepatunya bergesek pelan dengan pelat besi. Ia menatap sepasang sandal jepit karet biru tergeletak miring. Dita duduk memunggungi arah tangga. Kepalanya tertunduk dalam, dagunya hampir menyentuh lutut yang tertekuk erat. Bahunya bergetar naik-turun. Ia menggenggam ponsel di tangan kanannya, layar ponsel menyala redup, menampilkan baris-baris pesan teks yang bergulir cepat tanpa suara.

Isakan pendek terdengar dari sela bibirnya yang tertutup telapak tangan. Juna menarik kembali kaki kanannya ke undakan bawah. Jarinya menyentuh besi pegangan tangga yang dingin, rahangnya terbuka.

Dita menoleh saat suara decit sepatu Juna terdengar dari belakang punggungnya. Tangan kirinya bergerak cepat mengusap kedua pipi dan pelupuk matanya. Ia bangkit berdiri, menyambar sandal jepitnya, lalu melangkah cepat menyusuri koridor lantai satu. Ia masuk ke kamarnya, pintu tertutup saat tubuhnya melewati ambang pintu.

Tubuh Juna berbalik turun ke teras bawah. Nara diduk sendir di sudut meja kayu bawah lampu bohlam kuning. Telapak tangannya melingkari mug keramik hitam besar yang masih mengepulkan uap. Satu kabel earphone putih menyelimuti telinga kirinya, sisi satunya dibiarkan menjuntai di atas permukaan meja.

Juna menggeser kursi di sebelah Nara. keheningan teras. "Belum tidur, Nar?"

Nara tidak langsung menjawab. Jemarinya mengetuk pinggiran mug dua kali, mengikuti ritme lagu dari balik earphone-nya, lalu menoleh ke samping, melepas earphone di telinganya. "Jakarta ngajarin gue insomnia. Tiap merem, kuping gue berasa masih denger suara klakson."

Juna menarik napas panjang, menarik tubuhnya melengkung ke belakang. Bunyi sendi bergerak terdengar keras, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, matanya menatap meja yang penuh noda lingkaran bekas gelas.

Nara mengangkat dagunya, mengarahkan pandangan matanya melewati celah pagar besi kos menuju kegelapan gang yang lurus. "Kalau jam segini, lo baru bisa liat aslinya."

Juna menggeser posisi duduknya, mengikuti arah pandang wanita itu.

Motor matic hitam tanpa pelat nomor depan meluncur pelan masuk ke dalam gang, lampu utama dimatikan. Seorang pria berjaket jins longgar, menurunkan kedua kakinya ke tanah, mendorong motornya. Motor itu berhenti tepat di depan rumah petak berpagar kayu yang berjarak tiga rumah dari kosan.

Seorang wanita rambut terurai panjang keluar dari dalam rumah. Ia membetulkan kerutan baju sabrina dj bahunya yang kecil. Pria itu melangkah cepat menaiki tangga luar rumah petak. Tangan kanannya terulur, menggenggam tangan wanita yang terulur di depannya. Mereka masuk ke dalam rumah, pintu di tutup rapat.

Dua puluh menit berlalu dalam keheningan teras. Pria itu keluar dari dalam rumah, membetulkan ritsleting celananya, lalu menyalakan rokok, bara merahnya menyala sesaat di kegelapan. Ia menoleh ke belakang, memajukan bibirnya cepat lalu berbalik ke motornya di depan rumah. Motor itu meluncur pergi membelah mulut gang.

Juna mengernyitkan alis, matanya masih menatap sisa kepulan asap knalpot di ujung jalan. "Mereka ngapain?"

Nara mengangkat mug keramiknya, menyeruput kopi hitamnya. "Abis seneng-seneng."

Lihat selengkapnya