Jemari Juna memutih, mencengkeram pinggiran kusen kayu pintu kamar 202. Napasnya tersangkut di tenggorokan. Pupil matanya bergerak naik turun ke area dada dan paha Monic Suara dengung baling-baling kipas angin dinding dari dalam kamar Monic terdengar meredup. Otot di balik celana juna menenga. Ia memejamkan mata. Rahangnya mengatup keras hingga giginya berkerut.
"Anjing..." suara Juna berbisik. "Gue mau ngapain?"
Juna menarik telapak tangannya dari kusen, menggantung di samping pahanya. Ia mundur satu langkah, menjauhkan dadanya dari celah pintu. Ia mengembuskan napas panjang lewat mulut. Kedua tangannya mengusap wajahnya, pipinya memerah.
Tok. Tok. Tok.
Juna mengetuk pintu kamar Monic.
Monic tersentak, kain selimut yang tergulung di pinggangnya bergerak naik saat ia mengangkat kepalanya. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Dia mengedipkan mata beberapa kali, menatap lurus ke arah langit-langit, lalu kepalanya menoleh ke arah sumber suara. "Juna?" Suaranya parau.
Juna tetap berdiri di luar, kepalanya bergerak menatap ujung lorong tangga. "Pintunya kebuka, Mon."
Mona melirik selot besi pintunya yang menggantung bebas di luar rumah kunci. Dia menarik napas panjang, lalu menjatuhkan kembali kepalanya ke atas bantal. Sebuah tawa kecil yang kering dan lelah terdengar dari dalam.
"Oh... iya," Mona bergumam, suaranya tenggelam di antara bantal. "Makasih, Jun. Kalo mau masuk, masuk aja."
Juna memutar tubuhnya, melangkah menuruni tangga besi luar kosan setengah berlari.
***
Juna mendorong pintu kaca kantor Nexus Web Solution, matanya bergerak menyusuri ruang kantor yang belum berpenghuni. Ia menoleh ke jam dinding digital di atas dispenser, angka 08.15 terpantul di pupil matanya Aroma pembersih lantai jeruk nipis bercampur dengan hawa dingin AC yang baru saja dinyalakan.
Juna duduk di kursinya, menyalakan laptop, lalu menatap logo Windows bergerak perlahan di layar monitor. Matanya menatap bayangan tubuh Monic muncul di layar monitor, lalu berkedip cepat. Bayangan tubuh Monic berganti dengan wallpaper pegunungan. Matanya bergerak ke aliran sungai yang perlahan berubah menjadi gambaran paha Monic. Kepalanya menggeleng cepat,tangannya meremas rambut belakangnya.
Anto masuk ke ruangan, langkahnya cepat, ponsel menempel di telinga kanannya. Rafi berjalan di belakangnya sambil menjinjing kantong plastik gorengan, alisnya mengkerut menatap Juna di balik meja kerjanya.
"Lo kenapa?" Rafi menarik kursi di meja sebelah Juna.
"Ah nggak mas." Juna tersentak, matanya menatap lurus aliran sungai di wallpaper monitornya.
Rafi melempar sisa bungkus plastik gorengannya ke tempat sampah bawah meja, lalu memutar kursi rodanya menghadap Juna.
"Gimana hasil canvassing seminggu ini? Ada leads yang nyangkut?"
Juna menggeser pandangannya dari layar laptop, bahunya turun. "Belum ada, Mas."
"Lo nyisir ke mana aja?"
"Gue ngiter aja... door to door di area ruko Tendean."
Rafi terkekeh, tangannya meraih selembar tisu, lalu mengelap sisa minyak di jarinya. "Pantesan. Kalau kayak gitu caranya, capek di dengkul doang lo. Efisiensinya nol."
Juna menegakkan duduknya. "Ada formula yang lebih efektif, Mas?"
Rafi menatap Juna dari atas sampai bawah, menopang dagunya dengan satu tangan. "Waktu kuliah di daerah, lo belajarnya apaan sih?"
"Lebih ke manajemennya, Mas."
"Ya udah, dengerin nih. Kalau perlu lo catet biar otak lo nggak nge-blank pas di jalan," Rafi mengetuk meja kerja Juna dua kali.
Juna merogoh tasnya, menarik buku catatan saku dan pulpen tekan hitam.
"Pertama, lo tentuin dulu mau main di kolam mana," jari telunjuk Rafi membentuk angka satu. "Kalau lo main di corporate, duitnya tebel tapi proses birokrasinya bisa berbulan-bulan. Kalau lo main di UMKM, proses closing-nya cepet, tapi budget mereka terbatas. Kita bedah yang korporat dulu."
Juna menunduk, ujung pulpennya menggores kertas semenjak kata pertama.
"Lo jangan asal ketuk pintu kayak sales panci," lanjut Rafi, bicaranya cepat. "Cari daftar nama perusahaannya dulu di internet, bikin list. Abis itu, lo audit satu-satu digital asetnya. Mana yang udah punya website, mana yang belom. Yang belum punya website, itu target paling legit."