DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #6

6. DUA SISI

Jam digital di pergelangan tangan kiri Juna menunjukkan pukul 12.45. Tubuhnya bergoyang mengikuti sentakan roda bus di atas jalur beton. Tangan kanannya mencengkeram tiang besi pembatas tengah, lengan kirinya menjepit map jinjing plastik hitam tebal berisi tumpukan kertas proposal. Keringat merembes dari pori-pori telapak tangannya. Pandangan Juna menatap barisan teks di luar jendela.

"Website. Payment gateway. Funnel conversion. Customer retention," mulut Juna bergerak tanpa suara.

Beberapa penumpang lain menoleh ke arah Juna, menatap gerakan bibirnya. Mata mereka mengernyit.

Juna memejamkan mata. Napasnya diembuskan perlahan lewat hidung. Rahangnya mengatup keras.

"Anjing..." desisnya pelan, hampir tak terdengar di antara deru mesin bus. "Jangan sok pinter. Jangan kebanyakan ngomong. Dengerin dulu."

Bus mendadak mengerem, suara desis hidrolik panjang terdengar sampai ke dalam kabin. Speaker di atas pintu mengumumkan pemberhentian berikutnya. Pintu geser otomatis terbuka, udara terik bercampur bau asap knalpot masuk ke dalam kabin. Juna melangkah turun, sol sepatunya menghantam lantai halte.

Juna berbelok menyusuri trotoar lebar berubin granit abu-abu. Kepalanya bergeral kanan dan kiri, deretan gedung kaca bertingkat berdiri tegak. Kafe-kafe minimalis dan dinding kaca besar berjejer, barisan meja kayu solid dan kursi besi yang rapi.

Di tepi jalan, deretan sedan mewah dan SUV hitam mengilap meluncur mulus tanpa suara. Orang-orang melangkah keluar-masuk pintu kafe, beberapa orang memakai celana linen yang jatuh dengan rapi, dan sepatu kulit yang mengilat bersih.

Langkah Juna melambat saat melewati papan menu kapur di depan kedai kopi. Kalimat Espresso Blend : 68.000 terpantul di pupil matanya.

Juna menelan ludah. Jemarinya di dalam saku celana menyentuh dua lembar uang dua puluh ribuan. "Jatah makan dua hari."

Dia memalingkan wajah, mempercepat ayunan langkahnya menuju papan nama Glowinc di akrilik putih bagian depan gedung.

Pintu kaca setinggi tiga meter berayun terbuka saat Juna mendorongnya. Aroma parfum ruangan yang manis dari teh putih dan kayu cendana memenuhi ruangan. Suara musik instrumental mengalun lembut dari speaker yang tertanam di langit-langit. Beberapa pot tanaman monster hidup berdaun lebar tumbuh subur di sudut lobi.

Seorang resepsionis perempuan dengan rambut yang disanggul rapi menegakkan posisi duduknya di balik meja marmer. "Selamat siang, ada yang bisa dibantu? Punya janji dengan siapa, Mas?"

Juna membetulkan letak map hitam di bawah ketiaknya. "Siang. Juna dari Nexus. Ada janji dengan Mbak Alika."

Resepsionis itu tersenyum lebar, mengangguk lebih dalam. "Oh, baik Mas Juna. Silakan tunggu sebentar di sofa sebelah sana, saya konfirmasikan ke sekretaris Ibu Alika."

Juna melangkah menuju sofa beludru abu-abu di sudut ruangan. Dia menurunkan tubuhnya perlahan, busa sofa empuk menopang berat badannya.

"Mas Juna? Silakan lewat sini," seorang staf perempuan dengan ID card tergantung di leher memberikan isyarat tangan menuju koridor lantai dua.

Juna mengikuti langkah kaki staf tersebut. Pupil matanya membesar saat melewati pintu akses masuk lantai dua. Ruangan tanpa sekat-sekat kubikel tripleks yang kaku seperti di kantor Nexus.

Matanya bergerak menatap seluruh karyawan berusia dua puluhan. Beberapa pria mengenakan kaos polo hitam polos dengan celana kargo, para perempuan mengenakan kemeja oversized dan blus kasual. Puluhan laptop MacBook dengan logo apel menyala berjejer rapi di atas meja kayu panjang. Ia memperhatikan seorang pemuda yang duduk di dekat jendela, mengenakan sepatu roda kasual di dalam ruangan, tangannya dengan lincah menggeser grafik penjualan di layar monitor melengkung yang besar. Lalu melirik ujung lengan kemejanya

"Silakan masuk, Mas. Ibu Alika akan segera bergabung," staf perempuan itu membukakan pintu ruang pertemuan berdinding kaca buram.

Juna melangkah masuk, meletakkan map hitamnya di atas meja kaca panjang di tengah ruangan.

Dua menit kemudian, gagang pintu bergerak. Pintu terdorong terbuka. Alika Prameswari melangkah masuk. Dia mengenakan blazer rajut krem longgar dipadukan celana kulot hitam yang menutupi ujung sepatu hak tingginya. Rambutnya dikuncir kuda di belakang kepala. Kulit wajahnya bersih, bebas dari riasan tebal.

"Mas Juna?" suara Alika terdengar datar.

Juna mengangguk, melangkah ke depan. "Ya. Siang, Kak Alika." ia mengulurkan tangannya.

Mereka berjabat tangan sesaat. Alika menarik kursi di ujung meja tanpa menunggu Juna duduk, lalu duduk, membuka layar MacBook abu-abunya.

Lihat selengkapnya