DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #7

7. HASRAT

Baling-baling kipas angin di sudut langit-langit berputar pelan. Lampu di Langit-langit sengaja dimatikan. Cahaya kuning redup menyelinap masuk melalui lubang ventilasi di atas pintu. Juna terlentang di atas kasur. Lengan kanannya ditekuk di atas dahi, menutupi matanya yang menatap lurus ke langit-langit.

"Masa sih?" Suara Monic terdengar tipis dari balik dinding, disusul derai tawa yang diredam.

Suara pria menggumam, nadanya rendah dan bergetar.

"Ya serius lah..." potongan kalimat diikuti bunyi gesekan kain yang bergeser di atas lantai kamar sebelah.

Juna membuka matanya. Pupil matanya bergerak ke kiri, terpaku pada permukaan dinding yang berjarak satu meter dari sisi kasurnya. Dia membalikkan tubuhnya, memunggungi dinding, lalu menarik bantal kapuknya tipis untuk menutupi telinganya.

Bunyi halus dari gesekan kain di kamar sebelah menembus kapuk bantal. Suara tawa Monic kembali terdengar. Juna menurunkan bantalnya ke kasur. Rahangnya mengatup rapat, urat lehernya menegang. Kedua matanya menatap ujung jempol kakinya di kegelapan.

"Gue kenapa sih?" Telapak tangannya menutup kedua telinganya. "Gue juga bukan siapa-siapa dia."

Dia kembali membalikkan tubuhnya menghadap dinding.

Deru sepeda motor dari jalan raya Mampang sudah tidak terdengar. Gesekan kain yang terseret di atas kasur terdengar lebih intens. Disusul tarikan napas berat dan tertahan dari balik dinding.

"Ehhm... ehhm. "

Desah napas Monic menembus dinding kamar. Tubuh Juna meringkuk di atas kasur, matanya menatap lurus dinding di depannya. Tangannya bergerak turun secara perlahan di balik celana pendek katunnya yang longgar. Jemarinya mencengkeram bagian pangkalnya yang menegang keras.

"...Ahhh."

Setiap kali desahan Monic di sebelah berbunyi, jemari Juna bergerak naik-turun mengikuti ritme yang sama. Juna memejamkan mata, bayangan Monic mengikat rambutnya yang berantakan, pakaian ketat, kulit paha dan aroma parfum terlintas di matanya yang tertutup.

"Ahhh... pelan..." Lenguhan tipis, nyaris berupa bisikan yang basah, lolos dari celah ventilasi kamar 202.

Gerakan tangan Juna semakin cepat dan kasar bersamaan dengan lenguhan cepat dari kamar sebelah. Tubuhnya mengejang, cairan kental dan hangat menyembur keluar, membasahi telapak tangan dan sebagian permukaan paha bagian dalam. Napas Juna terengah-engah melalui mulut, dadanya naik-turun di dalam kegelapan.

Keheningan kembali merapat ke dalam kamar 203. Juna menurunkan tangannya, terkulai di atas kasur. Matanya menatap telapak tangannya yang berkilau samar. Dia menarik selembar tisu lecek dari lantai, menyeka jemarinya lambat. Sudut matanya berkedut kecil, menatap kosong ke arah langit-langit.

Sinar matahari pagi menembus celah-celah ventilasi koridor lantai dua, aroma uap nasi yang dimasak dari dapur bawah masuk ke kamar. Juna menjinjing gayung plastik hijau berisi sabun dan handuk kecil yang tersampir di bahu. Rambutnya masih setengah basah.

Pintu kayu kamar nomor 202 berayun terbuka saat Ia keluar dari kamar. Monic melangkah keluar, mengenakan tangtop putih hampir transparan dan celana pendek garis-garis. Rambut hitamnya digulung asal-asalan ke atas menggunakan jepitan, beberapa anak rambut jatuh di sekitar lehernya. Wajahnya polos tanpa riasan, sedikit mengantuk, lingkaran hitam tipis di bawah kelopak matanya.

"Pagi, Jun," Monic meregangkan kedua tangannya ke atas, bagian bawah tangtopnya terangkat.

Langkah Juna terhenri, matanya menatap pinggang Monic yang terbuka. Gayung di tangan kanannya bergoyang. "Oh... pagi."

Monic menurunkan tangannya, lalu menyipitkan mata menatap wajah Juna dari ujung rambut hingga dagu. "Muka lo kok ditekuk gitu? Kusut amat. Abis diomelin bos lo ya kemarin?"

Juna memindahkan gayung plastiknya ke tangan kiri, matanya bergerak menatap dahi Monic, lalu turun ke dada, beralih ke gagang pintu kamar 202."Hah? Nggak. Nggak ada yang ngomelin."

Monic terkekeh. "Ya udah, jangan lemes amat. Masih pagi juga." Dia berbalik, melangkah pelan menuju wastafel umum di ujung koridor.

Juna menatap punggung Monic yang menjauh. Jemari tangan kanannya meremas pinggiran gayung plastik, urat lengannya menonjol.

Angin siang berhembus panas masuk ke teras kosan. Kipas angin duduk diletakkan di atas meja kayu kecil di ruang tengah lantai satu, berputar ke kanan dan ke kiri tanpa henti. Bang Ucup duduk di atas ubin, menatap aplikasi di ponselnya, masih mengenakan jaket ojek onlinenya.

Deni rebahan di sampingnya, tangan menekuk di bawah kepalanya. Matanya setengah terpejam, jam dinding sudah menunjuk angka sebelas lewat lima belas. Dita dan Nara duduk di bangku panjang, berbagi sebungkus keripik singkong.

"Hari libur begini lu kagak istirahat, Cup?" Deni membuka matanya, menatap bahu Ucup.

Bang Ucup menghela napas, jempolnya mengusap layarnya. "Gimana mau istirahat, Den. Beras per kilo udah naik lagi serebu. Anak gue yang gede juga minta beli buku gambar besok senin. Kalau kagak narik tiga belas poin hari ini, tekor dapur."

Dita mengambil selembar keripik singkong, mengunyahnya pelan. "Sama aja, Bang. Di minimarket depan juga diskonan minyak goreng udah nggak ada minggu ini. Emak-emak pada ngedumel semua di kasir."

"Makanya," Deni bangkit, duduk bersandar di tiang beton teras, tangannya mengusap wajahnya. "Kalau gue kaya, punya duit banyak di bank, gue kagak bakal kerja seumur hidup. Rebus mi instan, tidur, main game. Udah, begitu aja tiap hari."

Bang Ucup menoleh, bibirnya mencibir sambil menaruh ponselnya di atas lantai. "Bohong. Kagak bakal bisa lu begitu."

"Kenapa kagak bisa? Kan duitnya udah banyak," sahut Deni.

"Soalnya lu miskin itu bukan karena kagak punya duit, Den," Ujung jari Bang Ucup mengetuk dahi Deni. "Lu miskin karena emang bawaan lu males dari orok. Mau dikasih duit sekarung juga seminggu jdah abis, lu pasti balik rebahan lagi sambil ngutang ke warung."

Kripik singkong menyembur dari mulut Dita. Nara tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Lihat selengkapnya