DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #8

8. JUAL PULPEN INI

Ujung jari telunjuk Juna tertahan di atas tombol gulir tetikus komputer. Matanya menatap barisan spreadsheet di layar monitor di depannya. Tatapannya bergerak ke kolom Ghosting, nanti dihubungi lagi, dan Tidak tertarik. Udara dari kisi-kisi AC di langit-langit meniup tengkuknya.

Juna menatap nama Percetaka Berkah Agung di satu baris nama di baris nomor 42, lalu berpindah ke catatan Dikasih air mineral, belum butuh web di kolom keterangan.

"Ngapain bengong?" Rafi menepuk bahu Juna, tangannya memegang gelas kertas berisi kopi instan. Asap tipis mengepul di atasnya.

Juna menoleh. "Mau follow up."

"Ya telepon. Kenapa melongo kayak ayam belum dikasih makan?" Rafi menyesap kopinya.

"Takut ganggu," suara Juna pelan, jarinya beralih memutar ujung kabel telepon yang melingkar di atas meja. "Kemarin pas gue ke sana, dia lagi sibuk mindahin kardus tinta."

Rafi terkekeh, menurunkan gelas kopinya. "Kalau takut ganggu orang, jangan jadi sales, Jun. Jadi penjaga kubur aja. Di sana nggak ada yang bakal komplain kalau lo diemin."

Rafi menepuk pundak Juna sekali lagi. "Telepon sekarang. Keburu siang, keburu orangnya mager." Lalu melangkah pergi menuju mejanya sendiri.

Juna menarik napas panjang, Jari tangannya meraih gagang telepon, menekan kombinasi angka nomor kantor Pak Hasan satu per satu.

Klik.

"Halo, Berkah Agung." Suara laki-laki tua terdengar di seberang, diikuti bunyi mesin cetak offset yang menderu samar.

Juna membetulkan posisi duduknya, punggungnya menegak. "Selamat pagi, Pak Hasan. Saya Juna dari Nexus. Yang... dua minggu lalu sempat mampir ke tempat Bapak."

Suara deru mesin mengisi kekosongan.

"Juna... Oh, si sales website ya?"

Juna menahan napasnya, sudut bibirnya berkedut. "Iya, Pak. Benar. Yang waktu itu Bapak kasih air mineral."

"Ah, iya, iya. Gimana, Mas?"

"Anu, Pak... saya cuma mau menanyakan kembali, kira-kira untuk penawaran sistem profil digital yang kemarin sempat saya tinggalkan di meja, apakah sudah sempat dilihat?" Juna menggigit bibir bawahnya.

Suara mesin di seberang mendadak mengecil. "Oh, itu. Kemarin anak saya yang gede sempat buka-buka kertasnya. Dia katanya lagi pusing nyari orang buat bikin portofolio online cetakan biar bisa pasang iklan di Google."

Juna menegakkan punggungnya, bersandar kaku pada kursi. "Bisa, Pak. Kita bisa bantu buatkan landing page khusus portofolio dan integrasi formulir pesanan langsung."

"Nah, kebetulan. Hari ini kamu bisa mampir ke sini nggak? Agak siangan, jam satu pas istirahat mesin. Biar ngobrol langsung sama anak saya."

Juna melirik angka 09.45 di jam digital di pojok kanan bawah monitornya . "Bisa, Pak. Jam satu siang saya sudah di sana."

"Ya sudah, ditunggu ya."

Juna menurunkan gagang telepon ke tempatnya kembali. Bekas keringat telapak tangannya tertinggal di gagang telepon.

***

Aroma menyengat dari tinta cetak kimia dan uap panas dari mesin offset langsung memenuhi udara. Juna melangkah melewati pintu percetakan Berkah Agung. Tumpukan kertas plano setinggi dada manusia berjejer di sudut ruangan.

Pak Hasan duduk di balik meja kayu tua. Seorang pria duduk di sebelahnya, memegang lembaran proposal milik Nexus.

"Ini Juna yang tadi bapak ceritain," Jempol pak Hasan menunjuk ke arah Juna menaruh tas ranselnya di lantai. "Nah, ini anak saya, Rian."

Juna mengulurkan tangan. Rian menyambutnya.

"Saya udah lihat proposalnya, Mas," Rian menaruh proposal ke atas meja. Matanya menatap lurus ke arah Juna. "Tapi sebenernya, yang kami butuh di sini bukan sekadar company profile yang isinya sejarah perusahaan atau visi misi. Cetakan begini nggak butuh visi misi di internet, Mas."

Juna mengangguk, lalu menarik kursi plastik hijau di depan meja. "Mas Rian butuhnya yang seperti apa? Biar kita sesuaikan strukturnya."

"Gini," Rian mencondongkan badannya, ujung telenjuknya mengetuk lembaran proposal Nexus. "Bulan depan kita mau masukin jasa cetak kemasan produk UMKM ke iklan digital. Saya butuh halaman yang kalau orang klik dari Google, mereka langsung bisa lihat contoh kotak kemasan yang pernah kita bikin, pilih bahan, hitung estimasi harga per seribu botol, terus langsung pencet tombol buat kirim detailnya ke WhatsApp admin."

Juna membuka buku catatan kecilnya, menggoreskan pulpen hitamnya membentuk tiga kotak horizontal. "Berarti kita buat landing page satu halaman penuh. Bagian atas langsung galeri hasil cetak kemasan. Di bawahnya kita pasang kalkulator simulasi harga berdasarkan volume dan jenis bahan. Jadi konsumen nggak perlu nanya harga manual lagi ke admin."

Rian diam sebentar, matanya menatap coretan kotak di buku Juna. "Bisa bikin kalkulator otomatis begitu di web?"

"Bisa. Sistemnya kita kunci di draf formulir pemesanan. Begitu mereka klik jenis kertas kargo atau art paper, nominal totalnya langsung berubah di layar sebelum mereka submit," Juna membalik halaman bukunya, menyodorkan sketsa ke depan Rian.

Rian beralih menatap Pak Hasan yang mendengarkan sambil menghisap rokok kreteknya. Pak Hasan mengangguk pelan.

"Berapa biayanya kalau kustomisasi kayak gitu?" Rian menoleh ke Juna.

Pupil mata Juna bergerak ke atas. "Dua belas juta, Mas. Itu sudah termasuk optimasi kecepatan muat halaman di HP dan pemeliharaan server gratis selama enam tahun pertama."

Lihat selengkapnya