DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #9

9. LELAH

Matahari siang memantul dari kaca gedung Glownic. Di dalam lobi, dengung pendingin ruangan meredam raung knalpot kendaraan dari arah jalan raya. Bayangan lampu gantung memantul di lantai marmer putih.

Seorang perempuan di balik meja resepsionis mendongak. Jemarinya berhenti di atas papan ketik. "Mas Juna ya?"

Juna menghentikan langkah tepat di batas karpet wol kelabu. Tas ranselnya tergantung di satu pundak. "Iya, Mbak."

"Kak Alika sudah menunggu di dalam. Langsung ke ruangan yang kemarin saja." Perempuan itu tersenyum, lalu kembali menatap layar monitornya.

Juna mengangguk kecil, lalu melangkah di koridor menuju ruang rapat, aroma terapi lavender mengalir dari sudut-sudut plafon.

Pintu kaca buram ruang rapat sudah terbuka sedikit.

Alika duduk di kursi ujung meja. Rambutnya diikat rapi ke belakang, beberapa helai jatuh di dekat daun telinga. Di depannya, tiga lembar kertas proposal penawaran Nexus di penuhi garis-garis spidol merah melintang di beberapa baris angka. Empat warna sticky notes merah muda dan kuning menempel acak di pinggiran kertas, penuh tulisan tangan yang miring dan rapat.

"Masuk, Juna," kata Alika tanpa mengangkat wajah. "Duduk."

Juna menarik kursi di sisi dekat ujung meja. Buku catatan kecil diletakkannya di atas meja.

"Saya sudah baca rincian biaya yang kamu kirim," Alika membalik halaman pertama. Matanya menatap lurus ke arah Juna. "Di sini tertulis biaya pemeliharaan infrastruktur bulanan mencakup monitoring performa 24 jam. Pertanyaan saya, kalau server down jam dua belas malam pas pergantian hari, siapa yang pegang kendali?"

"Ada tim maintenance yang standby bergilir, Kak. Sistem kami pakai notifikasi otomatis ke Telegram internal tim teknis begitu ada lonjakan di atas lima persen," Juna membuka halaman catatannya.

"Berapa lama response time-nya sampai web bisa diakses lagi?"

"Maksimal dua jam untuk penanganan eror kritis."

Alika mengetuk ujung penanya ke meja. "Dua jam itu kelamaan untuk ukuran brand kosmetik. Kalau erornya pas menit pertama flash sale tanggal kembar, dua jam itu artinya saya kehilangan potensi omzet seratus lima puluh juta. Bisa dipangkas?"

Juna menarik napas pendek, jarinya menelusuri pinggiran buku catatan. "Bisa, kalau kita pakai skenario backup resource yang aktif otomatis di jam-jam sibuk. Tapi ada biaya tambahan untuk sewa komputasi awan dinamis. Di proposal belum saya masukkan karena harganya fluktuatif."

Alika berhenti mengetuk pena, menarik salah satu sticky notes kuning, menempelkannya tepat di atas kolom biaya operasional, lalu menuliskan satu angka. "Tulis rincian teknisnya, kirim ke email saya nanti malam. Saya mau lihat simulasi bebannya sebelum tanda tangan."

Alika menyandarkan punggung, bahunya mengendur. Lipatan tipis di antara kedua alisnya menghilang. "Saya suka cara kamu jawab," ia menutup map proposal. "Nggak pakai bahasa brosur yang muter-muter."

Juna melepas napasnya perlahan lewat hidung.

"Kamu nggak buru-buru balik ke kantor, kan?" Alika melirik jam tangan kulit hitam di pergelangan kiri sambil merapikan map.

Juna melirik layar ponselnya yang mati. "Masih aman. Jadwal kunjungan lapangan saya bebas sampai sore."

"Ngopi yuk." Alika berdiri, meraih tas tangan hitamnya tanpa menunggu jawaban Juna.

Matahari sore Jakarta mulai condong ke barat, bayangan tiang listrik memanjang di atas trotoar berbatu.

Langkah mereka terhenti di depan kedia kopi. Papan nama Kala Kopi terpantul di pupil matanya. Alika melangkah masuk lebih dulu, Juna mengikuti di belakangnya. Pintu kaca kafe berayun terbuka, udara dingin beraroma biji kopi yang terpanggang gosong dan susu yang diuapkan bercampur di dalam ruangan.

Di balik mesin espresso perak dua grup, seorang perempuan dengan rambut dikuncir asal, ia menyeka portafilter dengan kain hitam. Apron kanvasnya penuh noda cokelat kering di bagian perut.

Nara mengangkat kepala saat bel pintu berdenting. Tatapannya melewati bahu Alika, lalu berhenti tepat di wajah Juna. Alis kirinya naik. Tangannya yang memegang kain lap berhenti bergerak, lalu kembali menggosok pinggiran baja mesin.

Juna menahan pandangannya di ujung meja bar.

"Mau pesan apa?" Alika berdiri di depan kasir, jarinya menunjuk papan menu akrilik.

"Americano dingin aja, Mbak."

"Americano satu, Latte hangat satu. Gula arennya pisah," kata Alika pada staf kasir di sebelah Nara.

Nara mengambil dua gelas kaca dari rak atas tanpa bersuara. Tangannya memutar tuas penggiling kopi, deru mesin pencacah biji kopi mengisi kekosongan di antara musik jaz instrumental yang mengalun pelan dari pengeras suara di sudut ruangan.

Bongkahan es di gelas kaca mulai mencair, Alika menyesap lattenya sedikit, meninggalkan bekas busa putih tipis di sudut bibirnya, lalu menyeka dengan tisu. "Saya ada masalah di laporan keuangan bulan kemarin," matanya menatap keluar jendela, mengamati barisan motor yang terjebak macet di jalur lambat. "Penjualan Glownic naik hampir tiga puluh persen setelah pakai influencer TikTok. Tapi setelah dihitung bersih, keuntungan yang masuk ke kas perusahaan nggak naik setara dengan biaya operasionalnya."

Juna memutar gelasnya, es batu berbenturan dengan dinding kaca. "Persentase repeat order-nya berapa dari total penjualan kemarin?"

Alika menoleh kembali ke meja, dahinya berkerut. "Maksudnya?"

"Dari seratus orang yang beli produk karena lihat video iklan bulan lalu, berapa orang yang balik lagi buat beli botol kedua di bulan ini tanpa harus dipicu iklan baru?"

Jari Alika memainkan tangkai sendok kecil di samping cangkirnya. "Sistem kasir kami belum misahin data konsumen baru dan konsumen lama. Semuanya masuk ke total omzet harian."

"Nah, itu masalah utamanya," Juna mencondongkan badannya ke depan, kedua lengannya bertumpu di atas meja. "Semua brand baru biasanya habis-habisan bakar uang buat nyari pembeli baru. Padahal, biaya untuk dapetin satu konsumen baru itu bisa lima sampai sepuluh kali lebih mahal dibanding ngejual lagi ke orang yang udah pernah beli."

Tatapan Alika lurus ke arah jemari Juna yang bergerak membuat ilustrasi lingkaran di atas meja.

"Jadi menurut kamu saya harus gimana?"

"Jangan jual serum."

Bunyi ketukan knockbox dari tempat Nara membuang ampas kopi terdengar tiga kali sampai ke tempat mereka duduk.

"Maksudnya?" Alika melipat tangannya di dada.

"Orang nggak beli bor karena mereka pengen punya mesin bor di rumah, Mbak. Mereka beli bor karena mereka butuh lubang di dinding buat majang foto keluarga," Juna menjeda kalimatnya. "Sama kayak Glownic. Orang nggak beli cairan bening di dalam botol kaca ukuran tiga puluh mili. Mereka beli rasa percaya diri pas mau ketemu orang atau pas lagi ngaca di kamar mandi pagi hari. Jual hasil akhirnya, bukan kandungan kimianya."

Lihat selengkapnya