Gorden vitras putih setinggi empat meter meredam cahaya matahari pagi Pondok Indah. Di tengah ruangan, meja makan dari kayu ek padat membentang sepanjang tiga meter. Bunyi denting halus dari sendok perak yang beradu dengan mangkuk porselen memecah keheningan. Aroma roti gandum yang baru dipanggang, mentega asin, dan uap dari seduhan kopi arabika menggantung di udara ruang makan.
Seorang wanita paruh baya dengan rambut sasak rapi dan gelang giok di pergelangan tangan kirinya meletakkan cangkir teh. Matanya melirik ke arah tangga melingkar di sudut ruangan. "Alvaro belum bangun juga, Pi?" suara Kartika Prameswari datar, jarinya menggeser piring berisi potongan buah kiwi dan stroberi impor ke tengah meja.
Di ujung meja, seorang pria berkacamata dengan rambut memutih di pelipisnya membalik halaman koran bisnis bulanan, meluruskan lipatannya dengan ujung telunjuk, lalu menyesap espresso dari cangkir kecil. "Semalam tidurnya jam tiga. Biarin saja, hari ini dia nggak ada kelas pagi."
Langkah kaki lambat terdengar dari arah tangga. Alvaro turun, piyama sutra abu-abu yang longgar di tubuhnya. Rambutnya berantakan, matanya menyipit menembus cahaya dari jendela kaca besar. Dia menarik kursi di sebelah Kartika , tubuhnya merosot, dagunya sejajar dengan sandaran meja, lalu meraih sebotol susu segar dari dalam ember es kecil.
"Alvaro, duduk yang tegak. Sudah umur berapa kamu," tegur Kartika , tangannya mengoleskan selai beri di sepotong roti sourdough hangat lalu meletakkannya di piring Alvaro.
Alika duduk di seberang Alvaro. Jari-jarinya memegang pisau kecil, memotong bagian atas telur setengah matang di dalam mangkuk keramik kecil.
Albert Prameswari menurunkan korannya. Kacamata bacanya digeser ke ujung hidung, matanya menatap lurus ke arah Alika. "Glowinc gimana?"
Gerakan tangan Alika berhenti di udara. Ujung sendok peraknya bergetar. "Minggu ini ada kenaikan volume pesanan, Pih. Aku lagi optimasi sistem digitalnya buat persiapan bulan depan."
"Hmm," Albert mengangguk sekali.
Langkah kaki Alvin Prameswari teredam di atas karpet beludru, masuk dengan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi. Tas kerja kulitnya diletakkan di atas meja dekat pintu masuk ruang makan. Dia berjalan menuju meja makan, mencium pipi Kartika sekilas, lalu duduk di kursi sebelah Albert.
"Alvin sarapan di rumah?" Kartika menggeser mangkuk buah dan piring sosis ke depan Alvin.
"Iya, Mih," Alvin mengambil sepotong apel, mengunyahnya pelan. Wajahnya bersih, tidak ada lingkaran hitam di bawah mata.
Albert meletakkan korannya sepenuhnya ke atas meja. "Gimana lini FMCG kita? Laporan dari anak perusahaan belum masuk ke meja Papi."
Alvin tersenyum tipis, tangannya menyeka ujung bibir dengan serbet kain. "Rilis sabun cair organik kita kemarin aman, Pih. Alvin sengaja potong jalur distribusi logistik langsung pakai armada holding kita sendiri. Hari pertama rilis, barang sudah fully-stocked di tiga jaringan ritel terbesar nasional. Target kuartal awal langsung aman."
Kartika tersenyum lebar. "Mami bilang juga apa. Jalur logistik Papi kalau digabung sama taktik FMCG kamu itu nggak pernah meleset. Kamu memang selalu tahu cara eksekusi pasar, Vin."
"Kak Alvin emang monster sih. Otaknya isinya duit semua," Alvaro menyahut dari balik gelas susunya, kepalanya menggeleng-geleng kagum.
Tawa kecil pecah di meja makan. Albert tersenyum lebar, menepuk bahu Alvin dua kali. Alika ikut menarik sudut bibirnya. Tangannya meremas kain celana kulotnya di bawah meja makan.
Alvin melirik ke arah Alika. "Glowinc juga bagus kok, Pih. Kemarin Alvin lihat iklannya lewat terus di beranda. Di umur Alika yang sekarang, bisa pegang brand mandiri sampai tahap ini sudah luar biasa."
Alika meletakkan sendoknya ke atas piring keramik. "Makasih, Kak."
Albert mendorong cangkir espressonya yang sudah kosong ke tengah. "Kalau memang kamu keteteran urusan logistik atau server di Glowinc, Alika, lebih baik masuk ke struktur grup saja. Papa bisa siapkan posisi Direktur Pemasaran untuk lini retail. Nanti Papa panggilkan konsultan senior dari Singapura untuk benahi sistem kamu yang sekarang."
Bunyi detak jam dinding antik di dekat ruang tamu terdengar ketukan demi ketukan.