Ujung sapu ijuk menyusuri celah antara kaki meja besi dan lantai semen ekspos yang masih dingin. Nara menegakkan punggung, bersandar di gagang sapu.
Dia berjalan ke belakang meja bar. Kedua tangannya bertumpu di permukaan kayu meja konter. Jarinya menekan tombol daya mesin espresso perak. Bunyi klik diikuti deru rendah dari pompa air di dalam mesin. Jarum indikator tekanan di panel depan bergerak lambat, merayap naik dari angka nol menuju area hijau.
Nara membuka pintu lemari es di bawah meja bar. Dua belas kotak susu UHT berjejer rapat, mengeluarkan dua kotak, menaruhnya di atas meja, lalu mengetuk dagunya dengan ujung telunjuk saat melihat sisa ruang kosong di dalam rak.
Ponsel di dalam saku apron kanvasnya bergetar. Nara merogohnya tanpa tergesa-gesa.
Si Bos
Susu tinggal 2 karton. Jangan lupa order buat minggu depan. Stok banyakin, awal bulan biasanya ramai.
Nara menatap layar ponsel beberapa detik. Ibu jarinya bergerak cepat.
Nara
Siap.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam apron. lalu membuka laci kasir, menarik buku catatan. Matanya menatap tulisan tangan tiga puluh dua cangkir milk-based, belasan black coffee, tiga potong croissant di catatan penjualan. Angka totalnya digarisbawahi dua kali.
Nara menutup buku itu, memasukkannya kembali ke laci, lalu meraih kain lap flanel setengah basah dari gantungan bawah sink. Dia mulai menggosok permukaan baja tahan karat pada mesin espresso yang mulai mengeluarkan uap hangat dari lubang pembuangan. Aroma logam panas dan sisa bubuk kopi kering dari saringan malam mulai menguap, memenuhi ruang kafe yang masih sepi.
Bel di atas pintu kaca berdenting tiga kali berturut-turut dalam sepuluh menit. Musik jaz instrumental bervolume rendah dari pengeras suara di sudut plafon tenggelam di antara deru bising jalan raya yang mulai padat. Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma mentega dari pemanggang roti dan uap kopi.
Seorang pria duduk di meja nomor tiga dekat jendela. Di depannya, sebuah laptop menyala menampilkan bagan organisasi berwarna biru. Pria itu terus memilin ujung kerah kemejanya, matanya bergerak cepat antara layar dan jam digital di sudut bawah monitor. Saat pintu kafe terbuka lagi, bahunya menegak, kepalanya menoleh cepat lalu mengendur kembali ketika yang masuk seorang kurir paket.
Pandnagan Nara turu ke cangkir keramik putih. Cairan cokelat pekat mengalir lambat.
Di meja sudut dekat toilet, seorang wanita dengan blazer hitam duduk berhadapan dengan seorang pria muda yang mengenakan kemeja putih polos. Wanita itu berbicara tanpa jeda, jarinya menunjuk lembar portofolio di atas meja. Pria muda di depannya mendengarkan sambil menopang dagu, tersenyum lebar, sesekali melirik ke arah pantulan dirinya di kaca jendela belakang wanita itu. Setiap kali wanita itu berhenti untuk mengambil napas, pria muda itu mengangguk cepat, tangannya bergerak merapikan jam tangan peraknya yang sengaja digeser agar mencuat dari balik manset kemeja.
Nara memutar tuas uap. Desis kencang dari pipa pemanas memotong suara obrolan di ruangan. Susu di dalam jargon besi berputar, membentuk pusaran busa halus.
Nara mengantar cangkir itu ke meja sudut, meletakkan tatakan keramik tepat di sisi kiri pria muda berkemeja putih. Pria itu sedikit tersentak, menurunkan tangannya ke bawah meja, wanita di depannya terus berbicara tentang target pertumbuhan kuartal ketiga.
Nara kembali ke balik meja bar, meraih kain lap hitam, menyeka sisa uap di pipa besi. Matanya kembali menatap lurus ke arah jalan raya di luar kaca, mengamati barisan kendaraan yang merayap di bawah terik matahari Jakarta yang mulai memanas.
Pukul empat sore, bayangan tiang listrik di seberang jalan memanjang, memotong trotoar berbatu. Keramaian di dalam kafe mulai menyusut, dua orang mahasiswa yang memakai earphone besar di meja paling belakang.