DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #12

12. CLOSING

Ujung kertas dari gulungan printer kasir di sudut ruangan berderik pelan, mengeluarkan lembar manifes pengiriman yang terpotong otomatis. Aroma kopi saset rasa hazelnut dari cangkir plastik mika bercampur dengan bau pengap karpet yang belum divakum. Jam digital di dinding atas dispenser menunjukkan pukul 08.17. Bunyi ketukan papan ketik dari bilik meja admin di sudut kiri beradu dengan desis AC sentral.

Juna meletakkan tas ranselnya di lantai, tepat di sebelah kaki meja. Dia menarik kursi kerja beroda.

Bzzzt... Bzzzt...

Ponselnya bergeser, menabrak tumpukan brosur proyek Berkah Agung yang belum dirapikan. Layar berkedip, nama Alika Prameswari bergerak di layar lonsel.

Punggung Juna menegak. Lengannya bergerak cepat, menyambar ponsel sebelum getaran ketiga selesai. Jempolnya menggeser ikon hijau.

"Selamat pagi, Kak," Juna merendahkan volume suaranya, tangan kirinya merapikan letak kerah kemejanya.

"Juna, saya nggak ganggu?" Suara di seberang terdengar jernih.

"Nggak kok, Kak. Ini baru sampai kantor."

"Proposal revisi biaya sewa server dinamis yang kamu kirim kemarin malam sudah saya pelajari bareng tim operasional." Alika menjeda kalimatnya, suara napasnya terdengar samar dari speaker ponsel. "Saya setuju."

Juna berkedip sekali. Matanya menatap retakan kecil di sudut meja kerjanya. "Setuju... semuanya, Kak? Termasuk skenario mitigasi lonjakan kuartal pertama?"

Alika tertawa. "Iya, semuanya. Angka akhirnya masuk dalam kalkulasi margin kami. Sore ini kamu bisa datang ke kantor Glowinc?"

Juna menelan ludah. "Bisa, Kak. Jam berapa?"

"Kita kick-off meeting bareng tim legal dan finance sekalian. Jam tiga sore. Saya tunggu di ruang rapat, ya."

"Baik, Kak. Sore ini jam tiga saya ke sana."

"Terima kasih, Juna."

Sambungan terputus. Juna menurunkan ponselnya perlahan, punggung tangannya mendarat di atas permukaan meja. Layar ponselnya menggelap, bayangan wajahnya terpantul di layar.

"Anjir," gumam Juna pelan.

Rafi menoleh dari meja sebelah. Satu alisnya terangkat menatap Juna. "Kenapa lo? Muka lo kayak habis liat hantu penunggu dispenser."

Juna berdiri, kursi berodanya terdorong ke belakang menabrak lemari arsip besi. Langkah kakinya cepat, setengah berlari menyusuri lorong pendek menuju pintu kayu bercat cokelat tua di ujung ruangan.

Tok! Tok!

"Masuk," suara berat dari dalam menyahut.

Juna mendorong pintu. Anto duduk menghadap dua monitor besar. Tangan kanannya memegang tetikus, tangan kirinya memegang rokok elektrik.

Juna berjalan mendekat, meletakkan ponselnya tepat di samping papan ketik Anto. "Glowinc jadi, Pak."

Telunjuk Anto mengetuk tombol tetikus dua kali. "Glowinc yang mana? Klien kosmetik lokal yang kemarin lo tawarin paket hosting ekonomis?"

"Bukan. Glowinc. Glowinc yang jadi target kita," jarinya menunjuk ke riwayat panggil terakhir di layar ponselnya.

Gerakan tangan Anto berhenti. Dia memutar kursinya, menghadap Juna. Asap rokok dari mulutnya dihembuskan lambat. "Glowinc? Yang billboard raksasanya ada di tikungan Sudirman dekat stasiun MRT itu?"

Juna mengangguk.

Anto menatap mata Juna. "Yang kemarin rilis produk baru terus situs webnya sempat down dua jam karena over-kapasitas?"

"Iya, Mas. Mereka setuju pakai arsitektur cloud dinamis yang kita tawarkan. Sore ini jam tiga, mereka minta kick-off meeting sekalian tanda tangan kontrak."

Pintu ruangan didorong dari luar. Rafi masuk membawa berkas dokumen, diikuti dua sales senior lainnya yang buku catatan. "Ada apa sih? Suara lo kedengaran sampai meja admin depan, Juna."

Lihat selengkapnya