Wiper mobil Avanza perak milik Anto berdecit lambat, menyapu sisa gerimis yang menempel di kaca depan. Cahaya lampu jalan memantul di aspal hitam Jalan Gatot Subroto. Juna duduk di baris tengah, menjepit tas ranselnya di kedua lutut. Di sebelahnya, Rafi sedikit menurunkan kaca jendela, angin malam yang basah menyisup masuk lewat celah sempit.
"Kita nggak langsung balik ke arah Mampang, Mas?" Juna melirik jam tangannya.
Anto menatap Juna dari spion tengah, jari telunjuknya mengetuk setir mengikuti irama lagu dangdut koplo yang mengalun dari radio tape. "Tenang, Jun. Anak muda jangan buru-buru pulang. Ini jamnya Jakarta baru mulai napas."
Mobil berbelok ke kiri, memasuki pelataran parkir basement yang dijaga oleh dua pria berbadan tegap. Papan nama Executive Club & Karakoe - 7th Floor di atas kepala mereka.
Anto turun lebih dulu, diikuti Rafi dan Juna, lalu Danang dan Bayu.
Langkah Juna tertahan di samping pintu mobil. Matanya menatap bayangan papan nama neon yang memantul di atas kap mesin yang masih panas. "Kita ngapain kesini, Pak? mau meeting lagi?"
Rafi memukul tengkuk Juna pelan. "Goblok. Tampang lo jangan kayak anak ilang gitu, dong."
Pintu lift terbuka, Langkah mereka teredam di atas karpet beludru merah maroon tebal. Dinding sepanjang lorong dilapisi wallpaper beludru hitam bermotif sulur emas, lampu-lampu dinding meredup. Aroma wangi esensial musk yang pekat bercampur dengan sisa asap rokok cengkeh dari ruangan-ruangan yang tertutup tercium samar.
Seorang pria setelan jas rapi membungkuk hormat, menuntun mereka melewati beberapa pintu peredam suara, berhenti di depan pintu nomor 703.
"Silakan, Pak Anto," pria itu membukakan pintu.
Sofa kulit untuk lima belas orang melingkar di tengah ruangan. Dua ember es batu, beberapa botol air mineral, dan gelas mika kosong di atas meja. Juna menafap video musik di layar LED berukuran hampir seratus inci.
Anto melangkah ke sudut sofa paling dekat dengan pintu, menyandarkan punggungnya, melonggarkan ikatan simpul dasinya. Danang dan Bayu menyambar buku menu lagu digital, Rafi membuka kaleng soda pertama, menuangkannya ke dalam gelas berisi es batu.
"Duduk, Jun. Jangan tegak begitu kayak mau upacara," Bayu melempar bantal sofa kecil ke arah paha Juna.
Juna duduk di tengah sofa, meletakkan ranselnya di lantai, tepat di bawah kakinya. Cahaya lampu LED dari layar besar berganti warna dari biru ke hijau, menerangi wajahnya. Bahunya turun saat Danang mulai menyanyikan lagu rock lawas.
Di ujung sofa lain, Bayu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ibu jarinya bergerak cepat di atas layar mengirimkan satu baris kalimat pendek ke sebuah kontak tanpa nama.
Bayu
Mon, ruang 703 ya. Bawa yang oke.
Pintu peredam suara kamar 703 terbuka pelan, cahaya koridor masuk memotong keremangan ruangan. Dua orang wanita melangkah masuk beriringan.
Wanita pertama mengenakan gaun mini berbahan brokat hitam yang melekat ketat di tubuhnya, lengannya putih bersih di bawah sorotan lampu remang. Rambut panjangnya menyentuh pundaknya yang terbuka. Di belakangnya, wanita kedua melangkah lambat, mengenakan terusan satin merah marun dengan potongan dada rendah, rambutnya dibiarkan jatuh bergelombang di satu sisi bahu.
Suara nyanyian Danang meninggi, menyambut kedatangan mereka dengan lambaian tangan.
Juna terdiam. Matanya menatap Monic yang berdiri di dekat ujung meja kaca. Di sebelahnya, Dita berdiri membetulkan letak tali gaun satinnya di bahu.
Monic mengedarkan pandangan ke seluruh sofa. Tatapannya berhenti di tengah sofa, pupil matanya melebar, lalu tersenyum. Dita mendongak setelah merapikan gaunnya, ikut menatap ke arah yang sama. Tubuhnya menegang, jemarinya meremas kain kulit tas itu hingga berkerut.
"Sore, Pak Bayu, Pak Danang," Monic melangkah maju, menyelip di antara kaki meja dan sofa menuju tempat Bayu duduk.
Monic duduk di samping Bayu dan Danang, pahanya menempel di celana kain abu-abu Bayu. Tangannya meraih botol minuman di atas meja, menuangkan cairan ke dalam gelas Bayu, dadanya condong maju, hampir menyentuh lengan Bayu.
"Lama banget sih, Mon. Keburu kering ini tenggorokan," Bayu terkekeh, tangan kanannya mendarat di atas pinggang Monic, meremas pelan, meliuk mengikuti lekuk tubuhnya.
"Antre di depan, Pak. Banyak tamu dari lantai bawah," Monic mendongak, leher jenjangnya tersorot lampu ungu.