DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #14

14. TOPENG

Sinar matahari pukul sepuluh menembus kaca jendela koridor lantai dua kosan Mampang yang berdebu, garis-garis penuh partikel udara yang melayang. Dari lantai bawah, deru mesin motor matik yang dipanaskan bersahutan dengan teriakan melengking tukang gas keliling yang memukul tabung besi dengan kunci pas. Suara tawa penonton dari acara komedi televisi di dalam kamar Bang Ucup terdengar samar, teredam dinding yang tipis.

Juna telentang di atas kasurnya. Kedua kelopak matanya berkedip pelan, urat di bagian kepalamya berdenyut.

Juna bangkit perlahan, memegangi dahinya. Ia berjalan keluar kamarnya menganakan celana kolor dan kaos dalam hitam, tangannya menggenggam gayung berisi alat mandi.

Langkahnya terhenti di tengah tangga besi, Pandangannya tertuju ke jemuran kain di depan kamar 104, gaun satin merah marun bergoyan pelan ditiup angin.

Dita berdiri di balik jemuran, rambutnya diikat cepol asal ke atas dengan jepitan plastik hitam, beberapa anak rambut basah menempel di tengkuknya. Tangannya memegang hanger baju mendadak berhenti di udara mendengar derit tangga besi saat Juna melanjutkan langkah.

Mata mereka bertemu. Dita membuang muka, jari-jarinya merapikan lipatan celana jins di gantungan. Juna menghentikan langkah, jemarinya meremas gagang gayung plastik lebih kencang. Ibu jarinya bergerak membuka layar ponsel yang mati, dahinya berkerut menatap layar.

"Pagi," Juna melewati kamar Dita tanpa menoleh.

Dita mendunduk, menatap ember cucian di bawahnya. "Pagi."

Juna melangkah maju, mengambil jalur yang paling jauh dari sisi jemuran Dita.

Kipas angin besi di sudut warung kopi berderit lambat, memutar udara panas dan aroma pekat minyak jelantah sisa gorengan. Di atas meja kayu, sepotong es batu di dalam gelas teh manis Juna berdenting, mencair cepat meninggalkan jejak air yang membanjiri permukaan meja.

Nara duduk di seberang Juna, memegang sendok, mengaduk mi instan kuah di mangkuknya. Matanya bergerak lambat, menatap lurus ke arah luar warung. Di seberang jalan, Dita keluar dari gerbang kosan, berjalan menunduk menuju warung kelontong.

Juna duduk tegak, kedua tangannya tenggelam di bawah meja, mematahkan tusuk gigi kayu menjadi bagian-bagian kecil.

Nara meletakkan sendoknya di pinggir mangkuk. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, dadanya menempel di tepian meja kayu. "Lo habis ngapain sih semalem?"

Gerakan tangan Juna di bawah meja berhenti. Dia mengangkat wajah, matanya berkedip dua kali. "Nongkrong. Sama anak-anak kantor."

Nara mendengus. Jari telunjuknya mengetuk permukaan gelas es teh Juna yang berembun tebal. "Bohong."

"Kok bohong?" Juna menggeser gelasnya menjauhm

"Muka Dita berubah tiap liat lo dari pagi tadi," Nara mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, menggantung di sudut bibir tanpa dinyalakan. Matanya menyipit, menatap kerutan di dahi Juna yang menegang. "Biasanya itu anak kalau lewat selalu nengok atau minimal nyapa. Tadi? Dia jalan kayak liat setan."

Juna membuka mulutnya, rahangnya bergeser sedikit, lalu menutup.

Nara tertawa lirih, ia menyalakan pemantik gasnya sekali hentakan, asap pertama mengepul di antara mereka, lalu kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi plastik.

Lampu pijar kuning lima watt di langit-langit koridor lantai dua bergoyang pelan ditiup angin malam. Sebagian besar pintu kamar terkunci rapat dari dalam.

Juna keluar dari kamarnya, tangannya memegang botol air kosong. Langkah kakinya terhenti di dekat pembatas koridor semen.

Monic duduk di atas kursi panjang di depan pintu kamarnya sendiri, mengenakan hotpants kain katun tipis dan tanktop abu-abu berbahan longgar hampir transparan di bawah sorotan lampu kuning. Rambutnya diikat ekor kuda, garis bahunya lebar dan bersih.

Monic mendongak, melihat botol kosong di tangan Juna. Dia menepuk kursi panjang di sebelahnya. "Sini."

Juna diam di tempatnya berdiri, memegang botol plastiknya setinggi dada. "Ngapain?"

"Ngobrol. Sini aja, gerah di dalam kamar," Monic meluruskan kedua kakinya, ujung jemari kakinya menyentuh lantai semen.

Juna melangkah pelan, lalu duduk di sampingnya Monic. Pandangannya lurus menatap jemari kakinya. Ia meliril lekuk paha Monic yang terekspos di bawah remang lampu lorong.

Monic menyandarkan punggungnya ke dinding di belakang kursi, melipat kedua tangannya di depan dada. "Lo semalem kaku banget kayak kanebo kering, Jun. Si Bayu sama Danang sampe ngetawain lo pas di toilet."

Juna berdeham, ibu jarinya memutar tutup botol airnya. "Gue... baru pertama kali ke tempat kayak gitu."

Monic tertawa. "Keliatan sih, apalagi pas Dita huk huk huk."

Wajah Juna memerah. "Bisa nggak usah dibahas nggak?"

Tawa Monic makin keras, ia menyeka air mata di sudut matanya. "Tapi ya emang gitu dunia luar. Dulu sebelum gue masuk tempat begituan, gue juga mulai dari bawah banget di Jakarta."

"Kerja apa?" Juna melirik ke wajah Monic, sesekali turun ke dada lalu ke paha, berbalik ke wajah.

"SPG event," Monic memutar kepalanya, menatap langit-langit koridor. "Gue pernah kerja tiga belas jam berdiri tanpa duduk sekalipun."

Juna menaikkan alisnya. "Ngapain?"

"Jagain booth dispenser air di pameran perlengkapan rumah tangga," Monic menoleh ke arah Juna, sudut bibirnya terangkat. "Gue serius. Tiga belas jam. Tugas gue cuma senyum tiap kali ada orang lewat, nawarin brosur yang ujung-ujungnya dibuang ke tempat sampah lima meter di depan gue."

Juna menahan senyum. "Tiga belas jam berdiri?"

"Iya. Kaki gue sampe mati rasa, pas pulang naik Transjakarta harus gantian berdiri lagi sama emak-emak. Bos gue bakal ngamuk di grup WhatsApp kalau liat di CCTV senyum gue kurang lebar. Gajinya? Cuma cukup buat bayar kosan sama makan mi instan dua kali sehari. Dari situ gue mulai mikir, Jun. Jakarta ini kota yang aneh. Mereka bayar penampilan lo mahal banget, tapi kalau lo cuma modal tenaga, lo bakal diinjek-injek sampe habis."

Monic membetulkan posisi duduknya, menaikkan satu kakinya ke atas kursi, memeluk lututnya. "Terus gue pindah jadi model booth otomotif. Yang di pameran mobil besar di BSD itu."

"Yang berdiri samping mobil mewah?" tanya Juna.

"Nah, iya. Yang itu," Monic terkekeh geli.

"Lo ngerti mobil?" Mata Juna melabar.

"Nggak lah gila. Mesinnya ada berapa silinder aja gue nggak tau. Tapi gue dibayar tiga kali lipat lebih gede cuma buat berdiri, senyum, sama condongin badan dikit kalau ada kamera lewat." Monic menjeda kalimatnya, mengambil napas pendek.

"Ada om-om yang datang bawa kamera lensa panjang banget. Dia muterin booth gue sampe tiga kali. Bukannya foto mobilnya, kameranya malah dizoom ke arah leher sama dada gue. Pas gue tanya mau nanya spesifikasi mobil apa enggak, dia malah nanya nomor WhatsApp. Di situ gue sadar, orang-orang di kota ini sering banget bohong sama dirinya sendiri. Pura-pura suka pamerannya, padahal nyari yang lain."

"Terus kenapa lo... pindah ke yang sekarang?" Juna menggeser posisi duduknya lebih dekat ke Monic.

"Dulu gue punya geng berlima pas awal-awal merantau ke sini," Monic menurunkan kakinya lagi, menatap ujung jemari kakinya. "Satu sekarang sukses jadi pramugari maskapai internasional. Satu nikah muda sama orang kaya di kampung, sekarang sibuk bikin reels ig pamer anak. Satu lagi kerja di bank swasta, tiap hari pulang jam sembilan malam, mukanya stres karena dikejar target kartu kredit. Satu lagi pindah ke Bali, jualan baju pantai."

"Terus lo?" Juna menatap sisi samping wajah Monic yang tersorot lampu kuning.

Monic ketawa pelan, bahunya berguncang tipis. "Nah itu. Abis liat mereka, gue mikir lagi. Orang lain dibayar jutaan buat duduk manis, minum, sambil dengerin keluhan klien di restoran mewah. Ya udah, gue coba aja daftar lewat agensi buat jadi LC di tempat semalem. Ternyata ya nggak cuma duduk minum doang, ada bagian-bagian lainnya. Ya lo liat sendiri kan kemarin gue ngapain di sana sama si Bayu? Ya udah, jalanin aja. Nggak ada drama nangis-nangis di pojokan kamar."

Monic mengibaskan tangannya di depan wajah. "Lagian, pelanggan di sana tuh seringnya lucu-lucu kalau udah kena alkohol. Nggak seserem yang orang-orang luar pikir."

"Lucu gimana?" Juna melipat kedua tangannya di atas lutut.

Lihat selengkapnya