DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #15

15. NAIK KELAS

Sisa air hujan subuh masih menggenang di lantai parkiran Gedung kantor Nexus. Beberapa karyawan dari perusahaan lain berjalan cepat melewati palang pintu otomatis, menenteng helm.

Juna turun dari boncengan motor ojek online, membetulkan posisi tali ranselnya. Ujung celana jinsnya sedikit basah terkena cipratan air dari jalanan sepanjang.

Rafi berdiri bersandar pada pilar semen besar pembatas area parkir. Tangannya memegang gelas kertas berisi kopi instan panas yang masih mengepulkan uap tipis. Di samping kanannya, motor Honda PCX merah metalik terparkir lurus. Permukaan bodinya berkilau, bersih dari noda cipratan lumpur.

Juna menghentikan langkah. Matanya menatap bodi samping motor yang lebar, lalu beralih ke wajah Rafi.

"Motor siapa, Mas?" Juna menunjuk moncong depan motor dengan dagunya.

Rafi menurunkan gelas kertas dari bibirnya. "Punya lo."

Juna berkedip dua kali. Jari telunjuknya bergeser menunjuk dadanya sendiri. "Hah?"

Rafi terkekeh pendek, deru mesin mobil terdengar dari di pojok basement.

Rafi menggeser posisi berdirinya, meluruskan kemeja birunya. "Temen gue. Anak agensi sebelah."

Juna melangkah mendekat. "Kenapa dijual?"

"Rungkad," Rafi mengangkat bahu. "Dua minggu lalu ini anak masih bawa Honda Jazz ke kantor. Minggu kemarin ganti naik ini motor. Tadi malam dia telepon gue sambil nangis-nangis, butuh duit cepat."

Juna menahan napas. "Serius, Mas?"

"Serius. Sekarang dia balik naik Beat karbu pinjaman saudaranya," Rafi menyesap sisa kopinya hingga habis. "Makanya, Jun, catat ini buat jadi tips hidup lo di Jakarta. Kalau lo mau dapet barang bagus harga miring, deketin pemain judi online."

Juna melongo, tangannya meraba saku celananya sendiri. "Gimana?"

"Deketain mereka, ajak ngobrol, dengerin ceritanya," Rafi melangkah menuju tempat sampah di dekat pilar, melempar gelas kopinya. "Tapi ingat satu aturan utamanya, jangan pernah lo pinjemin duit sepeser pun. Biarin aja."

"Terus?"

"Tunggu sampai mereka rungkad, sampai mentok nggak punya pilihan lagi buat muter modal," Rafi kembali berdiri di samping Juna. "Nah, pas momen itu datang, lo maju bawa duit cash. Tawar barang-barangnya. Diskonnya bisa sampai lima puluh persen dari harga pasaran. Mereka nggak bakal mikir panjang lagi."

Juna menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. "Lo jahat juga ya, Mas."

"Jahat?" Rafi tertawa keras, menepuk pundak Juna. "Itu namanya ekonomi rakyat, Jun. Bantu likuiditas orang yang lagi macet. Saling menguntungkan."

Udara dingin dari pendingin ruangan lantai tiga Nexus langsung menyergap kulit saat Juna mendorong pintu kaca kantor.

Juna duduk di kursi kerjanya, meletakkan tas ranselnya di lantai samping meja. Dia menyalakan monitor komputer, menunggu logo sistem operasi berputar. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik membuka peramban web.

Ia merogoh ponsel di saku celananya, mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi mobile banking. Alisnya mengernyit menatap angka 26.483.000 di saldo tabungannga.

Juna menegakkan punggungnya. "Anjir," suara Juna pelan, tertahan di balik celah giginya.

Rafi berjalan ke mejanya. Dia meletakkan cangkir keramiknya di atas meja.

Juna memutar posisi kursinya menghadap Rafi, menunjuk layar ponselnya. "Mas."

"Hm?" Rafi tidak menoleh, jemarinya membalik halaman dokumen di dalam map merah.

"Ini komisi proyek Glowinc... cuma masuk dua puluh juta?"

Rafi yang baru saja mengangkat cangkir kopinya tersedak kecil. Beberapa tetes cairan hitam jatuh di atas permukaan meja. "Cuma? Dua puluh juta lo bilang cuma, Jun?"

Juna meraih proposal proyek Glowinc, membukanya di halaman ringkasan biaya, lalu mengetuk telunjuknya di atas angka total kontrak. "Nilai proyeknya kan lima ratus juta, Mas. Gue pikir pembagiannya..."

Rafi menarik kursi kerjanya lebih dekat hingga. "Lo kira lima ratus juta itu langsung masuk kantong Nexus bersih? Terus dibagi-bagi buat sales?"

Juna menatap ujung pulpen Rafi.

"Sini gue bedah angkanya biar otak sales lo jalan," Rafi membalik halaman proposal, mencoret-coret ruang kosong di margin kertas. "Dua ratus juta dari nilai kontrak itu lari ke biaya implementasi. Tim developer yang begadang bikin sistem integrasinya, desainer yang bikin aset visual, biaya sewa server cloud bulanan, sampai gaji Project Manager yang tiap hari diomelin klien. Itu semua pakai duit, Jun."

Lihat selengkapnya