DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #16

16. ORBIT

Cahaya putih dari layar monitor setinggi dua puluh empat inci menerangi wajah Alika di dalam ruang kerja utama Glowinc. Di luar jendela kaca besar, sisa kabut polusi pagi hari bertumpuk dengan gerimis tipis yang membasahi aspal. Jam digital di sudut meja menunjukkan pukul 08.15 WIB.

Jemari Alika bergerak cepat pada roda tetikus, menggulir ke bawah baris demi baris grafik lingkaran pada dasbor analitik situs web Glowinc.

Pintu kayu jati ruangan terbuka. Tiga orang staf divisi pemasaran digital masuk dengan langkah terburu-buru. Doni, kepala tim kreatif, meletakkan selembar kertas tebal berisikan cetakan matriks mingguan tepat di atas tumpukan berkas dokumen Alika.

"Mba Alika, data konversi dari tautan afiliasi mandiri kita tembus tujuh koma dua persen per jam delapan pagi ini," jari Doni bergetar menunjuk baris angka hijau yang tebal. "Biaya akuisisi pelanggan baru kita turun empat puluh delapan persen. Hampir setengahnya hilang dibanding minggu lalu."

Alika tidak mendongak. Matanya tetap terpaku pada monitor, mengamati kurva grafik yang melonjak tajam menembus batas rata-rata bulanan. "Angka Repeat Order?"

"Naik tiga puluh dua persen dalam empat hari, Mba," sahut staf perempuan di belakang Doni. "Gudang di Cikarang minta konfirmasi penambahan shift malam karena lonjakan resi pengiriman web."

Alika melepaskan genggaman tangannya dari tetikus. Dia menyandarkan punggungnya. Ujung jari telunjuknya mengetuk meja satu kali, tepat di samping selembar serbet kertas putih yang tersimpan di bawah penyangga monitor.

"Pertahankan polanya," suaranya datar. "Jangan ubah komisi afiliasi sampai akhir bulan."

Ketiga staf itu mengangguk cepat, lalu mundur meninggalkan ruangan. Pintu hampir menutup sempurna sebelum tangan besar menahannya dari luar.

Albert melangkah masuk. Langkah kakinya berhenti tepat di depan meja Alika. Alika bangkir berdiri.

Albert duduk di kursi, Alika mengikuti.

"Papih liat penjualan kamu naik?"

Alika menarik cangkir kopinya. "Kita memotong jalur tengah, Pih. Langsung ke konsumen akhir."

Albert mengangguk pelan. "Biaya pemasaran dipangkas setengah, tapi konversi melonjak di luar proyeksi tahunan. Ini gaya eksekusi yang bersih. Strategi siapa?"

"Tim konsultan aku, Pih."

Albert menarik napas pendek. "Papih mau ketemu orangnya."

***

Udara di dalam ruang tunggu belakang club karaoke di kawasan Jakarta Selatan penuh bau asap rokok mentol, semprotan parfum musk dan uap dari alkohol.

Di sudut ruangan, dekat cermin rias besar, seorang wanita dengan gaun ketat perak berdiri dengan punggung melengkung. Tangan kanannya gemetar memegang gulungan uang kertas ratusan ribu, lalu meraih pil obat di laci meja.

Monic berdiri dua meter di samping pintu masuk, menyandarkan bahunya. Tangannya memutar-mutar korek api gas pemantik tanpa menyalakan apinya. Matanya menatap lurus ke pantulan wanita itu di cermin rias.

Wanita bergaun perak itu berbalik, matanya menatap Monic. "Gue nggak bakal bisa senyum di depan om-om itu kalau nggak gini, Mon. Kepala gue mau pecah tiap denger musik di dalam."

Lihat selengkapnya