DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #17

17. SIAPA?

Cahaya lampu gantung kristal di atas meja memantulkan cahaya kekuningan di permukaan piring porselen putih polos. Denting piano memainkan nada-nada bertempo lambat mengalun di antara gumam rendah para pengunjung yang duduk berjauhan. Seorang pelayan dengan setelan kemeja putih kaku dan sarung tangan kain sewarna salju berdiri tegak dua meter di samping meja, matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip.

"Lo sering makan di tempat ginian?" Juna mengunyah dagingnya lambat-lambat.

"Dulu."

Gerakan tangan Juna berhenti di udara. Pisau di tangan kanannya diturunkan. "Dulu?"

"Iya," Nara meletakkan garpunya, lalu meraih gelas air putih. "Pas masih kerja dulu."

Juna menaruh pisaunya, mencondongkan badannya sedikit ke depan melewati vas bunga kecil di tengah meja. "Bukan sebagai barista?"

Nara menyesap air putihnya. "Bukan."

"Apa?"

Pandangan Nira beralih ke arah pemain piano di sudut ruangan yang mulai memainkan lagu baru. Sudut bibirnya ditarik ke samping. "Pernah jadi manusia."

Juna mendengus, menyandarkan kembali punggungnya ke beludru kursi sambil melipat tangan di dada. "Tai."

Nara tertawa lirih. "Serius."

"Ya serius kerjaan lo apaan sebelum di Kala Kopi, Ra? Lo nggak pernah cerita sama sekali dari awal kita ketemu lagi di Mampang," Juna menatap lurus ke dalam mata Nara.

"Kerja," jawab Nara pendek, matanya kembali fokus pada piring makanannya.

"Anjing," Juna mengumpat lagi.

Nara kembali tertawa kecil, tangan kirinya bergerak ke bawah meja, meremas ujung jaket jinsnya.

Juna menuntun Honda PCX merah barunya keluar dari gerbang restoran mewah, roda-roda besarnya melindas sisa air yang menggenang di pinggir trotoar. Sinar lampu jalanan yang putih terang memantul di atas permukaan bodi motor yang masih mengkilap.

Lihat selengkapnya