DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #18

18. KAMAR 104

Sisa air hujan di sepanjang trotoar Mampang memantulkan cahaya putih dari lampu papan nama minimarket setinggi tiga meter. Angin malam bertiup pelan. Jam dinding digital di atas meja kasir menunjukkan pukul 23.15 WIB.

Juna melangkah keluar melewati pintu kaca toko, menenteng kantong plastik putih berisi dua botol minuman isotonik dingin. Di area parkir, motor Honda PCX merah metalik berdiri kokoh.

"Kemarin si Nara kenapa ya liat orang sampe kesel begitu," Juna mendongak, menatap langit malam.

Gerakan tangan Juna yang meraba saku jaket mencari kunci motor mendadak terhenti. Matanya menatap bayangan lambat di atas trotoar, sekitar sepuluh meter dari posisinya berdiri.

Dita berjalan pelan. Gaun pendek hitam berbahan ketat membungkus tubuhnya. Sepatu hak tinggi sewarna kulit yang dikenakannya sesekali bergeser miring saat membentur permukaan konblok trotoar yang tidak rata.

Dua orang pria dengan kemeja flanel longgar yang kancing atasnya terbuka melangkah keluar dari kegelapan gang di samping bangunan ruko kosong. Aroma alkohol murah yang pekat memotong udara malam, berbaur dengan bau asap rokok kretek dari puntung yang menyala di jemari salah satu dari mereka. Langkah kaki keduanya cepat, menutup jarak dengan Dita.

"Sendirian aja, Mbak? Seger bener malam-malam gini," pria bertubuh agak gempal dengan topi terbalik berteriak.

Dita tidak merespons. Langkah kakinya dipercepat, ujung gaun hitamnya berayun tidak teratur.

Pria kedua memperlebar langkahnya, menyalip Dita dari sisi kiri. "Ikut nongkrong dulu lah di depan. Sombong amat si Mbak, ditanyain juga."

Dita memutar tubuhnya sedikit ke kanan, pria kedua menggeser badannya, memblokir jalur trotoar. "Jangan galak-galak dong, Cantik. Nanti cepat tua loh."

Dita menunduk, helai rambutnya menutup wajahnya. Dia mencoba menyelinap melewati celah tipis di dekat tiang telepon, pria bertubuh gempal menangkap pergelangan tangan kanan Dita.

Dita mengibaskan tangannya. "Lepasin! Jangan pegang-pegang!" suaranya melengking tinggi, bergetar di ujung tenggorokan.

Kedua pria itu tertawa lebih keras, melangkah lebih dekat. Pria kedua menjangkau bahu Dita, menarik jaketnya meluncur jatuh ke atas tanah yang basah.

Kantong plastik putih di tangan Juna terlepas, jatuh menghantam lantai semen teras minimarket. Juna berlari kencang memotong area parkir, ia melompati pembatas pot tanaman sebelum kakinya menapak kasar di atas aspal trotoar.

"Oi!" Juna berteriak, suaranya memecah keheningan jalanan.

Ketiga orang di depan ruko kosong itu menoleh. Cengkeraman di pergelangan tangan Dita mengendur.

"Lepasin dia," Juna berdiri tiga meter di depan mereka, kedua telapak tangannya terbuka di depan dada, napasnya memburu, dadanya naik turun.

Pria bertubuh gempal menatap Juna dari atas ke bawah, lalu melirik ke arah motor PCX merah yang terparkir di kejauhan. "Siapa lo? Pahlawan kesiangan? Nggak usah ikut campur urusan orang. Pulang sana, tidur."

"Gue bilang lepasin," Juna melangkah manu, matanya menatap lurus ke arah lengan Dita yang masih ditahan.

Pria kedua melangkah maju, dadanya membentur bahu kiri Juna. "Kalau gue nggak mau, lo mau apa, Hah?"

Tangan kanan Juna mengepal, ditarik ke belakang, lalu diayunkan lurus menghantam rahang kiri pria kedua. Pria itu terhuyung dua langkah ke belakang, memegang pipinya yang memerah.

"Anjing!" pria bertubuh gempal berteriak, melepaskan Dita sepenuhnya.

Hantaman keras dari arah samping mendarat tepat di tulang rusuk kiri Juna. Juna mengerang pendek, tubuhnya membungkuk.

Pria kedua kembali maju, melayangkan tendangan lurus mengenai bagian tengah perut Juna. Tubuh Juna terlempar ke belakang, punggungnya menghantam tiang telepon besi. Ujung bibir kanannya pecah, darah segar menetes ke dagunya. Juna meringkuk di tanah sambil memegangi perutnya.

Dita melangkah mundur, punggungnya menempel di pintu roling besi. Matanya melebar menyaksikan tubuh Juna yang tersungkur di tanah. Kedua tangannya meraba lehernya sendiri, napasnya tercekat di dada.

"TOLOOOONG! ADA PERAMPOK! TOLOOOONG!" Dita berteriak dengan seluruh kekuatan suaranya, tangannya memukul-mukul permukaan pintu roling besi.

Pintu kaca minimarket di seberang jalan terbuka lebar. Dua orang karyawan berseragam merah keluar berlari, salah satunya membawa tongkat kayu pembersih lantai, disusul seorang pengemudi ojek online yang baru saja menghentikan motornya di tepi jalan.

"Oi! Ngapain itu di sana!" teriakan dari arah minimarket terdengar lantang.

Pria kedua menghentikan ayunan kakinya yang hendak mengenai bahu Juna. Dia melirik ke arah kerumunan orang yang mulai menyeberangi jalan raya, lalu menatap temannya yang bertubuh gempal. "Cabut, cabut!"

Keduanya berbalik, berlari kencang memasuki kegelapan gang sempit di samping ruko sebelum kerumunan dari minimarket sempat mendekat. Suara deru langkah kaki mereka perlahan menghilang.

Juna masih terduduk di atas aspal basah, satu tangannya menekan perut bagian bawah, tangan kirinya menyeka darah tipis di bibirnya dengan ujung lengan jaket. Dita berdiri tiga meter di sampingnya, tubuhnya masih gemetar. Riasan wajahnya rusak oleh air mata yang mengalir deras, meninggalkan jalur-jalur hitam di sepanjang pipinya hingga ke dagu.

Lampu panel Honda PCX merah menyala. Juna menarik stang motor dengan tangan kanannya yang lecet, menuntun kendaraan itu keluar dari area parkir minimarket setelah menolak bantuan dari karyawan toko. Di belakangnya, Dita berjalan lambat.

Lihat selengkapnya