Aroma aspal basah bercampur dengan asap knalpot kendaraan di depan kantor Glowinc. Juna melangkah melewati pintu putar otomatis. Tangan kanannya bergerak pendek, menyentuh sudut bibir bawahnya yang masih tebal, kaku, dan berdenyut konstan. Setiap kali menelan ludah, otot perut bagian kirinya menarik sisa rasa perih dari hantaman semalam di trotoar Mampang.
Seorang wanita resepsionis berambut sanggul rapi di balik meja marmer hitam menegakkan punggung saat bayangan Juna mendekat.
"Pagi, Mas Juna," wanita itu tersenyum, mengangguk kecil. "Mbak Alika sudah nunggu dari tadi di ruang rapat utama."
Juna menghentikan langkahnya di samping pembatas tiang antrean beludru. "Saya telat, Mbak?"
"Nggak, Mas. Jadwalnya kan jam sembilan," resepsionis itu melirik jam dinding digital yang masih menunjukkan pukul 08.24. "Beliau saja yang datang jauh lebih pagi hari ini."
Juna menarik ujung jaket katunnya ke bawah, menyembunyikan lipatan kemejanya yang agak kusut di bagian pinggang, lalu berjalan menuju lantai dua.
Pintu kaca buram ruang rapat utama bergeser tanpa suara. Alika duduk di kursi ujung meja panjang. Rambutnya diikat ekor kuda, anting perak kecil memantulkan cahaya lampu ruangan.
"Duduk, Jun," sapa Alika tanpa mendongak.
Juna menarik kursi di sisi meja dekat Alika duduk, menaruh tas ranselnya di lantai semen ekspos.
Alika menoleh. "Kamu kenapa? Ko babak belur gitu mukanya?"
"Nggak apa-apa kak. Semalem abis ngelawan begal." Juna menyeringai lalu meringis. Jemarinya menyentuh sudut bibirnya.
"Beneran nggak apa-apa? Saya bisa panggilin dokter buat kamu."
"Nggak apa-apa kak. Serius, saya nggak apa-apa."
Alika menanggguk. "Oke." ia memutar posisi laptopnya, mendorongnya mendekati Juna. Jarinya mengetuk permukaan meja satu kali. "Lihat ini."
Juna menatap diagram lingkaran besar hijau tua. Angka indeks konversi di sudut kanan bawah berkedip periodik, menunjukkan persentase yang terus bergerak naik.
"Ini data agregat sampai jam tujuh pagi ini," suara Alika datar, ia mengetuk tombol kiri terikus, diagram lingkaran berganti menjadi grafik garis yang melonjak, memotong batas proyeksi kuartal ketiga. "Skema affiliate mandiri yang kamu usulin minggu lalu di Kuningan."
Juna mencondongkan badannya, matanya menyipit menatap barisan angka berdigit sembilan di kolom omzet harian. Ujung jarinya bergerak menyentuh pinggiran laptop.
Alika membuka tab baru. Grafik batang berwarna merah, penurunan volume yang konsisten selama empat hari terakhir. "Cost marketing kita per hari ini turun empat puluh delapan persen. Kita memotong alokasi agensi luar hampir sepenuhnya."
Tab ketiga terbuka, peta distribusi pengiriman logistik, titik-titik kuning yang rapat di wilayah Jakarta. "Penjualan produk perawatan esensial naik tiga kali lipat dari rata-rata bulanan. Gudang di Cikarang mulai overload sejak subuh tadi."
Juna bersandar kembali ke sandaran kursi. Ia meringis saat menarik sudut bibirnya. Matanya tertuju ke kurva hijau di layar.
Alika mematikan layar laptopnya, pantulan wajah Juna yang babal belue di sudut pipi terlihat samar di permukaan kaca monitor yang gelap. "Terima kasih, Juna."
Dengung halus generator pendingin ruangan di balik langit-langit terdengar samar. Alika menggeser tubuhnya sedikit ke kiri, menarik amplop cokelat tebal dari tasnya. Ia meletakkan amplop di atas meja. Segel benang merah di bagian ujungnya masih terikat kencang. Ujung jarinya mendorong amplop mendekati Juna.
"Ini apa, Kak?" Pandangan Juna beralih dari amplop ke wajah Alika, kembali lagi ke amplop.
"Bonus."
"Bonus buat apa?"
"Kamu menaikkan margin penjualan saya hampir dua kali lipat dalam seminggu," Alika menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada. "Itu hak kamu."
Juna menggeleng pelan. "Itu cuma saran pas kita ngobrol biasa, Kak."
"Dan mulai sekarang, saran kamu nggak gratis," Alika memajukan kembali tubuhnya, meletakkan kedua siku di atas meja, jemarinya saling bertautan. "Saya tidak memakai tenaga kerja murah untuk urusan yang bisa menyelamatkan portofolio saya di depan keluarga Prameswari."
Juna menatap amplop cokelat, cahaya lampu gantu di atas mereka terpantul di atas amplop.
Alika menarik kembali laptopnya. "Saya mau kamu jadi konsultan saya untuk urusan restrukturisasi jalur distribusi Glowinc."
"Konsultan?" Juna mendengus pendek, tangannya meraba saku celana jinsnya. "Saya ini sales lapangan yang keliling bawa sampel produk pake motor. Konsultan apa yang mukanya bonyok habis berantem di jalan kayak gini?"
"Karena kamu sudah terbukti," Alika memotong kalimat Juna. "Akurasi analisis potongan komisi berjenjang yang kamu hitung kemarin lebih bersih daripada proposal agensi multinasional yang saya bayar ratusan juta."
"Itu cuma satu strategi yang kebetulan pas sama momentum pasar, Alika."
"Dan hasilnya nyata di rekening perusahaan saya," Alika menjeda kata-katanya. Dia memutar ponselnya di atas meja. "Selain itu... ayah saya mau ketemu kamu."