DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #20

20. STRUKTUR

Rafi memajukan badannya, kedua siku di atas meja kayu. Matanya bergerak cepat, menatap Alika yang duduk tegak, lalu beralih ke Juna meraba sudut bibirnya yang pecah, lalu kembali ke arah Alika.

"Jadi bentar," Rafi mengetuk korek api gasnya ke meja. "Alika Prameswari mau bikin PT... buat lo?"

"Iya."

"Gratis?" tanya Rafi lagi.

"Iya."

Rafi memutar lehernya, menghadap Nara yang hanya memandangi gelembung udara di permukaan teh tawar hangatnya. "Fix. Ini modus."

Sudut bibir Alika tertarik ke atas. Dia mengambil botol air mineralnya, memutar tutupnya, lalu meminumnya sedikit tanpa melepaskan pandangan dari kedua orang di depannya.

Nara meletakkan gelasnya. Tangannya terangkat setinggi bahu, telapaknya terbuka menghadap Rafi. "Gue setuju."

Juna mendongak, alisnya bertaut, luka di pelipisnya menegang. "Setuju apaan?"

"Modus," sahut Nara datar, matanya berkedip lambat.

Tangan Juna bergerak ke depan, meraih sendok teh di dekat asbak, jemarinya meremas gagang besi itu lalu melemparkannya kembali ke atas meja.

"Kita mulai dari nama," Alika membuka notes kecil dari kulit jeruk di atas pangkuannya, pulpen berujung emas siap di jemarinya.

Juna berdeham, memperbaiki posisi duduknya sejajar dengan tinggi meja. "PT Konsultan Digital Indonesia."

Dengung baling-baling kipas angin dinding di sudut ruangan terdengar jelas, menyapu helai rambut Nara yang menjuntai di pipi.

Rafi menghentikan ketukan korek apinya. "Anjing." Dia menggelengkan kepala. "Nama apaan itu?"

Nara memutar sedotan plastik di dalam gelasnya yang sudah kosong. "NPC banget."

Alika menurunkan pulpennya, lalu meletakkan telapak tangan kanannya di atas kening, menutupi sebagian wajahnya yang memerah di bawah sorotan lampu kuning redup. "Itu nama perusahaan atau nama file tugas kuliah semester tiga?"

Juna memajukan bahunya, wajahnya mengeras. "Lah, itu profesional. Bersih. Jelas industrinya apa."

"Profesional nggak berarti harus membosankan, Jun," Rafi bersandar ke sandaran kursi plastik, matanya menatap langit-langit kedai. "Nih, dengerin. PT Cuan Bersama Abadi. Langsung ke target. Jelas doanya apa."

Nara mendengus, tawa pendek tanpa suara keluar dari hidungnya. "PT Tolong Saya Miskin."

Alika menarik tangannya dari wajah. "PT Insight Nusantara."

Juna menjentikkan jarinya di udara. "Nah, itu bagus. Kedengaran bonafit."

Nara berhenti memutar sedotan, menoleh sedikit ke arah Alika. "Kedengaran kayak perusahaan pelatihan ASN yang dapet proyekan dari APBD."

Alika terdiam, ujung pulpen emasnya tertahan di atas kertas putih yang masih bersih.

"Nama bisa belakang deh," Juna menotong pembicaraan. "Strukturnya dulu."

"Harus ada direktur utama," Alika menutup notes kecilnya. Pandangannya mengunci wajah Juna. "Jelas Juna."

Rafi teetawa keras, kepalanya mendongak ke belakang, kursi plastiknya bergeser ke belakang. "Direktur? Nih orang?" Telunjuknya mengarah tepat ke hidung Juna.

"Kenapa emang?"

"Lo pernah naik motor sambil nyasar tiga kali di daerah yang sama dalam satu sore, Jun," Rafi menurunkan tangannya, mencondongkan badan, matanya melebar. "Itu padahal lo udah pake Google Maps."

"Itu Google Maps-nya yang eror, jalurnya dialihin karena ada kawinan," bantah Juna, suaranya naik satu oktav.

"Google Maps nggak pernah nyuruh lo masuk ke gang buntu yang ujungnya empang, Pea."

Nara tersedak, batuk kecil beberapa kali sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan.

Alika mengetuk ujung pulpennya ke meja, semua orang kembali menoleh. "Juna direktur utama. Kamu direktur operasional." Ujung pulpen Alika mengarah ke Rafi, lalu begerak ke Nara. "Kamu direktur finance."

Nara menghentikan batuknya, menurunkan tangannya dari mulut. Matanya menyipit, menatap Alika. "Kenapa nama lo nggak masuk di situ?"

"Saya bagian modalin," jawab Alika pendek.

Lihat selengkapnya