DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #21

21. AKTA PERUBAHAN

Lampu tabung di langit-langit kamar berkedip dua kali sebelum mati sepenuhnya, cahaya kelabu dari sela-sela ventilasi kayu yang berdebu memyusup masuk.

Nara duduk di tepi kasur. Kedua telapak tangannya bertumpu di pinggiran laptop. Cahaya biru dari layar monitor terpantul di sepasang matanya. Ia menatap baris-baris direktori surat elektronik yang belum dibuka.

Jemari Nara bergerak di atas papan ketik, Llayar berkedip. Bilah pemuat berputar tiga kali sebelum menampilkan belasan berkas PDF dengan nama-nama seragam yang diakhiri nomor registrasi hukum. Kursor bergerak turun, melewati tiga baris pertama, lalu berhenti tepat di atas sebuah nama yang ditulis dengan huruf kapital seluruhnya.

AKTA_PERUBAHAN_AGRI_FINAL_.PDF

Nara menahan jarinya di atas tombol Enter. Sudut rahangnya bergerak turun, gurat otot di bawah telinga kirinya mnojol.

Tangannya bergerak ke arah printer inkjet di samping kasur, menekan tombol daya. Jarinya mengetuk dua kali. Lembar demi lembar kertas HVS putih keluar dari mulut mesin, menggeser udara kamar dengan aroma tinta basah.

Nara meraih lembaran pertama yang masih hangat. Matanya bergeral turun ke halaman ketiga, tepat pada kolom tanda tangan di atas meterai tempel yang sudah kedaluwarsa.

Ibu jarinya menekan lipatan kertas itu, meninggalkan bekas coretan kuku yang tipis di samping nama yang telah dicoret garis dua.

Matahari pukul sepuluh pagi tertutup lapisan polusi tebal di sepanjang trotoar jalur layang Non-Tol Antasari. Deru knalpot kendaraan dan decit rem cakram motor meredam suara langkah kaki Nara. Sebungkus rokok mentol menyembul dari saku celana jinsnya yang mulai menipis di bagian lutut.

Nara menempelkan ponselnya ke telinga kiri, tangan kanannya memegang map jepit hitam di bawah ketiak.

"Masih aktif?" tanya Nara datar.

"Aktif, Bu Nara. Nomor SK-nya belum dicabut di pangkalan data AHU. Masih bersih." Suara di seberang telepon terdengar melalui speaker

Nara berhenti di depan tiang lampu penyeberangan yang berkarat. "Perubahan susunan direksi dan peningkatan modal ditempatkan bisa masuk sistem hari ini?"

"Bisa, asal draf sirkuler pemegang sahamnya lengkap sebelum jam satu siang. Kita pakai jalur percepatan."

"Saya kirim drafnya dalam sepuluh menit," Nara mengetuk layar ponselnya, memutus sambungan.

Matanya menatap mobil sedan mewah yang melintas cepat di jalur cepat, membelah genangan air berlumpur di tepi jalan hingga menciprat ke arah pembatas beton. Nara merapikan jepitan mapnya, mempercepat langkah menuju halte Transjakarta terdekat.

Di depan ruko berarsitektur modern tiga lantai, Juna berdiri sambil memegangi tali ranselnya yang longgar. Rafi berdiri di sebelah Juna membersihkan debu jalanan dari permukaan sepatu kulitnya dengan selembar tisu basah.

"Lo beneran yakin kita bakal ngantor di sini, Jun?" Rafi mendongak, matanya menyusuri eksterior bangunan yang dilengkapi lampu sorot LED tersembunyi di balik pilar beton. "Ini puluhan juta sewanya, tekor kita sebelum dapet klien."

"Ratusan," suara Alika memotong dari belakang mereka.

Alika melangkah turun dari mobilnya. Kemeja linen hitamnya rapi tanpa kerutan.

Rafi menoleh cepat, tisu basahnya tertahan di ujung sepatu. "Ratusan?"

"Per tahun," Alika berjalan melewati mereka berdua menuju pintu kaca utama. "Masa per minggu."

Juna melepaskan pegangan pada tali ranselnya, menatap punggung Alika yang mendorong pintu kaca. "Per tahun..."

Rafi membuang tisunya ke tempat sampah stainless di sudut tangga, lalu berbisik ke telinga Juna. "Gue udah siap pegangin tas lo kalo lo pingsan di anak tangga kedua."

Udara di dalam gedung berbau pengharum ruangan jeruk purut dan karpet baru yang belum pernah diinjak. Langkah kaki mereka bergema di langit-langit yang tinggi.

Lihat selengkapnya