DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #22

22. START UP

Bau menyengat dari thinner dan cat dinding putih yang belum kering sepenuhnya masih menempel di langit-langit lantai dua. Di sudut ruangan, tumpukan kardus pembungkus meja kerja menumpuk setinggi dada, beberapa di antaranya masih terlilit plastik gelembung yang belum sempat dikupas. Sinar matahari pagi masuk melalui kaca jendela besar, butiran debu melayang lambat di atas lantai karpet.

Juna duduk di atas kursi direktur yang baru. Bunyi berdecit setiap kali dia memutar posisinya ke kiri dan ke kanan. Tangannya bertumpu di sandaran lengan plastik, matanya menatap langit-langit yang masih menyisakan jalur kabel LAN yang menjuntai tanpa ujung.

Di dekat jendela, Rafi berdiri tegak, satu tangan di saku celana bahan jinsnya. Matanya memandang lurus ke deretan mobil yang mulai mengular di sepanjang jalur lambat koridor bisnis Sudirman.

Di tengah lantai, Nara duduk bersila. Laptop berstiker Kopi Kala diletakkan di atas pangkuannya. Jemarinya bergerak di atas papan ketik, sesekali berhenti memeriksa tumpukan berkas dari map hitam yang terbuka di sampingnya.

Rafi membalikkan badannya perlahan, menatap Juna yang masih bergerak memutar kursi. "Bentar."

Juna menghentikan putaran kursinya. "Kenapa?"

"Kita... ngapain sih di sini?" Rafi melambaikan tangan kanannya, menunjuk dinding-dinding kosong di sekitar mereka.

"Maksud lo?"

"Gue sales senior Nexus." Rafi berjalan mendekati meja Juna? "Lo juga sales Nexus. Dia..." Rafi menunjuk Nara dengan dagunya. "...barista yang tiap malam bikin espresso di Kopi Kala. Tiba-tiba hari ini kita punya kantor tiga lantai. Tiba-tiba kita punya PT. Terus nanti siang kita mau ketemu Albert Prameswari. Bapaknya Alika."

Juna terdiam. Punggungnya bersandar ke kulit kursi. Matanya bergerak menyusuri ruangan, menatap meja-meja kosong tanpa komputer, lalu turun ke arah jemarinya. "Iya juga ya."

Nara tidak mendongak dari layarnya. Suara ketukannya pada tombol Enter terdengar pendek. "Kalian telat sadar."

Rafi meraba saku celananya, menarik keluar ponselnya yang bergetar pendek. Layarnya menyala, notifikasi pengingat dari aplikasi internal operasional Nexus.

"ANJING." Rafi membeku, matanya melebar menatap angka digital di sudut kanan atas layar yang menunjukkan pukul 09.05 WIB.

Juna menegakkan punggungnya, tangannya bergerak cepat merogoh saku jaketnya. Dia membuka kunci layar ponselnya.

"Anjing," Juna mengumpat pelan, ibu jarinya menekan layar yang mendadak tidak merespons. "Gue bisa dipecat nggak ya kalau tiga kali berturut-turut absennya bolong?"

"Gue juga lagi mikir itu " Rafi menggaruk tengkuknya, matanya masih menatap layar ponselnya. "Potongan insentif bulan ini bisa abis buat bayar denda absen."

Nara membalik halaman dokumen akta di pangkuannya. "Profesional sekali direksi perusahaan baru ini."

Juna meletakkan ponselnya di atas meja. "Bisa diam nggak, Nar?"

"Semoga beneran dipecat," sahut Nara datar, jemarinya kembali bergerak di atas papan ketik laptopnya.

Pintu kaca buram di ujung koridor bergeser terbuka. Alika melangkah masuk, dia membawa map kulit berwarna cokelat tua dan dua buah nampan kertas berisi empat cup kopi dari gerai waralaba internasional.

"Kalian udah siap?" Alika meletakkan nampan kopi di atas meja Juna, pandangannya menyapu seluruh ruangan lalu berhenti di posisi Rafi yang masih memegangi ponsel.

"Belum," jawab Rafi pendek.

"Sama," tambah Juna, tangannya merapikan letak kerah kemejanya.

Alika menurunkan tas kulitnya ke atas meja, membuka ritsleting peraknya, lalu mengeluarkan dua amplop putih berukuran panjang. Dia mendorong masing-masing amplop ke hadapan Juna dan Rafi.

Alis Rafi mengkerut menatap amplop di depannya. "Apaan ini, Al?"

"Uang pengganti absen kalian," Alika merapikan kemeja linennya, lalu mengambil salah satu cup kopi miliknya. "Satu juta per orang. Kompensasi karena hari ini."

Suara dengung AC dan bunyi langkah kaki Nara yang bergeser di atas lantai karpet bercampur di udara.

Rafi menarik ujung amplopnya, mengintip deretan lembaran uang kertas berwarna merah di bagian dalam. Dia menegakkan punggungnya, melipat amplop itu masuk ke dalam saku celananya. "Siap, Bos."

Juna menatap amplopnya, meraba ketebalannya, lalu memasukkannya ke dalam laci meja yang masih kosong. "Siap, Bos."

Nara mendengus kecil dari posisinya di lantai, matanya masih tertuju pada baris-baris kode verifikasi AHU di layar laptop. "Murahan."

Alika mengambil satu amplop lagi dari tasnya, meletakkan di atas papan ketik laptop Nara. "Saya nggak tahu kamu butuh apa nggak. Tapi, biar adil aja."

Nara mendongak, menatap lurus mata Alika. "Terima kasih."

Juna dan Rafi menoleh bersamaan. "Murahan."

Alika berbalik, berjalan menuju pintu keluar. Juna dan Rafi mengikuti di belakangnya.

Sedan hitam Alika membelah jalur cepat koridor utama Sudirman yang mulai padat oleh taksi dan bus kota menjelang makan siang.

Juna terus meremas telapak tangannya yang berkeringat. Matanya menatap bayangan gedung-gedung tinggi yang bergerak cepat di kaca jendela samping. "Saya ngomong apa nanti di depan papih kamu, Al?"

"Jawab aja apa yang dia tanya," Alika menyahut dari kursi pengemudi. "Jangan dikurangi, jangan dilebih-lebihkan."

Lihat selengkapnya