Uap putih dari pelurus rambut elektrik membubung di bawah belasan lampu pijar bundar yang mengelilingi bingkai cermin. Bau rambut terpanggang berbaur dengan partikel bedak tabur yang melayang di udara ruangan. Lantai semen bergetar halus setiap kali suara bas dari lantai bawah menghantam dinding ruko.
Di sudut meja, seorang wanita dengan gaun beludru merah memiringkan ponselnya di atas tumpukan tisu basah. Seorang anak kecil sedang mengunyah biskuit di atas kasur tanpa seprai di layar ponselnya.
"Iya, Nak. Udah makan belum?" suara Wanita serak, tangannya memegang batang rokok, asapnya mengepul ke arah asbak sloki. Sudut matanya berkerut saat menatap layar. "Mama pulang pagi, ya. Bobo sama Nenek."
Wanita itu menekan tombil daya, layar ponsel menggelap. Wanita itu meletakkan ponselnya, lalu meraih tabung lipstik cair dari meja. Tangannya bergerak maju mundur, menyapukan kuas ke bibirnya tanpa berkedip menatap cermin.
Dua kursi di sebelahnya, seorang wanita bergaun satin biru menjepit ponsel di antara bahu dan telinga. Tangannya menarik sisir gerigi melalui helai rambut hitamnya yang kaku.
"Gimana kondisi Bapak?" Wanita itu menatap lurus ke arah pantulan lingkaran hitam di bawah matanya. "Obatnya udah dibeli?" Jempol tangan kanannya mengetuk layar ponsel kedua, menekan serangkaian angka di aplikasi perbankan, lalu menekan tombol konfirmasi. Setelah layar menampilkan tanda centang, ponsel itu dilempar ke atas meja, mendarat di samping tumpukan kain perca. Sisir di tangannya kembali bergerak, beberapa helai rambut putus jatuh ke lantai.
Di dekat pintu masuk, seorang wanita bergaun merah muda tertawa di depan ponselnya. "Iya, Sayang. Nanti aku kabarin." Jarinya menekan tombol merah. Tawa itu berhenti. Wajahnya lurus menatap botol losion plastik yang sudah dipotong dua. Jemarinya meraup sisa krim putih di bagian dasar wadah.
Monic berdiri bersandar di pilar beton. Kedua jarinya memutar pengait anting perak di daun telinga kirinya. Matanya bergerak ke arah Dita yang duduk dua kursi dari posisinya.
Dita duduk membungkuk, kedua siku bertumpu di atas lutut yang terbungkus gaun jersi hitam. Ia menatap kolom-kolom putih dengan tulisan Lowongan Kerja: Administrasi Logistik Lapangan dari layar ponselnya. Jari telunjuk Dita menggeser layar ke bawah, menekan tombol kembali, lalu membuka tab bertuliskan Staf Administrasi Gudang - Batas Usia 25 Tahun. Jari Dita berhenti di atas angka 25, lalu mengembuskan napas panjang melalui mulut yang terbuka sedikit. Layar ponselnya mati, lalu menyala lagi dalam dua detik.
Monic menurunkan tangannya dari telinga. Anting peraknya berayun menyentuh garis rahang. "Masih nyari?"
Dita tidak mendongak. Jempolnya kembali menggeser layar melewati pengumuman lowongan kerja. "Siapa tahu dapet."
Monic mendesis pendek dari sela-sela giginya, lalu menatap langit-langit ruko.
Pintu kayu ruang rias berderit terbuka. Seorang pria dengan kemeja batik muncul sambil memegang walkie-talkie. Bau uap masakan dari dapur belakang masuk ke dalam ruangan.
"Dita, Kamar 07!" pria itu berteriak tanpa melihat ke dalam ruangan, tangannya sibuk menekan tombol samping walkie-talkie.
Dita mematikan layar ponselnya, memasukkan perangkat itu ke dalam tas kecil, lalu berdiri. Dia menarik ujung bawah gaunnya ke arah lutut, membetulkan letak tali bra hitam di bahu kirinya, lalu berjalan melewati Monic.
Pintu kayu nomor 07 tertutup. Koridor sepanjang satu setengah meter diterangi barisan lampu neon berwarna biru malam di langit-langit yang dipenuhi pipa besi gantung.
Udara di koridor bergerak lambat dari embusan tiga unit AC dinding yang dipasang berderet. Lantai lorong dilapisi karpet beludru merah yang menipis di bagian tengah, guratan serat kain pudar di dekat ambang pintu setiap kamar.
Sepuluh menit berlalu, seorang pelayan pria melintas membawa nampan berisi tiga botol bir kosong yang saling berbenturan. Suara desahan Dita terdengar samar, bercampur suara bas musik berkecepatan rendah terdengar dari balik pintu Kamar 07, merambat melalui semen dinding dan lantai karpet.
"Monic, Kamar 12!" suara dari kotak interkom abu-abu di samping meja resepsionis berbunyi.
Monic menegakkan punggung. Dia menarik napas melalui hidung, menahannya beberapa detik, lalu mengembuskannya kembali. Tangannya merapikan belahan gaun hitamnya di bagian dada lebih rendah di bawah lampu neon biru.
Dia melangkah maju, berjalan melewati pintu Kamar 07 tanpa menengok, lalu membelok di sudut lorong menuju Kamar 12 di ujung bangunan.
Ujung siku kiri Monic mendorong pintu Kamar 12. Bau asap rokok, cairan alkohol, dan pewangi lantai keluar dari ambang pintu. Di atas sofa beludru hitam yang memutari meja kaca, seorang pria bertubuh gempal duduk bersandar, kedua kaki selonjoran ke depan. Dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka.