DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #24

24. TERAS KOS MAMPANG

Lampu pijar kuning berdaya empat puluh watt di plafon teras bergetar setiap kali bus transjakarta melintas di jalan raya depan gang. Cahaya kuning menyorot tumpukan sandal karet yang berserakan di dekat keset kain perca abu-abu. Di atas dinding semen, seekor cicak diam menatap laron yang berputar mengitari bola lampu. Dari sela-sela ventilasi kamar nomor 105 di lantai bawah, suara dari televisi menyiarkan berita kriminalitas larut malam, diselingi dengung kipas angin dinding yang berputar.

Ucup duduk di atas bangku plastik hijau. Jari telunjuknya bergerak lambat di atas layar ponsel, menggeser daftar transaksi harian di aplikasi ojek online. Deni tidur telentang di sebelahnya. Satu lengannya diletakkan di atas dahi, menutupi matanya dari sorotan lampu plafon.

"Sisa bersih tiga puluh lima ribu," Ucup membuka suara tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. "Potong bensin sama rokok. Tekor gue hari ini."

Deni tidak mengubah posisinya. Kakinya berayun pelan di ujung bangku, sendal jepitnya menggantung di ibu jari. "Gue malah narik dari pagi cuma dapet rit pendek. Penumpang sekarang pelit tips."

Deru mesin motor matik dari arah ujung gang menghentikan obrolan. Sorot lampu putih memotong kegelapan lorong, menyapu permukaan pot tanaman kuping gajah yang berdebu di tepi pagar besi kos. Motor itu berhenti tepat di depan teras.

Juna memutar kunci kontak ke posisi off. Nara turun dari jok belakang. Tangannya merapikan bagian belakang roknya yang kusut.

"Gue masih nggak setuju, Jun," Nara berjalan menaiki undakan teras, tas laptopnya didekap erat di depan dada. "Logikanya nggak masuk."

Juna menurunkan standar samping motor. Dia melepas helm, menaruhnya di atas spion, lalu berjalan menyusul Nara. "Kan bukan duit gue yang keluar, Nar. Kenapa lo yang pusing?"

"Tetep aja," Nara berbalik di ambang pintu, menatap Juna yang menepuk debu di bahunya. "Orang waras nggak bakal nyewa kantor di daerah SCBD semahal itu cuma buat operasional awal. Itu namanya bakar modal acak-acakan."

Juna menarik sudut bibirnya. "Yang nyewa itu

Alika, kita cuma terima ruangan jadi."

Ucup menurunkan ponselnya ke atas lutut. Kepalanya terangkat, matanya melirik Juna dari atas sampai bawah, menatap sepatu kulit Juna yang mengkilap di bawah lampu kuning. "Nah. Lihat, Den. Koruptor kelas kakap kita baru balik dari medan perang."

Deni menegakkan punggungnya, kedua telapak tangan bertumpu di lutut. Matanya menyipit menatap kemeja Juna. "Gue juga dari kemarin mau nanya, Jun. Bulan lalu lo masih keliling sampai kaki lo lecet. Minggu ini lo udah sibuk bahas sewa kantor ratusan juta. Lo melihara pesugihan jenis apa di kamar atas?"

Nara meletakkan tas laptopnya di atas meja kayu di tengah teras, lalu berbalik menghadap Juna. "Gue saksi hidup. Dia emang mencurigakan."

"Lo Finance gue, Nara," Juna berjalan menuju bangku kosong di dekat Ucup. "Tolong mati aja lo berdua besok pagi."

Tawa Ucup menyembur pelan, disusul kekehan Deni yang kembali merebahkan kepalanya di sandaran bangku kayu.

Bunyi ketukan tumit sepatu hak tinggi terdengar dari arah lorong gang yang gelap. Aroma parfum vanila sintetik yang menyengat memotong bau asap knalpot di teras.

Monic muncul dari balik bayangan tiang pagar. Gaun hitam pendeknya berkerut di bagian pinggang. Dita berjalan di belakangnya.

Monic melangkah menuju bangku kayu panjang, menggeser kaki Deni dengan pinggulnya, lalu menjatuhkan beban tubuhnya. Kepala Monic bersandar di dinding semen, matanya terpejam sesaat. Dita duduk di ujung bangku yang sama, menaruh tas jinjingnya di lantai, tepat di antara kedua kakinya yang merapat.

Ucup menggeser posisi duduknya. "Nah. Pas. Lengkap semua penghuni neraka malam ini."

Monic membuka matanya sebelah, melirik Ucup. "Kenapa lagi sih? Berisik banget dari ujung gang."

"Lagi ada sidang pleno," Deni menyahut dari posisi duduknya yang menyempit. "Sidang dugaan gratifikasi dan korupsi massal saudara Juna."

Monic memutar kepalanya, menatap Juna yang sedang melonggarkan kancing lengan kemejanya. "Ah," Monic mendengus, sudut bibirnya terangkat tipis. "Cocok sih mukanya. Muka-muka orang yang kalau dapet duit banyak langsung lupa daratan."

Juna merogoh saku celananya, meremas uang dua ribuan, melemparkan tepat mengenai kening Monic. "Tolong mati juga bareng mereka berdua."

Dita menatap ujung sepatu jinjingnya yang kotor terkena cipratan air got gang depan.

Juna meraih kantong plastik besar hitam yang digantung di stang motor. Dia meletakkannya di tengah meja. Dia mengeluarkan tiga kotak karton tebal cokelat dari dalam kantong plastik.

Monic mengubah posisi duduknya, mencondongkan dada ke arah meja. "Apaan tuh? Hasil korupsi?"

"Oleh-oleh dari klien," Juna membuka salah satu penutup kotak, barisan roti dengan taburan bubuk putih dan potongan kacang almond yang tersusun rapi di atas kertas minyak.

Deni mengulurkan tangan, menarik salah satu kotak mendekat ke arahnya. Jari telunjuknya menyentuh permukaan roti yang mengkilap oleh lapisan gula karamel. Dia diam beberapa detik, menatap bentuk roti yang meliuk tidak beraturan. "Ini beneran makanan? Kok bentuknya kayak adonan gagal yang kelindes ban mobil?"

"Itu croissant pastry, Den," Nara menyahut, mengambil selembar tisu dari dalam tasnya. "Menteganya beda sama roti bantal yang biasa lo beli di lampu merah."

Deni mengangkat roti itu tinggi, mendekatkannya ke hidung, lalu menghirup aromanya. "Wangi sih. Tapi kok teksturnya keras kayak kanebo kering?"

Ucup menjepit satu roti berukuran paling kecil dengan ibu jari dan telunjuknya. "Ini roti jenis begini pasti harganya setara sama setoran narik gue setengah hari."

Lihat selengkapnya