DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #25

25. KEROKAN

Cahaya matahari siang menyinari koridor semen lantai dua. Dari luar gang Mampang, sayup-sayup terdengar teriakan intermiten tukang galon keliling beradu dengan deru knalpot motor yang melintas di atas aspal kering.

Juna melangkah keluar dari Kamar 202.Rambutnya acak-acakan. Tangannya memegang botol mineral kosong. Langkahnya tertahan tepat tiga langkah sebelum mencapai pembatas koridor.

Di depan pintu Kamar 203. Monic duduk di atas kursi kayu panjang. Ia mengenakan kaos jersey bola kebesaran. Wajahnya polos tanpa riasan, pucat dengan rona keunguan samar di bawah kelopak mata. Rambut hitam panjangnya diikat asal ke atas, anak rambut lepek menempel di pelipis. Selimut beludru tipis diturunkan sebatas pundak, membungkus lengan atasnya yang bergidik kecil.

Juna menggeser sandal jepitnya. "Tumben nggak wangi parfum satu gang."

Monic menoleh, Kelopak matanya bergerak lambat, mata sayu dan kemerahan di sudut-sudutnya. "Gue lagi mode jenazah, Jun. Jangan ganggu."

Juna melangkah mendekat. "Lo sakit?"

"Masuk angin doang." Suara Monic serak.

"Muka lo pucet banget."

Monic mengembuskan napas berat dari hidung, membetulkan letak selimutnya yang merosot. "Ya namanya juga masuk angin, bukan masuk Islam. Masa harus cerah."

Juna menarik ujung kursi kayu yang kosong. Pandangannya berpindah ke permukaan pintu kamar Monic yang tertutup rapat. Sudut lantai bawah pintu bersih.

"Pacar lo... nggak dateng lagi?" Juna bertanya pelan, matanya kembali ke wajah Monic.

Monic membuka matanya sedikit lebih lebar, menatap lurus ke arah jemuran kain di seberang mereka. "Pacar yang mana?"

"Yang rambutnya klimis."

Bibir Monic berkedut pendek, lalu menyandarkan kembali kepalanya ke dinding. "Udah dua mingguan kagak nongol."

"Berantem?"

"Nggak juga. Chat makin jarang. Telepon juga cuma kalau dia sempet," Monic menjeda kalimatnya. "Biasa lah."

"Lo nggak nanya?"

Monic menarik napas dalam, menahannya di dada, lalu mengembuskannya perlahan. "Dia suami orang, Juna. Gue nanya pun jawabannya pasti muter di situ aja. Istri, anak, kantor, macet, capek, meeting. Perempuan kayak gue nggak punya hak buat minta jadwal."

Suhu di koridor merangkak naik seiring matahari di atas kepala. Suara melengking Ucup terdengar dari bawah, memaki seseorang lewat sambungan telepon.

Monic merapatkan selimut beludrunya hingga batas dagu, bahunya bergetar lagi.

Juna menaruh botol kosongnya di lantai. "Lo beneran harus periksa, Mon. Puskesmas juga deket, paling jalan kaki depan gang."

"Ngapain?" Monic menggumam dari balik selimut.

"Ya berobat."

"Dokter paling bilang istirahat, makan, minum obat. Semua hal yang gue udah tahu tapi nggak punya waktu buat dilakuin."

"Tapi kalau makin parah?"

Monic memejamkan mata. "Kalau makin parah, gue izin kerja. Kalau mati, gue nggak usah bayar kos bulan depan."

Juna menatap lurus ke samping wajah Monic yang memutih. "Becanda lo makin lama makin serem."

"Namanya juga latihan." Monic menyahut pendek.

Juna menghela napas panjang, meluruskan kakinya di atas lantai semen. "Mau gue beliin obat?"

Monic menggeleng. "Nggak usah. Kerokin aja."

Juna memutar tubuhnya menghadap Monic. "Hah?"

"Kerokin. Punggung gue berat banget."

Juna menatap Monic dari atas ke bawah. "Lo minta gue kerokin?"

Monic membuka matanya, satu alisnya terangkat menatap Juna. "Iya. Masa gue minta dinikahin?"

Juna menegakkan punggung, telapak tangannya bergerak di atas lutut. "Kenapa nggak Dita?"

"Udah berangkat dari jam sebelas tadi."

"Nara?"

Monic memutar bola matanya. "Nara kalau kerokin gue, paling sambil ngasih laporan keuangan, permukaan punggung tidak efisien, Monic. Males gue denger khotbahnya."

Juna menelan ludah. "Ya Deni?"

Monic langsung mendengus ketat. "Deni? Gue minta dikerokin, bukan buat dipake. Yang ada koinnya belum nempel, tangannya udah ke mana-mana. Ogah."

"Bang Ucup?"

Monic melirik ke arah anak tangga. "Gue nggak mau. Dia laki orang. Istrinya di Tegal."

Alis Juna tertegun berkerut. "Lo serius takut Ucup selingkuh dari istrinya?"

"Iya."

"Tapi lo nggak takut sama gue?"

Monic menggeser posisinya sedikit lebih dekat, ia tersenyum tipis, menatap lurus mata Juna. "Lo udah rusak, Jun. Nggak usah dijaga."

Pintu kayu Kamar 203 terbuka. Gorden kain satin cokelat tua ditutup rapat, cahaya matahari masuk lewat celah kain. Beberapa kapas bekas pembersih makeup di atas meja rias. Botol balsem dan minyak kayu putih tergeletak miring di dekat jejak lingkaran gelas kopi yang sudah mengering.

Monic melangkah masuk lebih dulu, selimut macannya terseret di lantai. Juna mengikuti dari belakang, langkahnya tertahan di ambang pintu.

"Masuk, Jun. Jangan berdiri kayak tamu RT."

Juna melirik koridor luar. "Pintunya dibuka aja."

Monic mengambil botol minyak kayu putih besar dan koin seribuan putih dari atas nakas. "Kalau pintu dibuka, Deni lewat pura-pura nyari sandal, terus matanya melotot ke dalam. Tutup aja."

Juna menarik pintu kayu merapat. Dia melangkah mendekati kasur.

"Nih. Kerokin bagian punggung sama pundak," Monic menyodorkan botol minyak dan koin seribuan ke telapak tangan Juna.

Juna menerima kedua benda itu. Dia berdiri kaku di sisi kasur selama beberapa detik.

"Jun," panggil Monic tanpa menoleh.

"Apa?"

"Itu koin, bukan cincin nikah. Nggak usah gemeter begitu."

Monic memutar tubuhnya membelakangi Juna. Tangannya menarik bagian bawah jersey ke atas, melipat kain itu hingga menumpuk di atas pundak, menjepitnya di bawah dagu. Punggungnya terbuka di bawah temaram cahaya kamar.

Kulit punggungnya putih pucat, guratan pembuluh darah halus terlihat di sekitar tulang belikat yang menonjol. Otot-otot di sekitar bahunya kaku, beberapa helai rambut hitam menempel di tengkuk.

Juna membuka tutup botol, menuangkan cairan putih ke telapak tangannya. Dia menempelkan koin ke kulit punggung Monic.

Monic mengernyitkan bahunya, tubuhnya sedikit tersentak ke depan. "Pelan amat. Lo kerokin orang apa lagi tanda tangan kontrak? Teken dikit."

Lihat selengkapnya