Cahaya matahari melewati celah gorden kain tipis. Debu-debu halus melayang di dalam garis vertikal yang menerangi permukaan kasur. Gaun hitam poliester ketat dan kemeja katun tergeletak di atas kasur.
Dita duduk tegak di atas lantai, menghadap cermin kotak kecil di atas meja. Wajahnya polos. Jemarinya menggenggam pensil alis cokelat, menarik garis pelan di atas tulang pelipis, mencoba membuat lengkungan yang tipis, namun goresan itu berakhir terlalu tajam dan tebal—pola yang biasa dia gambar di bawah sorot lampu neon temaram room karaoke.
Dita mengembuskan napas panjang. Ujung telunjuknya menghapus paksa sudut terluar alis itu hingga kulitnya memerah. Ia melirik ke layar ponsel ponsel di atas nakah, menatap email masuk.
Prames Group Tower
Undangan Interview: Staf Administrasi Logistik Lapangan
Waktu: Pukul 14.00 WIB
Lantai 12, Ruang Rekrutmen B
Tok. Tok.
Pintu kamar diketuk dua kali dari luar.
Monic berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih pucat, gurat lelah setelah dua hari meringkuk karena demam. Rambut panjangnya diikat asal ke atas dengan karet gelang. Matanya turun, menatap kemeja putih dan map cokelat di atas kasur secara bergantian.
"Mau kondangan lo?" Monic bersandar di kusen pintu.
Dita tidak menoleh dari cermin. Tangannya meraih botol foundation. "Interview di Prames Group."
Monic menegakkan tubuh. Dia melangkah masuk. Matanya menyipit menatap potongan kemeja putih Dita. "Prames Group itu yang gedungnya segede gaban di Sudirman-Kuningan? Yang lobinya pake kaca semua?"
"Iya."
"Gila." Monic duduk di tepi kasur, di dekat gaun hitam malam Dita. Dia menepuk map cokelat dengan ujung kukunya. "Kalau keterima, jangan lupa sama rakyat kecil. Minimal traktir gue mi ayam depan gang yang pake pangsit basah."
Dita menarik sudut bibirnya. "Keterima dulu baru songong."
Monic membungkuk, meraih tabung lipstik kecil cokelat muda dari tumpukan kosmetik di atas meja Dita. Dia menyodorkannya tepat di depan wajah Dita, menghalangi pandangan ke cermin.
"Pakai yang ini. Jangan yang merah menyala kayak semalam," kata Monic. Suaranya datar. "Nanti HRD-nya mikir lo datang buat buka room baru di lantai dua belas."
Dita menghentikan gerakan tangannya di udara. Matanya menatap pantulan Monic di cermin. "Mulut lo pagi-pagi udah najis aja."
"Biar lo siap," balas Monic tanpa berkedip, meletakkan lipstik di atas meja. "Dunia kantor sama dunia room itu kadang cuma beda lampu. Di sana lampunya putih terang, di tempat kita lampunya redup muter-muter. Isinya? Sama-sama punya duit yang pengen ngatur."
Dita memandang lipstik nude pemberian Monic. "Gue pengen keluar, Mon," suaranya pelan, tertahan di tenggorokan.
Monic menatap punggung Dita lewat cermin. "Keluar aja. Nggak ada yang betah di sana seumur hidup." Dia berdiri dari kasur. "Tapi jangan polos-polos amat pas buka pintunya. Dikira orang kantoran itu malaikat semua?"
Monic berjalan menuju pintu.
Langkahnya terhenti di ambang pintu. Dia berbalik, menatap rok hitam bahan Dita yang tergelar di kasur.
"Tapi, tunggu bentar," Monic menunjuk rok. "Lo jangan pake pakaian jelek itu. Keliatan banget dari pasar loak."
Monic berbalik cepat, melangkah kembali ke kamarnya. Dua menit kemudian, dia kembali membawa rok span hitam dengan belahan kecil di belakang bawah, dam tas kanvas krem.
"Pakai ini. Biar mereka tahu lo punya modal tampang buat ditaruh di depan," kata Monic sambil melempar rok itu ke atas kasur.
Ujung sepatu hak tahu Monic yang dipinjam Dita berbenturan dengan lantai marmer hitam legam. Suaranya bergema di langit-langit lobi. Udara dingin dari mesin pendingin sentral menusuk kulit lengan Dita yang tertutup kemeja putih milik Monic.
Dita berjalan pelam. Map cokelat didekap erat di depan dada. Langkahnya terhenri di depan dinding kaca lobi, ia menatap pantulan kemeja putih ketat yang mempertegas lekuk pinggang, rok span hitam yang membungkus paha, rambut yang diikat ekor kuda.
Di sekelilingnya, gerombolan orang dengan tanda pengenal berkalung tali biru berjalan cepat. Pria-pria sepatu kulit hitam mengkilap, dan wanita-wanita membawa komputer tablet tipis.
Dita menghentikan langkah di depan meja resepsionis. Seorang perempuan mendongak. "Selamat siang, ada yang bisa dibantu?"
Dita menelan ludah. "Saya... interview, Mbak. Administrasi Logistik Lapangan."
Jemari resepsionis itu bergerak di atas papan ketik. Matanya membaca layar monitor yang tersembunyi di balik meja. "Atas nama?"
"Dita."
"Lantai dua belas. HR Recruitment. Silakan gunakan lift di sebelah kanan, lalu tunggu di ruang kandidat," kata resepsionis itu menyodorkan kartu akses putih polos.
Tangan Dita terulur, meraih kartu akses, lalu berbalik menuju barisan gerbang akses otomatis.
Ia menoleh ke pintu kaca besar. Seorang perempuan muda melangkah masuk, mengenakan setelan blazer abu-abu pucat, celana panjang kulot semata kaki, dan tas tangan kulit tanpa merek.
Perempuan itu berjalan lurus melewati gerbang akses tanpa menempelkan kartu. Dua orang petugas keamanan berbadan tegap di sisi gerbang menegakkan posisi berdiri, lalu menunduk.
Dita berdiri diam di dekat pilar besar. Matanya mengikuti punggung perempuan itu hingga masuk ke dalam lift khusus yang terletak di ujung koridor pribadi.
Ruang tunggu lantai dua belas dikelilingi dinding kaca transparan. Enam kandidat lain duduk di atas kursi panjang. Dita duduk di kursi paling pojok, tepat di samping pot tanaman plastik.
Dita melirik ke arah kanan. Seorang perempuan seusianya memeriksa berkas di layar laptop tipis perak. Di sisi lain, dua kandidat pria berbicara dengan suara setengah berbisik.
"Kemarin lo di-test SAP juga enggak?"
"Enggak, gue langsung simulasi Excel buat vlookup sama pivot table. Tapi karena sertifikasi logistik gue dari kampus kemarin valid, kayaknya langsung masuk ke panel manager sih."
Dita menurunkan pandangannya ke arah map cokelatnya. Dia membuka kancing map, menarik selembar kertas HVS dari dalam map.
Riwayat Pekerjaan:
Staf Produksi Garment — PT Maju Bersama (6 Bulan)
Kasir Toko Harian — Berkah Mart (1 Tahun)
Admin Packing — Gudang Logistik BKC (3 Bulan)
Dita melipat kembali kertas itu, memasukkannya ke dalam map, lalu meremas ujung jemarinya.
Bzzzt.
Ponsel di dalam tas kanvasnya bergetar pendek. Dita meraba ke dalam, membuka layar. Pesan dari Monic muncul di baris paling atas.
Monic
Jangan gemeter. Kalau HRD-nya ganteng, tetap jangan gratis.