Logo emas Prames Group di dinding akrilik memantulkan cahaya putih lampu. Pulpen emas milik Heru tergeletak tanpa tutup di atas permukaan meja kayu oval, bergulir pelan, berhenti tepat di dekat garis tengah. Map kontrak kerja sudah tenggelam di balik ritsleting tas kanvas Dita.
Dita berdiri tegak di tempatnya, kedua tangannya menggenggam erat tali tas kanvas di bahunya, buku-buku jarinya memutih. Heru melangkah memutari meja, mendekatinya.
Dita tidak bergerak mundur. Matanya menatap lurus ke depan, kosong. "Setelah ini selesai, Pak."
Heru berhenti satu jengkal di depan Dita. "Kamu terlalu banyak membuat aturan hari ini."
"Bapak juga," balas Dita pendek.
Heru berbalik sebentar, melangkah ke arah pintu kayu, mengintip lewat celah kecil di antara bilah tirai vertikal.
Kursi kerja di dekat meja bergeser kasar, menabrak kaki meja oval. Tas kanvas Dita.
Di dinding, poster dengan tulisan People First tetap terpampang di bawah sorot lampu. Kedua tangan Dita mencengkeram tepi meja oval kayu di belakang tubuhnya, meremas pinggirannya.
Pulpen emas di atas meja tersenggol gerakan lengan, jatuh dari tepi meja dan mendarat di atas karpet. Heru menarik kerah kemeja putih Dita, satu kancing bagian atas terlepas, kulit lehernya menegang.
Tangan Heru mencengkeram tengkuk Dita, menarik wajahnya, Heru melumat seluruh bibir Dita. Gigi mereka beradu, meninggalkan rasa anyir darah di ujung lidah Dita.
Mulut Dita terbuka, membiarkan lidah Heru memaksa masuk, sepasang matanya tetap terbuka, menatap lurus ke arah bingkai foto sertifikat di dinding belakang.
Kepala Heru turun ke leher, meninggalkan gigitan pendek yang kasar di sepanjang urat leher Dita yang menegang. Heru menyusupkan kedua tangannya ke bawah paha Dita, mengangkat tubuhnya, lalu menghempaskannya ke atas meja. Beberapa map berkas lamaran dan papan nama akrilik bergeser, jatuh berantakan di lantai.
Tangan Heru gemetar membuka ritsleting celananya, dia memisahkan kedua paha Dita secara paksa dan langsung menghantamkan badannya maju.
Dita tersentak, punggungnya membentur permukaan meja kayu. Gesekan kering di bagian bawah tubuhnya mengirimkan rasa perih yang tajam, namun otot-otot paha dan perutnya yang semula kaku perlahan melonggar, menerima tekanan yang datang bertubi-tubi. Reaksi fisiknya bergerak di luar kendali pikirannya.
Heru menarik tangan kanannya, lalu melayangkan satu tamparan keras ke pipi kiri Dita.
"Ahh," Erangan tertahan keluar dari mulut Dita.
Kepala Dita terlempar ke samping. Kulit pipinya memerah. Telapak tangan Heru berpindah ke leher depan Dita, mencengkeram dan mencekiknya.
Saluran napas Dita tersumbat. Oksigen tertahan di tenggorokan, rongga dadanya naik-turun cepat. Kulit wajahnya perlahan memerah, urat-urat halus di pelipis menonjol tegang. Matanya mulai berair menatap lurus ke arah Heru.
Di antara pasokan udara yang menipis dan cekikan yang semakin kuat, pinggul Dita bergerak menyambut sentakan Heru yang semakin cepat dan dalam.
Heru menarik tangannya dari leher Dita, ia mundur, mencengkeram bahu Dita, membalikkan badannya. Dita menelungkup di atas meja, wajahnya menempel permukaan kayu, tepat di samping laptop.
Heru kembali menyentak dari belakang. Kedua tangan Dita ditarik ke belakang punggung, dikunci dalam satu genggaman tangan kiri Heru, tangan kanan pria itu menjambak rambut ekor kuda Dita, menariknya ke belakang hingga kepala Dita mendongak. Urat leher depannya tertarik.
Heru membungkuk, menempelkan wajahnya di dekat telinga Dita. "Ternyata kamu nikmatin saya kasarin gini ya?"
Dita menahan napasnya di tenggorokan. "Nggak."
Jari-jari tangan Heru melepas jambakan, kepala Dita jatuh ke atas meja. Kuku Heru mencengkeram kulit pinggul Dita, menekan begitu dalam, kuku-kukunya meninggalkan bekas goresan kemerahan yang memutih di pinggirannya.