DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #28

28. DUA TOPENG

Pendingin ruangan di sudut kubikel berdesis panjang, uap dingin menguap di atas kepala Danang. Di atas meja kerja Juna, gelas berisi sisa es kopi susu mulai berkeringat, membentuk lingkaran air yang perlahan melebar membasahi sudut kertas tagihan internet.

Rafi duduk di sebelah Juna. Jari telunjuknya mengetuk sisi gelas kopinya bercampur suara ketikan papan ketik Bayu. Bahu Juna menegang, punggungnya tegak lurus menatap baris kode pemrograman yang tidak berubah selama sepuluh menit. Matanya merah di bagian sudut.

Di kubikel seberang, Danang sesekali menurunkan pandangan dari monitornya, melirik ke arah Juna dan Rafi sebelum kembali mengetik.

Gagang pintu kayu di ruangan tengah berputar. Anto melangkah keluar. Kemeja flanel kotak-kotak biru miliknya digulung kasar sampai siku. Wajahnya lurus,atanya menyapu ruangan, lalu berhenti tepat pada ubun-ubun Juna.

"Juna. Rafi. Ruangan gue."

Juna menahan napasnya di tenggorokan. Rafi menurunkan gelas kopinya ke atas meja. Dia menoleh ke arah Danang tanpa menggerakkan lehernya.

"Kalau gue nggak keluar dalam lima belas menit, tolong hapus history browser kantor gue," bisik Rafi.

Danang menggeser kursinya sedikit maju. "Lo buka apa?"

"Motivasi bisnis."

Bayu mendengus dari balik monitornya tanpa menoleh. "Bohong."

Juna berdiri, merapikan kemeja hitamnya. Dia menatap Rafi yang masih membetulkan posisi duduknya sebelum ikut berdiri.

"Bang, ini gara-gara lo kan?" tanya Juna, suaranya tertahan.

Rafi mengangkat bahu, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Semua musibah kantor biasanya memang lewat gue dulu."

Mereka berdua berjalan melewati karpet abu-abu kantor, melangkah masuk ke dalam ruangan Anto.

Di atas meja kerja kayu Anto, tiga map proposal jilid lakban hitam bertumpuk di samping rokok elektrik. Anto duduk di kursinya. Tangannya meraih rokok elektrik, menghisapnya sekali, lalu mengembuskan uap putih tebal yang beraroma buah beri ke arah langit-langit.

Juna dan Rafi duduk berdampingan di dua kursi depan meja. Posisi tangan Juna bertumpu di atas paha, Rafi menyandarkan punggungnya, matanya tertuju ke pulpen hitam yang terletak di atas meja Anto.

Anto menurunkan rokok elektriknya. Matanya menatap Juna sebelum beralih ke Rafi. "Jadi bener kalian bikin PT?"

Rafi melirik Juna lewat sudut matanya, lalu menegakkan duduknya. "Pak, sebelum Bapak marah, saya mau klarifikasi bahwa saya cuma korban keadaan."

"Bangsat," desis Juna tanpa merubah arah pandangnya dari Anto.

Anto mengetuk meja dengan ujung jari telunjuknya. "Gue tanya sekali lagi. Bener?"

Juna menarik napas panjang melalui hidung. "Bener, Pak."

Anto mengangguk pelan, matanya tidak berkedip. "Siapa aja?"

Jemari tangan Juna di atas paha saling meremas. "Saya. Bang Rafi. Sama... investor."

"Investor?" Anto menaikkan sebelah alisnya.

Rafi mengangkat tangan kanannya setinggi telinga. "Ini bagian yang kalau dijelasin malah bikin kami terlihat makin bersalah, Pak."

Anto menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Investor kalian Alika Prameswari?"

Juna menutup mulutnya. Bahunya kembali naik. Rafi memejamkan mata rapat-rapat, mengembuskan napas panjang dari mulut.

"Nah. Game over," gumam Rafi.

Mata Juna memebesar menatap Anto. "Bapak tahu dari mana?"

Anto meraih gelas kopi hitamnya, memutarnya perlahan. "Gue sales manager, bukan penjaga warnet."

"Klien lima ratus juta tiba-tiba sering minta meeting sama anak baru, anak baru sering izin keluar, senior gue mendadak sering pinjam kemeja rapi, terus nama kalian nongol di obrolan legal orang Prames. Lo pikir gue bego?"

Rafi menoleh ke arah Juna. "Gue udah bilang jangan percaya muka tua. Mereka punya jaringan."

Anto mengetuk meja lebih keras. "Gue belum selesai."

Juna menurunkan pandangannya, menatap ujung sepatunya "Maaf, Pak," suaranya pelan. "Kalau ini dianggap konflik sama Nexus..."

"Bagus," potong Anto.

Juna menghentikan kalimatnya di tengah jalan. Dia mendongak. "Hah?"

"Gue bilang bagus," ulang Anto.

Rafi mengangkat kepala pelan, matanya menyipit menatap garis wajah Anto. "Ini jebakan atau Bapak lagi kena stroke ringan?"

Anto menunjuk wajah Rafi dengan ujung pulpennya. "Lo diem dulu."

Anto kembali menatap Juna. "Gue lebih seneng anak buah gue bikin PT daripada bikin utang pinjol, Jun. Gue lebih seneng lo belajar jadi pemilik daripada seumur hidup cuma ngejar komisi sambil ngeluh target. Kalau anak buah gue bisa lebih sukses dari gue, itu artinya gue nggak gagal-gagal amat jadi atasan."

Juna membuka mulutnya lalu tertutup lagi. Dia melihat ke arah Rafi, yang kini juga terdiam, mulutnya setengah terbuka.

Anto berdiri dari kursinya, berjalan mendekati whiteboard, meraih spidol hitam yang tergeletak di dudukan bawah, lalu menarik garis horizontal panjang di bawah tabel target.

Tangannya bergerak di bawah garis, menulis satu kata BATAS. Ia memutar tubuhnya, memegang spidol itu di depan dada dengan kedua tangan. "Tapi dengerin gue baik-baik."

Dia menunjuk ke arah luar pintu. "Jam kantor lo punya Nexus. Klien Nexus tetap punya Nexus. Data kantor jangan pernah lo bawa keluar. Developer Nexus jangan lo pakai buat kerjaan PT lo. Resource kantor, laptop kantor, email kantor, database kantor, semuanya bukan punya bokap lo."

Juna mengangguk. "Siap, Pak."

"Kalau lo langgar," Anto menurunkan suaranya, "gue injek karier lo sebelum perusahaan lain sempat nawarin gaji lebih gede."

Rafi mengangkat tangan kanannya lagi. "Kalau saya, Pak?"

Anto menatap Rafi tanpa ekspresi. "Lo gue injek tanpa alasan juga bisa."

Rafi mengangguk dua kali. "Fair."

Anto berjalan kembali ke kursinya, menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, meletakkan spidolnya di atas meja. "Tapi kalau kalian main bersih, gue dukung. Dunia sales itu nggak gede-gede amat. Nama baik lo lebih mahal daripada invoice pertama."

Juna menatap mata Anto. "Makasih, Pak."

Anto mengangguk kecil. Garis tegang di sekitar pipinya hilang, ia tersenyum.

"Sebagai bentuk dukungan moral dari atasan," Anto meraih rokok elektriknya, "kalian traktir gue dugem nanti malam."

Juna bengong, matanya berkedip dua kali. "Pak?"

Rafi menegakkan punggungnya. "Itu namanya pemerasan, Pak."

"Di kantor namanya pembinaan," balas Anto.

"Pembinaan kok ke dugem?" tanya Rafi lagi.

Anto menghidupkan layar ponselnya, menggeser sesuatu di sana. "Biar mental founder kalian diuji."

Lihat selengkapnya