Di atas aspal hitam yang basah sisa gerimis, lampu-lampu jalanan pecah menjadi refleksi kuning yang panjang. Suara bass dari dalam ruangan masih menyisakan getaran halus di daun pintu kaca besar di belakang mereka. Seorang petugas parkir bersiul rendah di dekat barisan mobil mewah, di dekat pot tanaman besar berbahan semen, seorang pria berjas membungkuk menumpahkan isi perutnya.
Alika berdiri bersandar di dinding marmer luar, matanya terpejam rapat.
Juna berdiri di depannya, kedua tangannya memegang kedua bahu Alika. "Saya panggil driver kami."
"Jangan," kata Alika tanpa membuka mata.
"Kamu nggak bisa pulang sendiri."
"Jangan ke rumah," Alika membuka matanya sedikit, menatap ujung sepatu Juna.
Juna mengerutkan dahinya. "Kenapa?"
Alika tertawa kecil. "Kalau Papih lihat gue begini, besok pagi gue bukan CEO lagi. Gue jadi anak kecil yang disidang di meja makan."
Juna terdiam. Angin malam menerpa wajahnya. "Apartemen temen?"
Alika menggeleng lambat. "Hotel."
Juna menatap garis wajah Alika di bawah lampu jalan yang putih. "Alika."
"Gue cuma butuh tidur," kata Alika, suaranya melemah.
"Kamu mabok."
Alika mengangkat wajahnya, menatap ke mata Juna yang merah. "Lo juga teler."
Juna mengunci mulutnya.
"Jadi jangan sok jadi malaikat," kata Alika lagi, jemarinya melepaskan cengkeraman dari kemeja Juna.
Juna mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Motor PCX merah bergerak membelah aspal Jalan Satrio yang mulai lengang. Di bawah sorot lampu jalan, bayangan motor memanjang dan memendek mengikuti tiang pilar jalan layang di atas kepala. Angin malam bertiup kencang menghantam kaca helm Juna yang terbuka setengah.
Alika duduk di jok belakang. Kedua lengannya melingkar erat di sekitar pinggang Juna, wajahnya menempel di balik punggung jaket.
Juna mencengkeram karet setang motor dengan kedua telapak tangannya yang mulai basah, menahan arah roda agar tetap lurus di lajur kiri. "Kamu yakin hotel?"
"Iya." Suara Alika teredam oleh angin di balik punggungnya
"Saya bisa cariin driver," kata Juna setengah berteriak. "Saya tunggu sampai kamu masuk."
"Jun."
"Apa?"
Alika mempererat lingkar tangannya di pinggang Juna, menekan dadanya ke punggung Juma. "Berhenti pura-pura lo selalu tahu batas."
Juna menatap lurus ke arah lampu rem mobil di depannya, kecepatan motornya perlahan melambat di bawah kendali jarinya yang kaku.
Pintu kaca otomatis hotel bisnis di daerah Benhil terbuka. Lobi ruangan didominasi lantai marmer abu-abu muda dan wewangian aromaterapi sereh. Lampu gantung minimalis memancarkan cahaya kuning redup di atas meja resepsionis.
Alika berjalan di samping Juna, langkahnya limbung, telapak tangannya sesekali menyentuh permukaan dinding wallpaper. Dia melangkah menuju meja resepsionis.
Juna berhenti dua meter di belakangnya, berdiri tegak, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket.
Petugas resepsionis pria menatap mereka datar. Alika mengeluarkan dompet kecilnya, meletakkan kartu identitas dan kartu kredit di atas meja konter.
Di dalam lift menuju lantai tujuh, mereka berdua berdiri berjauhan di dua sudut berlawanan.
Alika menyandarkan bagian belakang kepalanya ke dinding lift, matanya menatap pantulan Juna di cermin. "Lo kecewa?"
Juna tidak merubah arah pandangnya dari angka digital di atas pintu. "Sama apa?"
"Sama gue."
"Saya bukan siapa-siapa buat kecewa," kata Juna, suaranya datar di dalam ruang lift yang sempit.
Alika tertawa "Itu kalimat orang yang pengen aman."
Langkah mereka teredam di koridor lantai tujuh dilapisi karpet tebal cokelat tua. Lampu-lampu dinding berbentuk kotak memancarkan cahaya kuning keemasan yang membentuk kerucut di atas setiap nomor kamar.
Alika berhenti di depan pintu bernomor 714, menempelkan kartu akses plastik ke atas panel hitam hingga lampu indikator kecil di atasnya berubah menjadi hijau. Daun pintu terbuka, bagian dalam kamar yang remang, lampu meja yang menyala otomatis.
Juna berdiri diam di atas karpet koridor, satu meternya dari ambang pintu. "Kamu masuk. Saya pulang."
Alika melangkah ke dalam ruangan, lalu memutar tubuhnya kembali menghadap Juna. Setengah badannya di bawah bayangan lampu kamar, setengahnya lagi terkena cahaya koridor. "Lo nggak mau pastiin gue aman?"
"Saya udah pastiin sampai sini," kata Juna, tangannya tetap berada di dalam saku jaket.
Alika menatapnya, kelopak matanya turun setengah. "Takut?"
Juna mengembuskan napas panjang, bahunya turun sedikit. "Iya."
"Takut sama gue?"
"Takut sama diri saya sendiri."
Alika menarik sudut bibirnya. "Ternyata lo nggak seberani waktu ngomong di depan Papih."
Juna menatap karpet di bawah kakinya. "Itu meeting. Ini beda."
Alika melangkah maju, merapat ke arah kusen pintu. "Semua juga meeting, Jun. Ada yang pakai meja. Ada yang pakai tubuh. Ada yang pakai nama keluarga."
Juna menarik kaki kanannya mundur setengah langkah. "Tidur, Alika."
Juna baru memutar tubuhnya. Jemari tangan Alika bergerak cepat dari balik pintu, mencengkeram pergelangan tangan kanan Juna yang baru keluar dari saku jaket.
Langkah Juna terhenti. Dia tidak memutar kepalanya kembali, matanya menatap lurus ke arah ujung koridor yang kosong.
"Jangan pulang dulu," bisik Alika dari ambang pintu.
Juna memejamkan matanya. "Kamu mabok."
"Gue mabok. Bukan gila," kata Alika, suaranya terdengar lebih jelas di dekat bahu Juna.