DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #30

30. DAMAI?

Sinar matahari siang memantul keras di atas kap mobil-mobil yang berderet di area parkir terbuka di depan parkiran hotel. Alika berjalan di belakang Juna. Gaun tertutup blazer hitam yang diambilnya dari dalam tas, rambutnya diikat asal ke belakang dengan jepitan, beberapa helai jatuh di sekitar pelipis.

Juna berjalan sambil menjinjing helm di tangan kanan. Dia berhenti tepat di depan motor PCX merah yang terparkir di antara barisan motor matic lainnya.

Alika menghentikan langkahnya dua meter di belakang Juna, matanya menyapu barisan motor sebelum berhenti pada Juna. "Mobil lo mana?"

Juna menoleh, memasukkan kunci kontak ke lubangnya. "Mobil apa?"

"Mobil lo."

"Gue nggak punya mobil," kata Juna santai.

Dahu Alika berkerut menatap bodi PCX merah di depannya. "Lo serius mau ke kantor naik ini?"

"Ini motor gue."

"Gue pikir lo bawa mobil tadi malam."

"Gue nggak bisa bawa mobil," Juna memakai helmnya, mengklik talinya di bawah dagu.

Alika maju satu langkah. "Lo nggak bisa nyetir mobil?"

"Bisa kalau tugasnya cuma nabrak pagar," balas Juna, ibu jarinya menekan tombol startee, mesin mesin motor berdesis halus. "Mau naik apa? Lo mau pesen driver?"

Alika membuka ponselnya. Layarnya dipenuhi notifikasi email baru dari Alvin, file PDF tebal dengan judul berkas panjang. Waktu tiga hari tertulis di bagian atas badan email.

Alika melihat kembali ke arah jok motor Juna, lalu ke arah jalan raya di luar hotel yang sudah mulai macet. "Helmnya bersih nggak?"

Juna meraih helm cadangan dari gantungan di bawah setang, menyodorkannya ke Alika. "Bersih. Paling bekas Rafi."

Alika menarik wajahnya mundur.

"Bercanda. Itu helm baru," kata Juna.

Alika menyambar helm dengan kasar, memakainya ke kepala. "Kalau rambut gue rusak, gue salahin lo."

"Rambut lo udah rusak dari pagi," kata Juna tanpa menoleh.

Alika menatap punggung helm Juna.

Juna menarik tuas gas sedikit, mesin menderu pendek. "Naik, Bos."

Alika melangkah naik ke jok belakang dengan gerakan canggung. Rok gaunnya yang ketat membuatnya harus duduk menyamping. Tangannya menggantung di udara.

"Pegangan," kata Juna.

"Di mana?"

Juna diam dua detik. "Samping jok juga bisa."

Alika mencoba memegang besi behel di bagian belakang jok. Saat Juna menggeser motor mundur, tubuh Alika oleng ke kanan, kakinya hampir menyentuh aspal. Kedua tangannya bergerak maju, mencengkeram kain jaket Juna di bagian pinggang.

Juna menahan senyumnya di balik kaca helm yang gelap.

"Jangan senyum," desis Alika dari belakang.

"Nggak."

"Lo senyum."

"Karena pemandannya langka," kata Juna, mengarahkan roda depan motor ke pintu keluar parkiran. "Anak Prameswari naik PCX."

"Jalan, Juna."

Motor itu bergerak melewati palang parkir otomatis, masuk ke dalam antrean jalur lambat Jalan Satrio.

Asap knalpot bus kota menyembur lurus ke arah mereka saat motor berhenti di lampu merah kolong jalan layang. Di sebelah kiri, deretan ojek online berjaket hijau saling membunyikan klakson pendek, berebut celah setengah meter di samping trotoar. Matahari memantul silau dari kaca gedung menara perkantoran, fatamorgana panas terlihat di atas aspal hitam.

Alika duduk tegak, setiap kali Juna menarik rem mendadak karena motor lain memotong jalur, tubuh Alika terdorong ke depan, cengkeraman tangannya di jaket Juna semakin erat.

"Lo tiap hari begini?" Suara Alika meninggi, hampir tenggelam deru mesin truk di samping mereka.

"Naik motor?" Juna bertanya balik.

"Nyelip-nyelip di antara truk dan bus kayak mau mati."

"Ini belum macet parah," Juna memutar setang ke kanan melewati spion mobil boks.

"Ini udah parah!"

"Ini pemanasan," balas Juna pendek.

Alika memutar kepalanya ke kiri dan kanan. Bau debu jalanan, teriakan kondektur, suara gesekan rem cakram, dan panas yang memancar dari mesin-mesin kendaraan di sekelilingnya.

"Gue ngerti kenapa lo mikirnya beda," kata Alika saat motor kembali melaju di jalan yang agak lengang.

"Kenapa?"

"Lo lihat kota dari sela-sela kendaraan," suara Alika melunak di balik helm. "Gue biasanya lihat dari kaca gelap."

Juna menurunkan kecepatan motornya di lajur kiri. Dia melirik kaca spion, melihat pantulan mata Alika menatap deretan pedagang kaki lima di atas trotoar. "Kaca gelap enak."

"Iya," jawab Alika pelan. "Tapi kadang bikin orang lupa panasnya di luar."

Mereka berdua diam di sepanjang sisa jalan menuju ruko kantor baru.

Ruko berlantai tiga masih berbau tajam minyak cat putih dan lem karpet. Di sudut ruangan utama, beberapa kardus besar berisi kabel LAN dan perangkat router bertumpuk miring di samping meja-meja kayu jepara yang belum dipasang kakinya. Pendingin ruangan di dinding mengeluarkan suara klik berulang kali.

Rafi duduk di atas satu-satunya kursi hitam. Kedua kakinya dinaikkan ke atas kardus monitor, tangannya memegang gelas kopi kertas yang sudah tinggal setengah.

Di seberang meja panjang, Nara duduk tegak lurus. Laptop perak menyala di depannya, dikelilingi tiga map jepit plastik, kalkulator hitam, dan beberapa lembar kertas coretan angka.

Juna melangkah masuk lebih dulu, diikuti Alika yang langsung melepas helm abu-abunya.

Rafi menoleh, menurunkan kakinya dari atas kardus. Nara mengangkat pandangannya dari layar laptop, matanya bergerak mengikuti gerakan mereka berdua.

Juna berhenti di dekat meja panjang. "Ra?"

"Hm," Nara merespons singkat.

"Lo ngapain di sini?"

Nara menatap Juna tanpa ekspresi. "Kerja."

Juna melirik Rafi. "Gue cuma ngabarin Rafi tadi pagi."

Rafi mengangkat bahu, meminum kopinya. "Iya, gue juga bingung dari pagi. Gue kira dia bagian dari furniture baru yang dikirim vendor."

Nara menurunkan layar laptopnya. "Gue udah resign dari kedai."

Juna dan Rafi menoleh bersamaan ke arah Nara, dahi mereka berkerut.

"Terus gaji lo gimana?" tanya Juna dan Rafi hampir bersamaan.

Nara menunjuk lantai semen di bawah kakinya dengan ujung pulpen hitam. "Dari sini."

Rafi tertawa pendek. "Kita bahkan belum bahasĀ gaji."

Lihat selengkapnya