DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #31

31. KUNJUNGAN

Rantai besi rolling door ruko berdenting. Besi abu-abu terangkat setengah tiang, menyisakan celah setinggi dada orang dewasa. Meja-meja kayu berserakan, kertas coretan dan kabel charger yang melingkar tak beraturan.

Rafi duduk di sudut ruangan, menyandarkan punggungnya di kursi lipat hitam. Kemeja birunya kusut di bagian siku, celananya menyisakan bekas lipatan ditekuk. "Gila, baru sekarang gue kerja seniat ini sampe tidur di kantor," tangan kanannya menggenggam gelas kopi susu.

Di meja panjang seberang, laptop tipis menyal. Nara duduk tegak, jemarinya bergerak di atas trackpad. "Nggak usah lebay."

Tangan kanannya menggeser lembaran map merah ke dekat kertas berisi barisan poin pertanyaan yang dicoret pulpen hitam di beberapa tempat. Matanya lurus menatap layar tanpa berkedip.

"Iya lo mah gila kerja bisa ngomong gitu," balas Rafi menyentak kepalanya kiri kanan.

Juna melangkah masuk dari arah toilet. Kantung matanya gelap, kelopak matanya turun.

Alika melangkah masuk di belakang Juna. Rambutnya lurus rapi, kemeja putihnya licin. Guratan tipis di sudut matanya menegang saat berpapasan dengan Juna, langkah Alika tertahan sesaat. Juna segera mengalihkan pandangan ke rak buku kosong di sudut dinding, Alika merapikan ujung jam tangannya yang sudah berada di posisi simetris.

Rafi menurunkan gelas kopinya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. "Wah. Tim inti lengkap," kata Rafi, matanya bergerak dari Juna ke Alika. "Ada yang tidur cukup?"

Nara tidak menghentikan ketukannya di trackpad. Kepalanya bergeser sedikit, melirik Juna lalu beralih ke Alika. "Pertanyaannya bukan cukup," suara Nara datar. "Tapi tidur di mana."

Juna merogoh ke dalam tasnya di pinggir meja, menarik dokumen tanpa melihat ke depan. "Kita fokus kerja."

Alika menarik kursi di sebelah Nara, meluruskan punggungnya. "Setuju."

Rafi mencondongkan badan ke depan, menumpu kedua sikunya di atas meja. Matanya menyipit, memandang keduanya bergantian. "Kalau dua orang yang paling nggak fokus bilang fokus, biasanya harinya panjang."

Tangan Alika bergerak membuka map kulit hitam, logo kecil berlapis emas di pojok dalam. Lembar dokumen berseri dari Alvin Prameswari bergeser ke tengah meja.

"Gue mau ingetin lagi. Secara resmi, kita datang sebagai vendor sistem operasional. Bukan konsultan investigasi. Bukan orang Prames."

Juna mengangguk sekali, jemarinya mengetuk map merah Nara. "Jadi jangan ada yang nyebut Alvin, Albert, atau Prames Group."

Rafi melirik ujung kerah kemeja Alika, lalu turun ke arah sepatunya. "Terutama jangan ada yang kelihatan kayak anak Prameswari."

Alika menurunkan pandangan, memeriksa lipatan kemejanya sendiri. "Emang gue kelihatan banget?"

Rafi menyandarkan punggung kembali, matanya menyipit menilai dari ujung rambut hingga ujung sepatu Alika. "Lo kelihatan kayak orang yang kalau minum teh manis langsung nanya asal gulanya dari kebun mana."

Nara mengulurkan tangan kanan ke samping, meraih tas tangan kulit milik Alika yang digantung di sandaran kursi. Tangannya merogoh ke dalam, mengeluarkan scarf sutra bermotif monogram dan pouch kosmetik kecil dengan logo desainer Eropa yang mengilat.

"Lo ngapain?" tangan Alika tertahan di udara.

"Menyelamatkan penyamaran," ucap Nara datar. Barang-barang itu diletakkannya di bawah kolong meja.

"Itu barang gue."

"Dan sekarang barang itu membahayakan operasi."

Sudut bibir Juna bergetar, menahan napas di hidung. Alika memutar kepalanya, menatap Juna, alisnya bertaut.

"Lucu?"

Juna meluruskan garis bibirnya, menatap dokumen di depan Nara. "Nggak. Operasi ini serius."

Rafi memukul permukaan meja. "Oke. Tim miskin palsu siap berangkat."

Nara menutup laptopnya. "Sebagian dari kita nggak palsu."

Rafi bangkit dari kursi, menyengir lebar. "Itu yang bikin penyamaran meyakinkan."

Pintu mobil Avanza sewaan di tutup. Rafi duduk di kursi depan, memutar tubuhnya miring ke arah sopir. Dalam hitungan menit, keduanya sudah tertawa bersama, membahas jalur tikus menghindari razia uji emisi.

Juna duduk di sisi kanan baris kedua, menempelkan bahunya ke dekat pintu. Alika di sisi kiri, matanya lurus menatap keluar jendela yang mulai berembun. Nara duduk di antara mereka, memangku laptop yang kembali terbuka.

Di luar, aspal jalan tol Jakarta-Cikampek memantulkan gelombang panas. Sinar matahari pagi menembus kaca mobil, membakar lengan. Di sisi kanan dan kiri, deretan truk tronton bermuatan besi dan motor-motor menyelip di antara celah spion. Debu pekat beterbangan setiap kali bus kota menekan rem angin.

Nara mengetuk layar laptopnya. "Data mereka aneh."

Juna memiringkan kepalanya, melirik barisan angka di layar. "Aneh gimana?"

Nara menggeser kursor, memblok baris berwarna kuning. "Retur naik, tapi klaim barang rusak turun. Biaya BBM naik, tapi jumlah pengiriman stabil. Piutang area tertentu makin tua, tapi sales area itu tetap dapat insentif."

Rafi memutar kepalanya dari kursi depan, menyandarkan dagu di atas sandaran jok. "Kalau angka kelihatan mabok, biasanya orangnya lebih mabok."

Alika mengalihkan pandangan dari jendela, matanya terpaku ke grafik batang yang menukik tajam di sudut layar Nara. "Alvin curiga ada orang dalam."

"Alvin nggak perlu curiga," potong Nara. "Angkanya sudah teriak."

Juna memperhatikan samping wajah Nara. "Lo yakin bisa baca cuma dari situ?"

Nara menurunkan layar laptopnya. "Gue nggak yakin. Makanya kita ke gudang."

Alika menatap Nara beberapa detik. "Hari ini kita butuh data, bukan ego."

Nara menoleh, menatap mata Alika. "Bagus. Berarti kita punya satu tujuan yang sama."

Dengung mesin mobil yang tertahan macet dan suara tawa renyah sopir menanggapi cerita Rafi mengisi kekosongan.

Rafi berdehem keras, matanya melirik spion tengah. "Kalau suasana belakang mulai perang dingin, kabarin ya. Gue buka jendela biar asapnya keluar."

Mobil berbelok memasuki jalan berlubang di kawasan industri pinggir Bekasi. Pagar besi setinggi dua meter berdiri kokoh. Di sampingnya, pos satpam berukuran dua kali dua meter berdiri, kaca jendelanya berdebu tebal. Truk engkel bermuatan boks kayu menderu melewati mobil mereka.

Lihat selengkapnya