DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #32

32. AUDIT

Kipas angin dinding berbalut debu hitam berputar lambat di atas kepala, angin hangat berhembus seluruh ruangan warung tegal berukuran tiga kali empat meter. Di atas meja panjang berlapis taplak plastik tipis, beberapa piring berisi nasi rames berjejalan dengan gelas-gelas besar es teh manis yang mulai mencair. Di sekeliling mereka, beberapa buruh pabrik berkaus oblong makan dengan cepat tanpa bersuara.

Alika duduk di ujung bangku kayu, melipat kedua kakinya ke samping. Tangannya memegang sendok plastik dengan hati-hati, matanya menatap piringnya yang hanya berisi nasi putih dan tempe orek kering.

Di sebelahnya, Rafi menyuap nasi dengan tangan telanjang, menumpuk kikil dan sambal hijau di tepi piringnya. Di seberang meja, Nara meletakkan buku catatan kecilnya di samping gelas es teh, jemarinya memegang pulpen, tangan kirinya menyuap sesendok sayur tahu. Juna duduk di antara Rafi dan Nara, mengaduk es tehnya dengan sedotan plastik hingga es batu bergemerincing.

"Masalahnya bukan sistem doang," Rafi membuka suara setelah menelan suapannya.

"Orangnya," sambung Juna pendek.

"Dan struktur akses," Nara menambahkan tanpa mengangkat wajah dari catatannya.

Alika meletakkan sendok plastiknya ke atas piring, menatap ketiga orang di depannya secara bergantian. "Jelasin."

Nara membalik halaman buku catatannya, menunjuk beberapa baris tulisan dengan ujung pulpen. "Sales bisa edit stok. Retur tinggi tapi fisik barang retur banyak yang masih bagus. Surat jalan sering telat, tapi penyebabnya bukan sopir. Ada istilah gudang satelit yang nggak ada di dokumen resmi. Biaya BBM naik tanpa kenaikan jumlah pengiriman."

Rafi meminum es teh manisnya hingga tersisa setengah, dagunya menunjuk ke arah jalan raya. "Sopir disalahin, admin ketekan, kepala gudang defensif, sales supervisor terlalu licin. Kalau ada tikus, tikusnya pakai parfum."

Alika menegakkan punggungnya, matanya menyipit. "Tito?"

Juna mengangkat kedua bahunya, meletakkan gelas es tehnya kembali ke meja. "Belum tentu dia sendiri. Tapi dia punya terlalu banyak akses untuk orang sales."

Nara meminum es tehnya perlahan, bunyi es batu berbenturan dengan dinding gelas. "Sistem yang buruk kadang memang kebetulan. Tapi sistem yang buruk dan menguntungkan orang tertentu biasanya bukan kebetulan."

Jari Rafi menunjuk wajah Nara. "Itu quote mahal. Masukin invoice."

Alika mengabaikan ucapan Rafi. Matanya menatap lurus ke permukaan meja yang basah oleh embun gelas, jemarinya merogoh kantong kemeja, menarik ponsel pintarnya. "Gue telepon Alvin."

Tangan Juna bergerak cepat, menahan pergelangan tangan Alika di atas meja. Alika menahan napas sesaat. "Jangan dulu," kata Juna.

Alika menatap mata Juna, alisnya bertaut. "Kenapa?"

"Kalau Alvin turun sekarang, semua orang bersih-bersih. Kita belum punya bukti. Baru punya bau."

Rafi mengangguk, menyeka mulutnya dengan tisu warung yang tipis. "Bau itu penting, tapi belum bisa dipresentasikan ke orang kaya."

Nara menutup buku catatannya. "Kita butuh jebakan proses."

Alika mengalihkan pandangannya dari Juna ke arah Nara. "Maksud lo?"

"Kita minta mereka simulasi sistem baru. Alur order, picking, retur, surat jalan, semua diminta jalan seperti biasa. Dari situ kelihatan siapa yang panik saat aksesnya ditutup."

Juna melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Alika, mengangguk pelan. "Kita bikin seolah-olah sistem baru bakal membatasi edit manual."

Rafi tersenyum lebar. "Dan lihat tikus mana yang pertama keluar dari plafon."

Mereka kembali ke ruang admin, Pak Suryo duduk bersamdar di kursinya. Tito berdiri di dekat lemari arsip, matanya bergerak mengikuti langkah Juna. Di depan monitor, Wulan duduk tegang, jemarinya di atas meja tanpa menyentuh papan ketik.

Juna melangkah ke tengah ruangan, berdiri di samping meja Wulan. "Pak, Bu, kami mau coba mapping alur sistem baru. Anggap saja nanti semua edit stok, retur, dan surat jalan punya log user. Jadi kita tahu siapa yang input, jam berapa, dan perubahan apa."

Kepala Wulan menunduk, matanya menatap lurus ke arah sela-sela lantai semen di bawah mejanya.

Tito meluruskan berdirinya, melangkah ke depan. "Kalau semua harus log, operasional jadi lambat."

Nara yang berdiri di sudut ruangan memutar kepalanya, menatap Tito datar. "Lambat untuk kerja, atau lambat untuk sembunyi?"

Bunyi detak jam dinding instansi di atas pintu terdengar nyaring.

Juna bergerak satu langkah, memotong jalur pandang antara Nara dan Tito. "Maksudnya, kita tetap bisa bikin akses urgent. Tapi urgent juga harus tercatat."

Tito menarik sudut bibirnya, matanya menyipit menatap Nara. "Mbak vendor-nya galak juga ya."

Alika melangkah maju ke tengah ruangan. Pandangannya lurus menatap Tito, dagunya terangkat. "Sistem yang baik memang harus bikin orang yang salah merasa tidak nyaman."

Tito mengalihkan pandangannya pada Alika, matanya menatap setelan kemeja Alika. "Mbak ini siapa tadi?"

Alika membuka mulutnya.

Juna bergeser sedikit ke depan Alika. "Tim proses kami."

Lihat selengkapnya