Pintu kaca bergeser terbuka. Udara dingin AC menyambar pori-pori, aroma pengharum ruangan rasa lemon bercampur di udara. Lobi hotel didominasi sofa kulit imitasi hitam. Dua pria dengan kemeja safari proyek duduk di pojok, gulungan cetakan biru tergeletak di atas meja kaca di antara dua cangkir kopi yang sudah dingin. Di dekat meja resepsionis, seorang pria dengan tas pinggang kulit tebal menghitung lembaran uang ratusan ribu.
Alika melangkah maju. Tangannya meraba kerah kemejanya yang mulai lembap.
Rafi berdiri di belakangnya, matanya mengedarkan pandangan ke langit-langit lobi. "Kalau bisa kamar yang view-nya bukan tembok, Al. Kita butuh inspirasi investigasi."
Perempuan di balik meja konter menghentikan ketukannya di atas papan ketik. Senyumnya tertahan di sudut bibir, matanya bergerak bolak-balik di antara pakaian Rafi dan tas kerja Alika.
Alika memutar kepala, matanya menyipit. "Dua kamar."
Rafi menaikkan kedua alisnya. "Dua?"
"Gue sama Nara. Lo sama Juna," kata Alika datar, kembali menghadap resepsionis sambil menyodorkan KTP.
Rafi memiringkan kepalanya, menatap Alika dari samping. "Ngak kebalik?"
"Maksudnya?"
"Masa gue tidur sama direktur lima juta. Jadi gay dong gue."
Nara berdiri di dekat pilar, memeluk laptopnya. "Lebih bagus kalau beneran."
Juna mengembuskan napas panjang lewat hidung, melangkah mendekat. "Lo mendingan diem deh, Nar."
Ujung jari Rafi menunjuk wajah Nara. "Ini pelecehan terhadap identitas gue yang belum gue tentukan."
"Tentukan di kamar. Jangan di lobi," balas Nara tanpa ekspresi.
Alika menekan ujung telunjuk dan jempolnya ke pelipis, matanya terpejam. "Gue mulai ragu ini keputusan tepat."
Juna mengulurkan tangan saat resepsionis menyodorkan dua kartu plastik abu-abu. "Tenang. Kita profesional."
Nara melirik ke arah tangan Juna yang mengambil kartu, lalu ke arah Alika. "Beberapa dari kita sudah telat ngomong itu."
Rafi tertawa pendek, bahunya berguncang. "Anjir. Finance nyerang pakai faktur masa lalu."
Alika membalikkan badan, berjalan lurus menuju lift yang pintunya baru saja mendenting terbuka.
Truk gandeng lewat di jalan raya, lantai semen warung tenda bergetar halus. Cahaya lampu neon putih di atas kepala berkedip. Aroma asap pembakaran ayam berbaur dengan uap solar dari knalpot dan aroma pekat sambal terasi yang digoreng.
Nara menggeser gelas es teh manisnya ke sudut. Rafi sudah menghabiskan setengah potong dada ayam. Juna menarik garis-garis lurus di atas selembar tisu makan yang mulai robek karena ujung pulpen. Di seberangnya, Alika membolak-balik lembaran kertas folio berlogo Sumber Pangan Lestari.
"Kita butuh rencana besok," kata Alika, jemarinya mengetuk pinggiran kertas.
Rafi mengunyah, tulang ayam di jarinya menunjuk ke arah piringnya. "Setuju. Tapi sebelum rencana, gue butuh tahu ayam bakar ini kenapa enak banget."
"Karena lo lapar," kata Nara tanpa mengalihkan pandangan dari baris angka di layar.
"Itu juga teori bisnis," sahut Rafi setelah menelan. "Produk biasa bisa terasa premium kalau pasarnya kelaparan."
Juna mengetuk ujung pulpennya ke atas tiga kotak yang digambarnya di tisu. "Ada tiga pintu. Satu, data stok. Dua, surat jalan. Tiga, gudang satelit."
Nara menggeser kursornya ke bawah. "Empat. Akses user Wulan yang dipakai Jumat malam."
Alika menatap baris nama di dokumennya. "Gue bisa minta Alvin kirim data akses resmi."
Juna menggeleng cepat, pulpennya tertahan di udara. "Jangan langsung. Kalau Alvin turun terlalu dalam, orang gudang pasti tahu ada investigasi."
"Terus?"
"Kita minta data atas nama kebutuhan desain dashboard. Bahasa vendor," kata Juna.
Rafi mengangkat sendok baksonya. "Buat kebutuhan mapping integrasi sistem.' Itu kalimat sakti. Semua orang takut tapi pura-pura paham."
Jari Nara bergerak cepat di atas keyboardnya. "Besok gue perlu daftar user, histori perubahan stok, data retur per area, surat jalan tiga bulan, biaya BBM per armada, rute harian."
Rafi memandangi layar dari samping. "Lo kalau minta data kayak preman minta jatah."