Matahari pagi menyinari jalan aspal. Seorang pria menuangkan kuah kaldu ke dalam mangkuk bubur di atas gerobak kayu di seberang jalan. Truk tronton bermuatan besi melintas pelan. Rafi keluar dari pintu hotel, Juna berjalan di sampingnya, menjinjing tas laptop hitam diselempangkan di bahu. Nara melangkah keluar, map plastik biru di bawah ketiak. Alika berjalan di belakang mereka, kemeja flanel polos hitam-abu-abu dan celana jins gelap membalut tubuhnya, tanpa jam tangan emas atau anting gantung.
Rafi berhenti di dekat bumper mobil, memandangi Alika dari atas ke bawah. "Wah. Hari kedua penyamaran makin niat. Tinggal kurang sendal gunung."
Alika membuka pintu belakang mobil tanpa melihat Rafi. "Gue masih punya harga diri."
Nara masuk dari sisi sebelah, tasnya diletakkan di lantai mobil. "Di gudang, harga diri nggak ada kolomnya."
Juna menunduk saat masuk ke kursi tengah, menyembunyikan tarikan tipis di sudut bibirnya.
Alika menatap Juna. "Lo kalau ketawa gue potong gaji direktur lo."
"Gaji gue udah dipotong sebelum gue nerima," kata Juna sambil menarik sabuk pengaman.
Mobil melaju, putaran roda ban mobil mengangkat debu ke udara.
Pelataran parkir gudang utama dipenuhi deretan truk engkel, asap tipis mengepul dari bawah bak kayu. Dua orang petugas admin berteriak di antara deru mesin, memeriksa nomor polisi kendaraan. Di pintu loading dock, beberapa kuli panggul memindahkan karung-karung terigu, keringat membasahi punggung kaus mereka yang bolong.
Suryo berdiri di dekat tangga pembatas kantor, memegang segelas kopi. Matanya merah, kantung matanya menebal saat melihat rombongan Juna mendekat.
"Beneran balik lagi?" tanya Suryo, suaranya parau.
Juna menjabat tangannya singkat. "Iya, Pak. Mapping proses belum selesai."
"Cepat juga," mata Suryo beralih ke arah dokumen di tangan Nara.
Rafi melangkah maju, tangannya masuk ke saku celana. "Kami vendor yang susah move on, Pak."
Suryo tertawa pendek, lalu berbalik menuju ruangannya.
Dari celah pintu kaca kantor utama, Tito berjalan mendekat. Kemeja birunya rapi, kancing kerah atasnya terbuka, matanya tidak lepas dari tas yang dibawa Juna.
"Saya kira kemarin sudah cukup," tangan Tito bertumpu di pagar besi pembatas selasar.
Nara berhenti dua langkah di depannya, menatap lurus ke arah dasi Tito. "Kalau cukup, perusahaan ini nggak perlu sistem baru."
Tito menarik sudut bibirnya ke kanan. "Galak dari pagi."
Alika melangkah maju, berdiri di antara Nara dan Tito. "Biar hemat waktu."
Mata Tito bergeram turun ke arah sepatu Alika, lalu kembali ke wajahnya, alisnya bertaut.
Di belakang bengkel armada gudang, Rafi berjalan mendekat ke arah Maman, dua gelas plastik es kopi susu di jemarinya. Ia meletakkan salah satunya di atas permukaan bangku. "Pak Maman, kopi."
Maman mendongak, tangannya masih memegang sisa tali sepatu. Matanya melirik gelas plastik itu, lalu ke arah wajah Rafi. "Wah. Vendor sistem baik amat."
"Biar nanti kalau sistemnya jelek, Bapak inget kopinya enak," Rafi duduk di ujung bangku satunya.
Maman tertawa, mengambil satu gelas, meminumnya hingga menyisakan bunyi es batu bergesekan.
Rafi menyandarkan sikutnya di lutut, matanya menatap lurus ke arah deretan truk yang mengantre solar. "Pak, kemarin Bapak sempat bilang gudang satelit."
Maman menurunkan gelas dari bibirnya. Tangannya menegang. "Saya ngomong begitu?"
"Nggak usah takut," kata Rafi tanpa menoleh, suaranya rendah, tenggelam di antara deru mesin truk terdekat. "Saya bukan HRD, bukan auditor, bukan orang pusat. Saya cuma mau ngerti rute yang bikin sopir sering telat tapi yang disalahin tetap sopir."
Maman melirik ke arah jendela kaca kantor admin yang berjarak tiga puluh meter dari mereka. "Kalau saya ngomong, saya yang kena," bisik Maman.
"Kalau nggak ada yang ngomong, Bapak juga kena terus," jemari Rafi memutar gelas kopinya.
Maman melihat ke arah pintu keluar kantor, ia mencondongkan tubuhnya ke Rafi. "Ada gudang kecil di Cibitung. Bukan punya SPL resmi. Tapi barang SPL sering mampir ke sana."
Rafi menatap truk di depannya. "Mampir buat apa?"
"Katanya sortir retur," kata Maman, suaranya makin tipis. "Tapi barang yang ke sana kadang masih bagus. Nanti keluar lagi pakai nota lain."
Rafi mengangguk pelan. "Siapa yang nyuruh mampir?"
Di ujung selasar kantor, siluet kemeja biru Tito muncul dari balik pilar beton, matanya menyapu ke arah area bengkel.
Maman berdiri, meletakkan gelas plastik setengah kosongnya di bangku. "Saya jalan dulu, Pak."
Rafi menahan napas. "Alamatnya?"
Maman berjalan memutar, menarik topi petnya ke bawah menutupi dahi. "Belakang pabrik es. Ada plang CV Mandiri Berkah Distribusi. Jangan bilang dari saya."
Langkah sepatu bot Maman menjauh ke arah bak truknya.
Dari kejauhan, Tito berjalan mendekati area bengkel, matanya mengunci posisi Rafi. Bibirnya melengkung tipis.
Rafi mengangkat gelas kopinya tinggi ke arah Tito, membalas senyuman Tito dengan lambaian tangan bebas.
Di ruang admin, Wulan duduk di kursi kerja hidrolik, jemarinya bergerak di atas numpad keyboard. Wajahnya lebih pucat dari hari kemarin, lingkaran gelap samar di bawah matanya.
Nara menggeser kursi ke sebelah meja Wulan, meletakkan laptopnya yang sudah tersambung ke kabel LAN cadangan. Alika berdiri dua langkah di belakang Nara, matanya mengawasi pergerakan kursor di layar monitor Wulan. Di dekat pintu masuk, Juna berdiri menghadap koridor luar, matanya melirik bayangan Tito yang melintas di kaca buram.
"Bu Wulan, saya butuh data retur area Cibitung," kata Nara, suaranya memotong bunyi derit printer.
Ketukan jari Wulan di atas keyboard berhenti. Kursor di layarnya berkedip di atas kolom kosong. "Cibitung?"
"Iya," kata Nara.
Wulan menarik napas pendek, jemarinya meremas pinggiran tatakan mouse. "Itu biasanya lewat Pak Tito."
"Kenapa?"
Wulan menelan ludah. "Karena dia yang pegang area itu."
Nara mengetuk baris data di layarnya, lalu memutar posisi laptopnya menghadap Wulan. "User Ibu dipakai Jumat malam buat revisi retur area Cibitung."
Wulan menatap baris kode log data yang menampilkan nama WULAN_ADM02 diikuti stempel waktu 23:14:05. Mulutnya terbuka sedikit.
Alika membungkukkan badannya, menurunkan pundaknya hingga sejajar kepala Wulan. Suaranya melembut. "Bu, kami bukan mau nyalahin Ibu. Tapi kalau akses Ibu dipakai orang lain, Ibu yang paling gampang dikorbankan."
Wulan memutar kepalanya, menatap mata Alika. Bola matanya bergetar, kedua tangannya bertumpu di atas paha, meremas kain roknya. "Saya cuma dikasih daftar revisi."
"Dari siapa?" tanya Nara.
Mata Wulan bergerak lurus menatap celah pintu tripleks yang dijaga Juna.
Juna mengikuti arah pandangan Wulan , lalu mengangguk kecil ke arah Alika. "Pak Tito?"