DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #35

35. ALVIN PRAMESWARI

Kertas laporan folio berserakan di atas karpet tipis kamar hotel, bersinggungan dengan bungkus nasi goreng. Tiga gelas plastik kopi instan menyisakan lingkaran cokelat di sudut meja, tepat di sebelah teko listrik yang badannya masih terasa hangat. Di layar monitor, kursor putih berkedip-kedip di ujung sebuah nama dokumen SPL_ASSESSMENT_AWAL_DRAFT_03

Juna duduk di tepi ranjang sebelah kiri, kedua tangannya menumpu dagu. Matanya merah, berurat halus, menatap lurus ke arah tumpukan print-out data retur yang dipenuhi coretan stabilo kuning. Di kasur sebelahnya, Rafi tidur telentang, kaki kanannya menggantung ke lantai. Nara duduk tegak di kursi kayu, jemarinya mengetik lambat.

Alika berdiri tegak di dekat jendela kaca. Dokumem pdf bergeser ke bawah di layar ponselnya. Di luar, langit pagi Bekasi abu-abu kusam. Suara klakson dari truk-truk kontainer yang terjebak macet di jalur industri terdengar samar, bersahut-sahutan membelah udara pagi.

Nara menarik jemarinya dari keyboard, lalu menekan tombol Enter. "Selesai. Versi yang nggak bikin kita kelihatan kayak nuduh orang tanpa bukti."

Juna menegakkan punggung, menarik laptop mendekat ke arahnya. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris teks di layar. "Tapi cukup buat bikin Alvin manggil kita."

Rafi mengorok pelan, lalu mengangkat kepalanya dari bantal tanpa membuka mata. "Atau cukup buat bikin Alvin nyuruh satpam ngusir kita dari Bekasi." Kepalanya jatuh kembali ke bantal.

Alika melangkah mendekati meja, mengambil alih laptop dari depan Juna. Matanya terpaku di tiga paragraf bagian ringkasan eksekutif. "Gue kirim ke Alvin."

Juna mendongak, menatap lurus ke mata Alika. "Lo yakin?"

"Nggak," jawab Alika, jempolnya bergerak menekan tombol Send di sudut kanan atas layar. "Makanya harus dikirim."

Lingkaean berputar kecil di layar laptop, lalu berubah menjadi pemberitahuan email terkirim.

Hening merayap di dalam kamar selama hampir dua menit.

Bzzzt. Bzzzt.

Ponsel di tangan Alika bergetar. Nama kontak Kak Alvin bergerak di layar ponselnya.

Alika menatap layar tiga detik. Bahunya turun sedikit, suaranya melunak saat ia menggeser tombol hijau ke telinga. "Kak."

"Kamu sudah sarapan?" Suara dari seberang telepon terdengar jernih.

Alika berkedip, matanya beralih ke arah bungkusan nasi goreng di lantai. "Belum."

"Salah," sahut Alvin dari seberang telepon. "Orang yang mau nuduh gudang bocor harus makan dulu."

Alika memutar tubuhnya membelakangi jendela, matanya beralih ke Juna, lalu ke Nara yang ikut mendengarkan. "Kakak udah baca?"

"Kakak baca ringkasannya. Kakak suka pilihan kamu."

Alika terdiam. "Mereka belum tentu benar."

"Justru itu yang Kakak suka," kata Alvin, terdengar bunyi gemerisik kertas dibalik di seberang. "Mereka belum sok benar. Mereka masih bedain bau, indikasi, dan bukti."

Alika menghela napas pelan, matanya menatap ujung sepatunya.

"Bawa mereka ke kantor. Jam sebelas," lanjut Alvin, nadanya bergeser lebih berat. "Bawa data. Jangan bawa drama."

Alika melirik Juna sekilas. "Oke, Kak."

"Li."

"Iya?"

"Kakak serius. Kamu jeli kali ini."

Alika menatap pantulan dirinya di kaca TV. "Alika cuma... nemu orang yang tepat."

"Itu juga kemampuan," kata Alvin sebelum suara klik memutus sambungan.

Alika menurunkan ponselnya ke atas meja.

Rafi membuka satu matanya, menatap Alika dari posisi telentang. "Kakak lo ramah ya."

Alika menatap ponselnya yang sudah gelap.

Rafi memutar badannya lalu duduk di tepi ranjang, merapikan kerah kemejanya yang kusut. "Itu bikin gue lebih takut."

Avanza hitam melaju membelah Tol Jakarta-Cikampek yang padat. Nara memangku laptopnya yang tertutup. Di sebelahnya, Rafi memegang segelas kopi plastik dari rest area, matanya menatap kosong ke luar jendela melihat flayover yang berkelebat melintasi mobil. Juna duduk di kursi depan, membolak-balik lembaran catatan bergaris.

Alika duduk di baris kedua, matanya menatap lurus ke papan petunjuk jalan tol yang mengarah ke Jakarta Pusat. Cahaya matahari pagi menerobos kaca mobil, memantulkan bayangan gedung-gedung tinggi yang mulai rapat.

"Jadi di depan Alvin, kita tetap konsultan lo?" tanya Juna tanpa memutar kepala, matanya melihat Alika dari spion tengah.

Alika menoleh sedikit. "Iya."

"Dia nggak tahu soal perusahaan bodong kita?"

"Nggak," kata Alika, suaranya datar. "Dan jangan ada yang keceplosan soal modal, saham, atau gaji direktur lima juta."

Rafi menarik sudut bibirnya, memutar gelas kopinya. "Waduh. Justru itu branding terkuat kita."

Nara menyahut tanpa membuka mata, bersandar di sandaran kepala. "Branding terkuat kita adalah kelihatan nggal tolol selama dua jam."

Juna mengembuskan napas panjang ke arah kaca depan. "Berat."

Alika mengalihkan pandangannya kembali ke arah Juna di depan. "Di mata Kak Alvin, kalian tim konsultan eksternal yang gue bawa. Dia nggak perlu tahu struktur di belakangnya."

"Berarti kita harus kelihatan mahal?" tanya Rafi, melirik Nara dari samping.

"Jangan. Lo nggak punya bahan baku," kata Nara, matanya masih terpejam.

Jempol Rafi menunjuk wajah Nara. "Mulut lo kalau masuk invoice, kita bisa profit."

Juna memutar tubuhnya, menatap Alika langsung dari kursi depan. "Kakak lo beneran dukung lo?"

Alika membuang muka, kembali menatap keluar jendela ke arah pagar pembatas jalan tol. "Iya."

"Terus kenapa lo kelihatan kayak takut?"

Alika diam beberapa detik. Mobil berguncang pelan saat melewati sambungan jalan layang. "Karena kalau orang ragu sama gue, gue bisa marah. Kalau orang percaya sama gue... gue harus buktiin mereka nggak salah."

Juna memutar kembali badannya menghadap depan. Nara membuka matanya sedikit, melirik ke arah Alika, lalu kembali menatap layar laptopnya yang mati.

Pintu kaca setinggi empat meter bergeser terbuka, hembusan angin dingin berbau keharuman teh hijau mewah menyapu wajah.

Langkah Juna tertahan, membetulkan letak kerah kemejanya. Rafi berjalan paling belakang, kepalanya mendongak menatap langit-langit lobi yang melengkung tinggi.

"Kalau gue teriak halo, pantulannya balik pas kita pensiun kali ya," bisik Rafi, suaranya menggema tipis di lantai marmer.

Nara berjalan lurus di sampingnya tanpa menoleh. "Jangan dites."

Alika berjalan dua langkah di depan mereka. Wajahnya lurus, matanya tidak melirik ke kiri atau ke kanan, jemarinya yang memegang map dokumen meremas pinggiran plastik hingga melengkung.

Petugas resepsionis langsung menegakkan punggung saat Alika mendekat. "Selamat pagi, Bu Alika."

Alika mengangguk singkat tanpa menghentikan langkahnya menuju lift eksekutif di ujung selasar.

Juna menatap punggung Alika dari belakang. Ketika Alika melewati barisan pembatas, petugas keamanan langsung menempelkan kartu akses ke sensor hingga lampu hijau menyala.

Ruangan lantai dua puluh empat didominasi dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah bundaran fungsional Jakarta bawah. Di sebelah kiri meja kerja utama dari kayu mahoni, dua layar monitor ganda berukuran tiga puluh dua inci yang menampilkan grafik pergerakan saham dan peta logistik. Papan tulis kaca di dinding dipenuhi coretan spidol merah tentang tahapan akuisisi. Di sudut meja kerja, bingkai perak menampilkan foto lima orang. Albert, Kartika, Alvin, Alika, dan Alvaro yang masih mengenakan seragam sekolah, semuanya berdiri di depan sebuah rumah besar.

Juna, Rafi, dan Nara duduk di sofa kulit hitam panjang. Alika duduk di kursi tunggal di seberang mereka, matanya terpaku pada pintu kayu yang tertutup.

Pintu terbuka, Alvin Prameswari melangkah masuk. Kemeja putihnya digulung setengah lengan, jam tangan berstrap kulit hitam tipis, matanya bergerak cepat menyapu jajaran sofa lalu berhenti di Alika.

"Maaf. Meeting sebelumnya mundur," kata Alvin, suaranya lembut. Ia berjalan menuju Alika. "Lik."

Alika berdiri dari kursinya. "Kak."

Alvin mengulurkan tangan, menepuk bahu Alika dua kali. Ia memutar tubuhnya, menatap Juna, Rafi, dan Nara bergantian. "Jadi ini tim yang bikin Papa ngomong lebih dari lima kalimat soal konsultan lapangan?"

Rafi mencondongkan badannya ke telinga Juna. "Kalau dia ramah begini, biasanya di belakang ada jebakan," bisik Rafi.

Alvin menarik kursi kerja utamanya, memutarnya menghadap sofa, lalu tersenyum tipis ke arah Rafi. "Pak Rafi, saya masih bisa dengar."

Rafi menegakkan punggungnya, bersandar kaku di sofa. "Baik, Pak. Mulai sekarang saya mengurangi kehidupan sosial."

Alvin tertawa kecil, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja rapat di depan mereka. "Santai. Saya belum makan orang sebelum makan siang."

Wajahnya masih mempertahankan senyum, pandangan matanya meredup, mengunci mata Juna dan Nara bergantian. "Oke. Tunjukkan ke saya. Ini bau, indikasi, atau bukti?"

Suara mesin pendingin ruangan berdesis tipis. Juna melirik ke arah Alika. Alika mengangguk.

Layar proyektor di dinding turun otomatis. Sinar lampu ruangan meredup saat slide pertama muncul.

ASSESSMENT AWAL SUMBER PANGAN LESTARI

Lihat selengkapnya