Sinar matahari pagi menembus tirai tipis kamar hotel, menerangi debu-debu yang melayang di atas meja kerja yang penuh dengan tumpukan berkas. Di tengah meja, selembar foto Tito berukuran cetak kecil diletakkan berdampingan dengan print data GPS armada dan draf spreadsheet Excel.
Nara menarik kursor ke sisi kanan layar, menunjuk baris angka yang berkedip. "Data GPS armada cocok sama jam barang keluar dari gudang satelit."
Juna mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi janggut tipis. "Berarti Tito nggak cuma nerima amplop. Dia ngatur rute."
Rafi memutar pulpen di sela jarinya, lalu menjatuhkannya ke atas meja. "Selamat. Tikus kita punya SIM."
Alika, yang sejak tadi duduk di sudut sofa, menegakkan punggung. "Estimasi kerugian?"
Jemari Nara mengetik beberapa tombol, memunculkan grafik batang merah di layar tengah. "Minimal dari retur yang dialihkan tiga bulan terakhir, empat ratus sampai enam ratus juta."
Rafi menoleh, matanya melebar. "Itu minimal?"
"Iya." Nara mengangguk.
Rafi bersiul, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Anjing. Gue nyolong pulpen kantor aja merasa berdosa."
Juna melirik Rafi dari samping. "Lo masih nyolong pulpen?"
"Fokus ke fraud besar dulu, Jun." Rafi melambaikan tangan, memotong cepat.
Juna kembali menghadap laptop, jemarinya mengetuk permukaan meja. "Rencana eksekusinya jangan langsung tuduh Tito di depan umum. Kita bikin simulasi sistem baru di depan Pak Suryo. Kita bikin wajib semua retur, surat jalan, dan perubahan stok masuk log real-time. Kalau jalurnya ditutup tiba-tiba, dia pasti panik."
Nara melirik Juna, lalu mengangguk sekali, menandai beberapa baris dokumen di hadapannya sebagai draf final.
Udara di dalam gudang SPL bercampur hawa panas dan aroma kardus lembap. Suara deru mesin forklift yang mengangkut palet kayu bersahutan dengan teriakan para pekerja bongkar muat di area loading dock. Di dalam ruang kaca administrasi, pendingin ruangan tua berbunyi mendengung kasar.
Tito berdiri di dekat meja admin, jemarinya berkali-kali mengetuk permukaan meja kayu. Di sebelahnya, Pak Suryo duduk sambil melipat tangan, gurat lelah tercetak di wajahnya.
Juna berdiri di depan layar monitor. "Jadi sistem barunya akan otomatis mencatat user, jam perubahan, lokasi armada, dan status retur. Kalau ada barang dicatat rusak, sistem minta foto barang, alasan retur, dan approval dua level."
Tito menyela, langkah kakinya bergeser maju. "Itu terlalu ribet. Operasional bisa lambat."
Nara yang berdiri di samping meja, mendongak. "Yang lambat cuma bagian yang biasanya lewat jalan belakang."
Pak Suryo menoleh, menatap lurus ke arah Tito.
Tito tertegun, lalu tertawa sambil membetulkan letak kerah kemejanya. "Mbak ini kalau ngomong tajam banget."
Rafi yang berdiri di dekat pintu menyahut sambil tersenyum. "Iya, Pak. Kami juga baru tahu setelah terlanjur rekrut."
Alika diam di sudut ruangan dekat dispenser, matanya bergerak mengamati tangan Tito yang mulai berkeringat.
Nara meletakkan dokumennya di atas meja, di depan Wulan. "Untuk simulasi, kami butuh data retur Jumat malam kemarin. Terutama area Cibitung."
Bahu Tito tampak menegang. Langkahnya bergerak mendekati Wulan. "Kenapa harus Cibitung terus?"
Juna melangkah maju, memotong ruang gerak Tito. "Karena area itu paling banyak revisi. Kalau sistem kuat di area paling kacau, area lain lebih gampang."
Tito menelan ludah, jakunnya bergerak naik-turun.
"Bu Wulan, coba buka filenya," ucap Nara pelan.
Jari-jari Wulan gemetar memegang tetikus. Layar monitor memuat baris-baris data manifes logistik. Tito bergerak maju, tubuhnya condong ke arah monitor. "Biar saya bantu jelasin. Wulan sering lupa konteks."
Nara menggeser tubuhnya, memotong pandangan Tito. "Ngak perlu. Yang saya butuh data, bukan konteks versi Bapak."
Tito menarik napas dalam-dalam, rahangnya mengetat.
Mata Suryo menyipit memperhatikan gerak-gerik Tito, ia menegakkan punggungnya. "Tito, biar Wulan aja."
Layar menampilkan catatan revisi manifes yang diinput Jumat malam jam sebelas. Nara merogoh saku, mengeluarkan tablet kecil, lalu membuka file data GPS kiriman Alvin.
"Menarik," Nara mengetuk layar tabletnya. "Armada B-9042-XU masuk rute resmi Bekasi-Cikarang. Tapi GPS-nya berhenti dua puluh tujuh menit di belakang pabrik es Cibitung."
Tito diam, matanya terpaku ke titik merah di peta digital tablet Nara.
Rafi melangkah mendekat, bersandar di tepi meja kerja. "Kebetulan di sana ada CV Mandiri Berkah Distribusi."
Juna menggeser tampilan tablet, tiga buah foto hasil jepretan kamera. Plang papan nama gudang, tumpukan kardus berlogo SPL di atas bak terbuka, dan mobil sedan hitam milik Tito yang terparkir di depan gerbang.
Juna menatap Tito tanpa ekspresi. "Pak Tito tahu tempat ini?"
Tito memalingkan wajah, tangannya meremas ujung saku celananya. "Banyak gudang di Cibitung. Saya nggak hafal semua."
Nara menggeser layar ke foto berikutnya. Foto wajah Tito melangkah keluar dari pintu kemudi mobil sedan hitam di lokasi yang sama.
Suryo menatap lurus mata Tito. Wulan menundukkan kepala.
Tito mundur satu langkah, suaranya meninggi, nadanya bergetar. "Kalian ini vendor sistem atau intel?"
Rafi menegakkan tubuhnya, melipat tangan di dada. "Vendor sistem, Pak. Cuma sistemnya kebetulan bisa lihat tikus."
Alika melangkah mendekati meja kerja, mengeluarkan ponselnya yang berada dalam panggilan video aktif, lalu meletakkannya di tengah-tengah meja, posisi layar menghadap ke arah Tito dan Pak Suryo. Wajah Alvin muncul di layar.
"Pak Tito." Suara Alvin terdengar tenang, bergema di ruangan admin.
Wajah Tito memucat. "Pak Alvin?"