Lampu neon putih di atas deretan cermin panjang mengekspos retakan bedak dan bekas sidik jari di permukaan kaca. Udara di dalam ruang makeup tersumbat kabut tebal dari perpaduan aroma hairspray, uap rokok elektrik buah-buahan, parfum manis yang menyengat, serta sisa bau alkohol yang menguar setiap pintu menuju koridor luar terbuka.
Di sudut ruangan, seorang wanita dengan gaun ketat merah marun menempelkan bulu mata palsu menggunakan pinset, di sebelahnya, seorang wanita lain duduk bersila di atas kursi, menatap layar ponsel, berbicara setengah berbisik dengan seorang anak kecil melalui panggilan video. Di sisi lain, terdengar tawa melengking beberapa wanita yang sedang menghitung lembaran uang ribuan sambil menyumpahi seorang tamu yang mereka sebut pelit.
Monic duduk menghadap cermin utama. Ritsleting belakang gaun hitamnya belum ditarik penuh, punggungnya yang polos terekspos. Rambutnya masih tertahan jepitan plastik di atas kepala. Matanya terpaku di layar ponsel yang menyala di atas meja rias.
Monic menopang dagu. Matanya perlahan melirik pantulan bayangan di sebelahnya melalui cermin.
Dita berdiri dua langkah di sampingnya, menyisir rambut hitamnya. Polesan makeup di wajahnya tidak setebal biasanya, kulitnya lebih pucat, sepasang matanya bergerak lurus dan menatap pantulan dirinya.
Monic memutar posisi duduknya. "Dit."
"Hm?"
"Lo beneran mau ambil job ini?"
Gerakan tangan Dita tertahan di udara. "Yang berdua itu?"
"Iya."
Dita menurunkan tangannya, meletakkan sisir di atas meja rias. "Kalau bayarannya bener, kenapa nggak?"
Monic kembali menatap layar ponsel yang perlahan meredup, lalu mengetuk sekali agar tetap menyala. "Karena berdua di mulut tamu kadang artinya bukan cuma berdua duduk nemenin dia nyanyi lagu Judika."
Dita akhirnya memutar tubuh, bersandar di tepi meja rias, menghadap Monic sepenuhnya. "Gue tahu maksudnya."
"Gue belum yakin lo tahu," Monic membalas lurus, matanya menyipit.
Dita menarik sudut bibirnya, kerutan tipis muncul di sudut hidungnya. "Mon, gue bukan anak baru lagi."
Monic terdiam, jemarinya meremas pinggiran ponsel.
Dendang bas dari lagu disko di room sebelah merembes melalui dinding beton, getaran konstan terasa di bawah permukaan lantai. Pintu ruangan terbuka ketika seorang wanita bergaun mini lolos masuk sambil tertawa terbahak-bahak.
Monic bangkit dari kursinya. Gaun hitamnya bergoyang saat ia melangkah maju, mencengkeram lengan atas Dita, lalu menariknya beberapa langkah menuju sudut ruangan yang lebih sepi.
"Dengerin gue dulu," suara Monic setengah berbisik, matanya menatap ke dalam mata Dita.
Dita menarik lengannya dari cengkeraman Monic, membetulkan letak tali gaunnya yang sedikit bergeser. "Apaan lagi?"
"Kalau lo mau batal, gue batalin sekarang. Gue tinggal chat Koh Andre."
"Nggak usah."
"Duit bisa dicari besok, Dit."
Dita menatap lurus ke arah loker besi di depan mereka, rahangnya bergerak naik-turun. "Ongkos kerja gue nggak nunggu besok."
"Gue bisa pinjemin," potong Monic cepat, tubuhnya condong maju.
Dita memutar wajahnya, menatap Monic. "Gue nggak mau dikasihani."
"Ini bukan kasihan, Goblok!" Monic menaikkan nadanya, matanya melebar. "Ini gue nanya lo waras apa nggak."
Dita tertawa pendek. "Gue udah dipake dua orang ganti-gantian, Mon. Dan lo masih bahas waras?"
Monic menelan ludah. Jakunnya bergerak turun.
Monic menurunkan bahunya, kepalanya menunduk. "Ini bukan gara-gara Juna, kan?"
Otot di sekitar pelipis Dita menegang selama. Kelopak matanya berkedip cepat. "Apa hubungannya sama Juna?" suara Dita datar.
"Semalam lo lihat dia pulang bareng sama Nara," Monic melipat tangan di dada. "Baju mereka lecek, mereka berdua ngilang tiga hari."
"Mereka kerja."
"Lo yang ngomong gitu, tapi muka lo nggak."
Dita mengencangkan rahangnya, urat di lehernya menegang. Ia melangkah maju. "Jangan sok tahu."
"Gue nggak sok tahu. Gue tinggal sekos sama lo, Dit. Gue tahu cara lo ngelihat dia."
Dita menarik napas dalam. "Kalau gue mau kerja, ya gue kerja. Kalau gue mau ambil duit, ya gue ambil duit. Jangan semua pilihan gue lo tarik ke laki-laki."
Monic menatap sepasang tangan Dita, ia mengembuskan napas panjang, jepitan plastik di rambutnya bergoyang.
"Oke," Monic mengangguk sekali. "Tapi kalau nanti di dalam lo nggak nyaman, kasih kode ke gue."
Dita menaikkan sebelah alisnya. "Kode apa?"
"Lo bilang air putih. Sekali aja lo sebut kata itu, gue stop semuanya. Gue tarik lo keluar dari room."
Dita menatap Monic lama, matanya menyusuri garis wajahnya "Lo pikir gue selemah itu?"
"Gue pikir lo lagi pengen kelihatan nggak lemah," balas Monic lurus.
Dita berbalik memunggungi Monic, melangkah kembali ke depan cermin.
Koridor klub malam diapit oleh dinding berlapis peredam suara yang dilapisi beludru gelap. Di ujung koridor, papan akrilik berbentuk angka 09 menyala terang. Seorang waiter berjalan mendahului mereka, membawa ember aluminium berisi es batu dan dua botol minuman keras.
Monic berjalan di depan, Dita berjalan di sampingnya, pandangannya lurus ke depan, dagunya terangkat sedikit.
Monic menghentikan langkahnya sebelum mencapai gagang pintu besi room 09. Tubuhnya berputar menghalangi jalan Dita.
"Terakhir," ucap Monic, tangannya tertahan di udara, bersiap mengetuk pintu.
Dita menghentikan langkahnya, matanya melirik ke atas. "Mon..."
"Gue cuma nanya sekali lagi. Lo yakin?"
Dita mengalihkan pandangannya dari wajah Monic. "Yakin."
"Bukan karena marah?"
Dita menarik napas pendek. "Gue selalu marah."
Monic menatap kerutan di dahi Dita.
"Tapi malam ini gue dibayar buat itu," lanjut Dita.
Monic menahan napas, tangannya bergerak maju, mengetuk pintu besi tiga kali.
Dari dalam, suara pria paruh baya menyahut. "Masuk."
Monic menarik napas panjang melalui mulut, lalu mendorong gagang pintu ke bawah.
Koko Andre duduk tepat di tengah sofa. Usianya sekitar kepala empat, mengenakan kemeja katun bergaris vertikal, dua kancing atasnya terbuka. Perutnya sedikit menyembul di balik lingkar sabuk kulit, jam tangan emas berkedip setiap kali pergelangan tangannya bergerak. Ia tersenyum, matanya menyipit saat melihat Monic dan Dita melangkah masuk.
"Nah. Ini baru komplit," Andre membetulkan posisi duduknya, tubuhnya condong ke depan meja.
Monic memasang senyum lebar. "Malam, Ko."
Dita menarik sudut bibirnya, lalu berjalan mendekati meja tanpa suara.
Andre mengalihkan pandangannya dari Monic, matanya mengunci pergerakan tubuh Dita dari bawah ke atas. "Yang ini makin cantik aja."
Dita duduk di sisi kanan Andre, menyilangkan kakinya, gaun satinnya terangkat di atas lutut. "Yang penting bayarannya juga makin cantik."
Andre tertegun sejenak, lalu tertawa, perutnya berguncang di balik kemeja. "Galak."
Monic duduk di sisi kiri Andre, memotong jarak agar perhatian pria itu terbagi. Tangannya bergerak cepat meraih botol minuman yang baru dibuka, menuangkannya ke dalam tiga gelas kaca kecil berisi es.
Monic menggeser satu gelas ke depan Andre, lalu meletakkan satu tangan di atas lutut pria itu. "Aturannya sama kayak di chat ya, Ko. Bayar di depan."
Andre terkekeh, jari telunjuknya menunjuk ke arah amplop cokelat tebal tergeletak di samping wadah es. "Udah gue siapin. Nggak bakal kurang."
Tangan kiri Monic meraih amplop, membuka di bawah meja, jemarinya bergerak cepat menghitung tumpukan lembaran uang berwarna merah di dalamnya.
Dita memperhatikan pergerakan tangan Monic dari samping tubuh Andre. Monic memasukkan amplop ke dalam tas kecilnya, lalu menarik ritsletingnya.
"Oke. Malam ini jangan aneh-aneh di luar kesepakatan ya, Ko."
Andre berputar ke arah Dita, menatap lekuk leher Dita yang terbuka. "Kalau yang minta aneh-aneh bukan saya?"