DI BALIK LAMPU IBUKOTA

Arata Kaivan
Chapter #38

38. JNR SOLUTION

Papan akrilik putih PT JNR SOLUTION - Business System, Digital Operation & Process Consultant terpasang tegak di atas pintu masuk ruko tiga lantai. Huruf-hurufnya memantulkan cahaya matahari pagi Jakarta. stiker vinil persegi kecil bertuliskan TAMU HARAP LAPOR RESEPSIONIS di bagian bawah pintu kaca yang bersih dari bekas sidik jari,

Di balik meja kayu minimalis, seorang wanita muda duduk tegak menghadap monitor komputer. Tali ID card biru dongker melingkar di lehernya, menahan kartu plastik tulisan cetak tebal Mira - Customer Support. Di sudut meja, telepon kantor digital sesekali berkedip lambat tanpa suara.

Pintu kaca ruko terdorong ke dalam, Anto melangkah masuk. Langkah sepatu kulit hitamnya berdecit pendek di atas ubin porselen yang baru dipel. map jepit plastik hitam dari Nexus Web Solution terselip di bawah ketiak kirinya. Matanya menyapu sekeliling ruangan, menatap dispenser air, jajaran brosur yang tertata di rak dinding, lalu berhenti tepat di logo akrilik di belakang meja.

Mira berdiri, menyatukan jemari tangannya di depan perut, lalu ternsyum. "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa dibantu?"

Anto menghentikan langkah di depan meja. Dagunya terangkat sekilas. "Gue mau ketemu Juna sama Rafi."

Jemari Mira bergerak di atas keyboard. "Sudah ada janji sebelumnya, Pak?"

Alis Anto bertaut. "Janji?"

"Iya, Pak. Kalau belum ada jadwal di kalender meeting hari ini, saya konfirmasi ke dalam terlebih dahulu," suara Mira datar.

Anto menahan napas. Bahunya menegang, lalu perlahan mengendur. Matanya turun, membaca huruf-huruf di ID card yang menggantung di kemeja Mira. "Nama kamu siapa?"

"Mira, Pak."

Anto memajukan tubuhnya, mengetukkan ujung map plastik ke tepi meja kayu. "Mira, saya dulu atasan mereka. Dua-duanya."

Mira menatap mata Anto. "Baik, Pak. Tapi sekarang Bapak tamu."

Mata Anto menyipit menatap Mira, ujung bibirnya berkedut menahan tawa. Ia menarik kembali mapnya, lalu menunjuk Mira dengan ujung map. "Bagus," suaranya serak. "Jawaban kamu ngeselin, tapi bener."

Mira menundukkan kepala. "Terima kasih, Pak. Nama Bapak?"

"Anto. Dari Nexus."

Jemari Mira kembali bergerak di atas keyboard. "Baik, Pak Anto dari Nexus Web Solution. Mohon tunggu sebentar di ruang tunggu."

Anto berbalik, mengembuskan napas panjang, lalu mengempaskan tubuhnya ke salah satu sofa busa abu-abu di sudut ruangan. Map Nexus diletakkan di atas paha kananny. Pandangannya menatap jadwal kunjungan harian dengan tulisan spidol rapi do papan tulis kecil di dekat koridor.

Langkah kaki terdengar mendekat dari arah koridor pantry. Seorang laki-laki muda mengenakan polo shirt hitam keluar membawa nampan kayu kecil berisi dua gelas kopi kaca, bordiran benang putih bertuliskan JNR SUPPORT TEAM di dada kirinya. Anto menoleh membaca nama Deni di Id Card plastik tergantung di sakunya,

Deni berhenti tepat di depan sofa Anto duduk, lalu menurunkan nampan ke atas meja kaca kecil. "Pak Anto dari Nexus, ya?"

Anto menatap bordiran di dada Deni, lalu beralih ke wajah laki-laki itu. "Iya."

"Kopi, Pak?" Deni menyodorkan salah satu gelas, uap tipis mengepul.

Anto menerima gagang gelas. Matanya masih tertuju pada ID card Deni. "Lo kerja di sini?"

"Iya, Pak," Deni menegakkan badan, merapikan letak nampan kosong di pinggangnya. "Facility Officer."

Anto menurunkan gelas dari bibirnya sebelum menyeruput. "Bagian apa?"

"Facility Officer, Pak."

"Bahasa manusianya?"

Deni tersenyum lebar, matanya menyipit. "Cleaning sama bantu-bantu kantor."

Anto mengangguk lambat. Kelopak matanya turun. "Oh. OB."

"Kalau di slip gaji mungkin begitu tulisan standarnya, Pak."

Suara langkah berat dari arah tangga samping memotong obrolan. Seorang laki-laki lain muncul, memanggul satu galon air mineral penuh di bahu kanannya. Polo shirt hitam yang dipakainya sama persis dengan Deni. Mata Anto menyipit, membaca nama UCUP - OPERATIONAL SUPPORT di Id card yang tergantung di saku dadanya.

Anto menggeser posisi duduknya, daguny menunjuk Ucup. "Kalau dia?"

Deni menoleh ke arah tangga, lalu kembali menatap Anto. "Itu Head of Galon and Floor Movement."

Anto diam sbeberapa detik, gelas kopi di tangannya tertahan di udara.

Ucup menghentikan langkahnya di dekat dispenser lobi, menurunkan galon air, pantat botol membentur lantai. Ia menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu menatap Anto. "Kenapa, Pak?"

Anto mengacungkan jari telunjuknya ke arah galon. "Lo kepala divisi galon?"

Ucup membetulkan letak kerah polo shirt-nya. "Sementara, Pak. Kalau perusahaan berkembang dan nambah lantai, saya pegang floor movement doang. Angkat-angkat meja."

Anto memejamkan matanya. Ia menghirup uap kopi dari gelasnya, lalu menyesap kopinya sedikit demi sedikit. "Anjing," gumam Anto. "Perusahaan ini udah mulai berbahaya."

Deni yang masih berdiri di samping meja melipat tangannya di depan dada. "Berbahaya dalam arti profesional, Pak?"

"Dalam arti gue belum tahu ini kantor beneran atau tongkrongan yang dikasih akta," Anto meletakkan kembali gelas kopinya.

Di ruang rapat berukuran empat kali empat meter di lantai dua, papan tulis putih besar mendominasi dinding sisi kanan. Tulisan QUARTER 1 REVIEW - JNR SOLUTION di bagian atas ditulis dengan spidol hitam.

Tabel besar membagi informasi menjadi beberapa kolom vertikal di bawah judul.

GLOWINC

SUMBER PANGAN LESTARI

PRAMES LOGISTICS SUPPORT

PRAMES RETAIL DISTRIBUTION

PT BUMI ARTA DISTRIBUSI

CV HARAPAN JAYA PRINTING

KALA KOPI GROUP

Lihat selengkapnya